
"Hai-" sapaan Hesty terpotong kala melihat Arga tengah melakukan konfrensi online melalui laptopnya di ruangan khusus sistem keamanan komputer.
Hesty tak banyak bicara. Dia menempatkan dirinya duduk disebrang meja terhalang laptop Arga.
Menata makanan yang sudah dia beli di cafetaria tadi.
Setelah itu dia mengalaskan sepiring nasi beserta lauk dan dia tempatkan di pinggir laptop. Tak lupa membuka tutup air mineral dalam kemasan botol.
Setelah itu dia melakukan hal yang sama untuk dirinya.
Karena Arga tak kunjung selesai, Hesty memakan makanannya lebih dulu karena waktu istirahat semakin pendek.
Sebenarnya dia berharap bisa ngobrol panjang lebar dengan si anak baru yang gantengnya kelewat batas.
Masih ada sisa 15 menit. Hesty sudah menyelesaikan makan siangnya. Namun Arga tak kunjung selesai.
Hesty memandanginya intens. Mengamati dan menikmati ketampanan Arga sambil menautkan kesepuluh jarinya dan menggunakannya untuk menopang dagunya.
"Iya aku lagi istirahat sambil ngerjain tugas ini. Kamu.. udah makan belum?"
"......."
"Hahaha... mau aja disuapin. Nanti kalo udah waktunya aku suapin tiap hari"
Senyum Hesty surut kala mendengar penuturan Arga yang tampaknya sedang melakukan panggilan telfon bersama seseorang yang ia duga adalah kekasihnya. Karena dari intonasi suaranya sangat lembut dan terlihat malu malu. Selain itu, senyum orang yang sedang jatuh cinta terus mengembang kala berbicara dengan lawan bicaranya diseberang sana. Meskipun sambil menatap layar laptop.
"Iya sayaang..."
Arga menutup matanya dengan sebelah tangan kala mengatakan itu.
Terlihat malu malu.
Arga sebenarnya tak menyadari kehadiran Hesty di depannya. Karena kondisi ruangan yang tampak gelap namun laptop menyala terang.
Hesty geram karena merasa tak dianggap. Dia lantas menggebrak meja dan bangkit karena kesal.
brakkk
"Astaghfirullah..." Arga terhenyak karena terkejut.
Benar benar terkejut.
Dia melihat penampakan yang cukup mengerikan didepannya.
Rambut panjang, dengan mata membola.
Arga lantas melafalkan ayat kursi agar penampakan didepannya menghilang.
"Kamu pikir aku setan, hah?" Hesty tambah geram lalu melempar botol air mineral yang kosong kearahnya.
Setelah itu dia pergi sembari menghentak hentakan heels nya.
Arga terus merapalkan ayat ayat suci al-qur'an agar dilindungi dari gangguan setan yang baru saja pergi.
__ADS_1
Setelah dirasa aman karena penampakan yang sudah tak terlihat, Arga mengelus dada sembari menghembuskan nafas kasar. Merasa lega.
Lalu matanya melihat makanan disebelah laptopnya, sontak kepalanya kembali menoleh kearah pintu, lalu bangkit mendekati pintu.
Dan berteriak.
"Tan.. tan.. ni sajen nya ketinggalan.."
👻👻👻
Hesty terus melangkah dengan kasar sembari bibirnya tak berhenti mengeluarkan umpatan umpatan yang hanya dia yang mengerti.
"Napa lo muka ditekuk gitu, hahaha..." sapa Tommy yang sudah tahu hasil dari pendekatan yang dilakukan nya pastilah nihil.
"Nyebelin tuh anak baru, songong dasar. Abis mesra mesraan didepan gue malah ngatain gue setan. Ashu emang" dumel Hesty yang membuat Tommy semakin menyemburkan tawanya.
"Lagian cowok cakep kek gitu disamperin. Ya pasti dah ada pawangnya. Elu aja yang ke pedean. Kalo cowok muka pas pasan kek gue baru boleh lo deketin. Pasti masih single"
Tommy menggodanya sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Emang lo mau gue deketin?"
Tanya Hesty yang jiwa jomblonya kini meronta ronta. Dia pikir gak apa apa lah muka pas pasan, yang penting ada yang traktirin makan sama jajan tas branded.
"Enggak"
Jawab Tommy tegas yang langsung terbahak meninggalkan Hesty yang kini semakin cemberut.
tok
tok
"Masuk"
"Pak, maaf. Ada nona Aretha ingin bertemu bapak"
"Retha? suruh masuk" Hendra terheran dengan kedatangan putri semata wayangnya.
"Papaaaa....." Aretha menghambur masuk dengan cerianya. Lalu memeluk sang papa dengan erat. Rona bahagia terpancar diwajahnya.
"Anak papa seneng banget" Hendra mengecup pucuk kepala sang anak.
"Pa, mobilnya genti sama motor ya?"
Tanpa basa basi Aretha menyampaikan maksud kedatangannya.
"Motor? kenapa? Apa mobilnya kurang update?"
Aretha menggeleng.
"Jalanan macet papa sayaang. Retha pasti kesiangan kuliahnya karena kejebak macet" keluh Aretha yang tetap menampakkan deretan gigi putihnya.
"Tapi nanti kamu kepanasan, belum debu, terus nanti-"
__ADS_1
"Mulai deh kek emak emak. Fix ini mah papa harus ada pawangnya biar diem"
Aretha melepaskan rangkulannya dari pinggang sang papa.
Dia lantas mendekati karangan bunga yang tertata cantik dalam vasdiatas meja yang berada di sudut ruangan tepat didepan kaca gedung.
Aretha tersenyum melihat karangan bunga itu.
Aretha menunduk untuk menghirup wangi bunganya.
"Hmmm... wangi Arga" batinnya dengan wajah memerah.
"Ya pa, yaa.. pliiiis.. kalo ga Retha jual aja mobilnya buat beli motor matic. Ok. Dah papaaaaa...." Aretha mengecup pipi sang papa yang masih terbengong dan berfikir tentang keselamatan sang anak jika menggunakan kendaraan beroda dua. Dia lantas melompat lompat dengan ceria meninggalkan ruangan.
"Retha.." teriak Hendra memanggil sekaligus menghentikan langkah Aretha.
"Kenapa mobilnya harus dijual dulu? Nanti kalo kamu perlu mobil gimana? ya udah kalo emang mau motor nanti papa beli lagi"
"Gak boleh gitu, papaaa... gak boleh boros. Lagian kalo Retha butuh mobil kan mobil papa banyak. Emang papa mau pake semua mobilnya? enggak kan. Kata mami Flo, kita harus inget perjuangan awal kita merintis sesuatu. Jangan karena kita banyak uang lantas kita boros segala dibeli. Koleksi itu tidak baik. Mending uangnya dipake buat bantu orang yang kesusahan"
Ucapan Aretha yang mengutip wejangan dari Keira membungkam Hendra seketika.
Hendra jadi penasaran dengan sosok wanita yang selalu disebut oleh putrinya ini.
"Hhhhh... ya sudah.. terserah kamu aja. Anak papa ini tambah pinter ngomong ya" Hendra mengecup samping kepala Aretha.
"Makasih papa"
Aretha kembali memeluk sang papa dengan senang.
Bagaimana tidak.
Kesempatan modus agar bisa berboncengan dengan Arga sang kekasih, bisa berjalan dengan lancar.
Motor trail yang selalu dikendarai Arga terlalu tinggi baginya.
Dia berencana membeli motor yang harganya merakyat.
"Bro, lu kemana aja? ngerem terus di kandang, jadi ga sempet liat yang seger tadi" sapa Tommy yang menepuk sebelah bahu Arga saat melihat Arga baru keluar dari pintu lift.
"Ya namanya dibagian keamanan pasti harus stand by laah. Nanti kalo kecolongan lagi bisa bisa di PHK sebelum gajian dong" tukas Arga.
"Emang apa yang seger?" lanjut Arga bertanya.
"Anak si bos dateng tadi siang. Bikin heboh satu kantor"
"Anak bos? emang kenapa?"
"Beuuuuh... belum tau aja lu cakepnya gimana anak gadis si bos. Kalo lo liat juga pasti klepek klepek"
"Heh.. cakepan cewek gue kemana mana lah. Udah ah, Gue cabut dulu. Mo kekampus lagi"
SAJEN MANA SAJEN😆
__ADS_1