
Seperti biasa, Keira dengan telaten mengobati luka infeksi Hendra yang sudah tak terlihat.
Jika biasanya rudal itu mengkerut, kini dia menampakkan diri dengan gagahnya.
glek
Keira menelan ludah. Bagian bawahnya tiba tiba berdenyut.
Sebisa mungkin dia menahan diri sampai dokter menyatakan jika luka infeksi Hendra sudah sembuh.
Dan besok adalah jadwal kontrolnya.
Hendra memperhatikan ekspresi Keira, apalagi cara menggenggam sang jagoan yang mulai menggeliat geliat mencari kehangatan pemiliknya.
Uhh.. Hendra pun merasa tak tahan ingin segera bertarung kembali.
Hendra meraih dagu Keira agar menatapnya.
"Kamu.. sudah kepingin ya, sayang" Hendra menatapnya dalam.
Keira tersenyum
"Aku akan menunggu-hmmpp"
Hendra menyambar bibir Keira dan melu matnya dengan gairah membara.
"Aku juga udah kepingin.. gimana dong"
"Tunggu.. tunggu hasil besok, sayang.." Keira membalas ciuman ganas Hendra.
"Tapi.. aku gak bisa nunggu.."
Keira lantas menarik Hendra ke kamar mandi, membasuh rudalnya yang sudah dibubuhi soda kue lalu menariknya kembali ke kamar sambil terus membalas ciuman ganas Hendra.
Keira lantas mendorongnya terlentang di ranjang, membuka seluruh pembungkus miliknya lalu meraih olive oil.
Dengan insting nya, dia memposisikan miliknya diatas wajah Hendra sehingga Hendra bisa memanjakan miliknya dan dia juga bisa memanjakan milik Hendra dengan mengoleskan olive oil dan mengurut rudalnya yang sangat menggugah selera.
Ingin rasanya Keira menerkam dan menggigitnya bahkan mengunyahnya hingga habis kalau bisa.
Tapi nanti main apa dong, neng🤔
Hendra menggelinjang sambil lidahnya terus memanjakan inti Keira.
Dia tak menyangka Keira punya cara alternatif dalam memenuhi kebutuhannya.
Teriakan dan erangan yang saling bersahutan menambah kadar sensasi yang menggiring mereka menuju puncak secara bersamaan.
Keduanya melemas, setidaknya libido yang tersalurkan tak menambah daftar penyakit meski dengan cara seperti ini.
Hendra sangat berterima kasih pada istrinya.
"Tunggu besok, sayang. Aku akan membalas kebaikanmu" ucap Hendra parau.
Nanggung gak tuh🤭
Waktu menunjukan pukul 10 malam. Hendra tak bisa tidur. Dia terus menghitung waktu.
"Hadeeeh.. keong aja jalannya lebih cepet dari kamu" omel Hendra pada jam weker.
Tangan Keira terangkat dan jarinya menutup paksa kelopak mata Hendra.
__ADS_1
"Kalo kamu gak tidur besok gak jadi tarung" ancamnya membuat mata Hendra membeliak lalu dipejamkan paksa.
"Tidurlah tidurlah tidurlah.." gumamnya mengucap mantra.
"Hendra, aku jadi gak bisa tidur ini" keluh Keira yang memang sedari tadi juga tak bisa melelapkan kesadarannya.
"Ronde 2?"
......................
Baru juga terlelap, jam weker meledek memaksa mata merah mereka terjaga.
"Udah pagi, yang. Kita harus cepet biar dapet antrian pertama" ujar Hendra yang langsung melesat lebih dulu ke kamar mandi.
"Sayang.. ko aku ditinggal.. mandi bareng ih biar cepet" rengek Keira sambil menggedor pintu kaca buram.
"Kamu di kamar tamu aja. Kalo bareng malah tambah lama" teriak Hendra dengan ucapan yang kurang dimengerti, tapi Keira mengerti maksudnya. Tampaknya Hendra sedang gosok gigi.
" Kenapa gak ngomong dari tadi" gumam Keira yang juga terburu buru turun ke bawah untuk mandi di kamar tamu.
"Siapa di dalem" teriak Aretha menggedor pintu kamar mandi di kamar tamu.
"Mamii.." teriak Keira.
"Aduuuuh...maaaam.. udah gak tahan niiih.. mo keluaar... cepetaaan..."
Aretha panik sambil memampatkan bokongnya agar tak lepas landas.
Sudah 3 hari Arga dan Aretha tinggal serumah dengan mereka. Keira khawatir dimasa trimester pertama kehamilan Aretha tak ada yang membantunya menyiapkan segala persiapan mereka yang hendak bekerja. Hendra secara bertahap mulai melepas perusahaan pada Arga. Meski tetap mengawasi, namun sebisa mungkin jika tak terlalu urgent, maka dia tak perlu pergi kekantor.
ceklek
"Kamu siapin sarapan sendiri ya, mami buru buru"
Hendra gugup selama didalam mobil. Padahal jalanan belum padat karena mereka keluar lebih awal.
"Kenapa jalannya panjang amat sih" kesal Hendra sambil menatap lurus kedepan.
"Yang panjang itu punyamu" goda Keira sambil memiringkan tubuhnya menghadap Hendra.
Hendra meliriknya sekilas.
"Udah deh, yang. Jangan mancing mancing" tukas Hendra tambah gugup.
Tiba tiba Hendra tak sengaja melindas lubang kecil saat matanya melirik pada Keira sehingga terjadi guncangan dalam mobil.
"Aww... pelan pelan sayaaang.." seru Keira dengan suara parau nan mende sah.
"Flo..." geram Hendra.
"Iya, sayaaang..."
Hendra seketika melakban mulutnya rapat rapat. Tampaknya apapun yang dia semburkan malah jadi bumerang untuknya.
"Awas kamu ya kalo nanti aku dinyatakan sembuh" gumam Hendra akhirnya tak kuat untuk menyuarakan isi kepalanya.
"Ahhh.. aku takuuuut...hhh... takut gabisa berentiihh.."
Astoge Keira😂😂aku gakuat ngetiknya
Benar saja, saat mereka datang ke bagian pendaftaran, mereka pasien pertama untuk bagian dermatologi.
__ADS_1
"Bapak Hendra silah- kan masuk" ucapan perawat yang memanggil namanya terpotong kala Hendra dengan cepat melompat dari kursi tunggu berbahan stainless itu dan langsung melesat kedalam ruangan sambil menarik sang istri.
Setelah pintu ditutup oleh perawat, pintu itu kembali dibuka dan sang perawat didorong keluar oleh Keira.
Dokter Bambang hanya tertawa melihat kelakuan pasiennya.
Hendra dengan inisiatif berbaring diatas brankar sebelum dipersilahkan. Tapi dia ragu ragu membuka celananya. Pasalnya sedari malam rudal itu sudah siap tempur.
"Baiklah, to the point ya" sang dokter pun bangkit dan melangkah perlahan kearah brankar sambil menahan senyum.
"Hadeeeh lama amat ni aki aki" gerutu Keira gemas dengan langkah santai sang dokter yang seolah mengejek mereka.
"Gak tau apa lagi keadaan darurat" tambahnya lagi sambil menggigit bibirnya agar tak keceplosan.
"Bisa buka celananya?" pinta sang dokter.
Hendra melirik pada Keira yang langsung mengangguk.
"Bismillahirrohmanirrohim" ucap Hendra semoga do'a nya terkabul.
Dia lantas membuka celananya dengan tangannya sendiri.
tuing
"Ahh-" desah Keira reflek saat melihat penampakan sang jagoan, dan langsung membekap mulutnya sendiri.
Sang dokter sempat meliriknya, lalu menggelengkan kepala.
Dokter Bambang meniliknya dengan serius.
Depan - belakang
Atas - bawah
Depan lagi - belakang lagi
Atas lagi - bawah lagi.
Dia lantas mematikan lampu yang menempel di kepalanya dan melepas sarung tangan karet itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Ekspresinya tampak serius.
Hendra tak suka dengan ekspresi itu.
Dia lantas memakai kembali celananya dan turun dari brankar mengikuti sang dokter yang kembali ke tahta nya."Bagaimana dok? apa luka saya sudah sembuh?" tanya Hendra tak sabar.
"Apa bapak dan ibu baru baru ini sudah melakukan hubungan?" tanya dokter Bambang.
"Baru tadi malem, dok. Itupun gak dimasukin. Kita pake cara alternatif, tapi aman kok- aman gak ya, yang?"
"Saya pakein olive oil, dok" tambah Keira.
"Begitu ya" kesepuluh jarinya ia tautkan dan ia tempelkan di dagunya.
"Begini, pak, bu"
Hendra dan Keira terlihat cemas akan hasil diagnosa Hendra.
TAMBAH ATU AJA YAK🤭
TOLONG KASIH ULASAN DAN BINTANG 5 YA KAKA
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐
😘😘😘