Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Tuduhan Selingkuh


__ADS_3

Tiba di rumah, waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Keira segera membersihkan diri sebelum menyiapkan makan malam meskipun hanya untuk mereka berdua.


"Bii.. bibii..." seru Keira memanggil art yang bertugas membersihkan rumah hari ini.


"Apa udah pulang?" gumamnya bermonolog. Dia mengelilingi tiap sudut rumah dengan handuk masih bertengger di kepalanya.


"Sayang, kamu liat bibi gak?" tanya Keira pada Hendra yang sedang membuat kopi.


"Tadi udah pamit pulang waktu kamu mandi. Ada apa? Apa ada yang terlupa?" ujar Hendra.


"Iya mau nanyain bathrobe aku yang di kamar mandi- ah mungkin udah dicuci kali ya" Keira lantas mengayunkan langkahnya ke ruangan khusus menjemur.


"Ha.. ketemu" Keira menemukannya, lantas merogoh tiap saku nya.


"Gak ada.. hah.. apa dibuang?" Keira mulai panik. Dia kembali menaruh bath robe nya dalam keranjang lalu bergegas ke dapur.


"Sayang, kamu ngapain ngacak ngacak tempat sampah?" tanya Hendra terheran dengan perilaku istrinya yang tak biasa.


"Eeeh.. aku.. aku kehilangan sesuatu.." Keira melanjutkan pencariannya untuk menghilangkan kegugupannya.


"Apa yang hilang?"


"Ada lah. Makanya aku nyari bibi. Dari tadi dia kan beberes rumah, siapa tau dia nemu"


"Ya udah aku bantu ya. Emang barang apaan"


"mmm.. cincin.." bohong Keira.


"Cincin? cincin kawin?"


"hah? i.. iya.."


"Kamu itu gimana sih, yang ada di jari kamu cincin apaan? cincin kawin kan yang dari aku?"


"Bu.. bukan yang ini..mmm"


"Maksud kamu cincin kawin yang lain? dari siapa?"


"Aduuuh.. gini nih kalo nge boong. Alamat panjang kan urusannya" batin Keira.


"Ya pokoknya ccincin"


"Kamu yakin kalo bibi nemu cincin dia buang? paling dia taro di meja kamar" Hendra terheran dengan keanehan Keira.


Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu?


Pikir Hendra yang terus memperhatikan gelagat gugup Keira.


Sungguh, Keira tak bisa berbohong. Jika dia melakukannya, siapapun bisa menebak nya, tak perlu memanggil seorang ahli mikro ekspresi.

__ADS_1


Hendra langsung mendekapnya dan mengecup kepalanya.


"Udah. Kalo ilang kita beli lagi ya. Kamu jangan panik gini dong. Bikin hawatir tau gak" lagi, Hendra mengecup kepalanya.


Keira mendongak, menatap manik abu matanya. Namun mata Keira berkaca kaca.


"Tapi itu gak bisa didapet dimana mana"


"Yaudah, nanti kita tanya bibi ya. Atau sekarang kita susulin ke rumahnya aja?"


"Gawat. Kalo ke rumahnya Hendra pasti tau tentang surat itu dan bertanya isinya. Mana udah aku bilang cincin yang ilang, kok tiba tiba jadi surat" monolog Keira dalam hati.


"Gak usah. Nanti aja kalo dia kesini lagi" akhirnya Keira harus bersabar.


"Semoga bibi gak ngebuang surat itu. Apa lebih baik dibuang aja ya?" Keira berperang dengan pikirannya.


"Sayang udah dong. Jangan jadi kepikiran" Hendra mengusap kepalanya.


"Aku mau cuci tangan dulu. Abis acak acak sampah" Keira mengalihkan perhatian. Dia tak nyaman berdekatan seperti ini kala sedang berbohong. Dia takut Hendra curiga dan bertanya. Dia tak berniat menyembunyikan sesuatu, hanya saja dia tak tahu bagaimana cara menyampaikannya.


"Apa surat itu yang dia maksud? kenapa dia menyimpannya sendiri? darimana dia dapet?" kini Hendra yang bermonolog.


Hendra cukup terpukul dengan kenyataan yang baru dia temukan.


Keira bahkan langsung kembali ke kamar setelah cuci tangan.


"Sayang, kamu mau makan a- pa.. apa itu?" pertanyaan Keira menggantung kala melihat apa yang di pegang Hendra.


"Ah, ini.. surat gak penting. Aku makan apa aja yang kamu masak"


"Oh.. oke.." jawabnya pelan.


Keira berkeringat.


"Dapet dari mana surat itu, kenapa ada sama dia?" batinnya panik.


Hendra kembali melirik beberapa lembar surat itu. Dia ingin tahu reaksi Keira. Dia ingin istrinya ini jujur.


Keira memilih melanjutkan niatnya untuk memasak.


Beberapa kali jari Keira teriris karena tak fokus, namun tak mengaduh agar tak membuat Hendra curiga.


Tetap saja tanpa Keira ketahui, Hendra yang berada dibelakangnya memperhatikan gerakan kecil spontan Keira saat jarinya teriris.


Hendra tahu kalau Keira sedang tak fokus.


Hendra heran dengannya, apa yang Keira fikirkan hingga dia memilih menyembunyikan dan berbohong padanya.


"Menurutmu istri seperti apa yang tega membohongi suami?" tanya Hendra tiba tiba.

__ADS_1


csss


"ahh..."


Keira reflek mengaduh saat tak sengaja menyentuh pinggiran wajan.


Hendra langsung bangkit dan berjalan dengan santai menuju kamar mandi lalu mendekat padanya, dia lantas mengoleskan pasta gigi pada luka bakar Keira. Suatu pertolongan pertama yang dia percaya bisa mencegah kulit yang terkena panas wajan akan menggembung dan menimbulkan luka yang lebih parah.


Keira memperhatikan raut wajah Hendra yang terkesan dingin.


Jika biasanya Hendra akan langsung panik dan loncat kearahnya kala dia luka sedikit saja, maka kali ini dia lebih tenang dan dingin dalam menghadapinya.


"Kamu mikir apa dari tadi sampe gak fokus gini?" tanya Hendra sedikit ketus.


Keira menggigit bibir bawahnya karena sikap Hendra yang membuatnya ketar ketir.


"Tuh kan dia marah. Coba aja surat itu aku aku telen kemaren" batinnya.


"Tadi.. tadi kamu kenapa nanya gitu? emang siapa yang bohongin suami?" Keira bertanya balik.


"Ooh.. pengen nanya aja" jawab Hendra acuh.


"Kalo kamu yang dibohongin gimana, kalo aku sih mending jujur aja sesulit atau separah apapun. Manusia kan gak ada yang sempurna"


"Ya gak mau lah. Mana ada yang mau diboongin" gerutu Keira memanyunkan bibirnya.


Biasanya Hendra akan gemas kala melihat sikap Keira yang seperti ini. Namun sekarang, entahlah, Hendra masih menunggu bibir cerewet itu mengeluarkan kata ajaib.


"Dah, aku mau masak lagi" hanya kata itu yang akhirnya terucap.


Hendra sedikit kecewa, tapi dia akan menunggu. Mungkin Keira tak tahu harus bicara apa padanya. Karena ini menyangkut dua orang yang pernah hadir di hidup mereka.


"Bagaimana dengan cincin itu, apa kamu mau ngomong sesuatu tentang cincin itu?" Hendra kembali memancingnya.


"Cincin apa?" reflek Keira yang kemudian melipat mulutnya karena keceplosan.


"Sialan" batinnya.


Alasan yang jadi bumerang untuknya.


"Hehe.." Keira tak bisa mencari alasan lain. Dia hanya bisa tersenyum kaku.


"Aku tak pernah melihat cincin lain milikmu. Apa itu dari seseorang?"


"Hah? kok mikirnya gitu? Seseorang siapa? Lagian aku kan selalu sama kamu terus. Ya kecuali kalo kamu kerja. Mana sempet aku ketemuan sama orang lain" sanggah Keira dengan nada sedikit meninggi.


"Ya kan siapa tau, waktu aku kerja kamu ketemuan sama seseorang" Hendra sebenarnya sedang membahas kasus istrinya.


"Kamu nuduh aku selingkuh, gitu?

__ADS_1


__ADS_2