
Sayangnya Hendra tak memperhatikan wajah wanita bar bar itu. Bahkan saat seseorang menyebarkan video absurd itu di grup kantor, dan Hendra berhasil menghapus tayangan video yang memalukan itu dengan melacak IP penyebar lalu meretasnya dan menghapusnya dari dunia maya sebelum menyebar lebih luas lagi. Tentu saja dia menyisakan 1 untuk dirinya yang tersimpan dalam ponsel pintar nya. Namun tetap wajah sang wanita yang ia duga sebagai 'Mami Flo' itu tak tampak karena perekam video itu berada di belakang mereka.
Keesokan harinya, setelah pertemuan dengan klien di sebuah coffe shop, Hendra memutuskan untuk bersantai sejenak.
Dia kembali memesan Americano dengan camilan sepotong soft cake.
Hendra memilih posisi kursi paling ujung di pinggir kaca sehingga dia bisa melihat orang orang berlalu lalang.
Biasanya dia mendapat inspirasi disaat seperti ini.
Tepat diujung jalan terlihat sepasang pria muda merangkul leher wanita yang cukup matang sambil menyebrang jalan yang tak terlalu ramai.
"Laki laki itu... sepertinya pernah lihat" Hendra menggali memori nya. Mengingat ingat orang yang dirasa pernah dijumpainya.
"Ah.. si kurir bunga. Tapi-"
Perhatian Hendra terus terfokus pada sikap keduanya yang tampak sangat dekat. Apalagi saat melihat si kurir itu mengecup kepala samping sang wanita.
"Apa dia tipe penyuka wanita yang lebih tua? tidak mungkin jika itu ibunya" monolog Hendra sambil melipat kedua tangannya di dada.
Hendra terus memperhatikan kemesraan remaja itu dengan wanita yang lebih tua darinya.
"Kakak? tidak mungkin.. eh mereka kesini?"
Hendra tampak salah tingkah. Entah apa yang terjadi padanya.
tring
Lonceng kecil yang berada diatas pintu kaca itu berbunyi saat ada orang yang membukanya.
Arga tampak celingukan mencari kursi kosong. Sedangkan Keira tengah memilih menu paket kopi dan snack nya.
"Mi aku nunggu disana ya" tunjuk Arga pada kursi dan meja yang kosong di dekat pintu masuk.
__ADS_1
"Ah, iya" jawab singkat Keira yang melihat sekilas arah kursi kosong yang ditunjuk Arga. Kemudian kembali menatap daftar menu.
"Samperin jangan ya?" batin Hendra. Yang kemudian bangkit dan memutuskan untuk menyapa sang kurir.
Dia masih penasaran dengan namanya.
"Lagi senggang?" tanya Hendra menyapa Arga yang terlihat sedikit terkejut karena bertemu pelanggan setia toko ibu nya.
"Eh, tuan. Anda disini juga?"
"Kamu sama siapa?" pancing Hendra.
"Oh itu, saya sama-"
"Sayang, kamu mau pesen apa?" teriak Keira sambil masih menatap daftar menu.
"Samakan saja" jawab Arga. Yang kemudian sedikit menundukan kepalanya sambil menunjuk kearah ibunya dengan jempolnya.
"Ah, aku mengerti. Baiklah, aku tak akan mengganggu. Aku duluan"
Hendra membayar pesanannya di kasir. Dia sekalian menambah uang pada kasir.
"Ini untuk membayar pesanan mereka" Hendra melirik pada Keira yang masih setia menunduk memilih menu. Lalu tersenyum. Dia ingat postur itu.
Tiba tiba wajahnya berubah tegang kala terlintas bayangan kejadian absurd dengan wanita itu.
Hendra segera melangkahkan kakinya keluar dari caffe sembari mengatur nafasnya.
"Mbak saya pesan ini, ini, ini dan ini" Keira menunjuk satu per satu menu yang dia inginkan.
"Baik bu. Ada lagi? masih ada sisa"
"Hah? maksudnya sisa apa?"
__ADS_1
"Sisa kembalian, bu. Tadi bapak yang barusan sudah membayar pesanan ibu"
Keira celingukan mencari sosok yang dimaksud.
"Bapak? Bapak siapa? saya kesini bareng anak saya kok"
"Tadi bapak yang duduk dengan anak ibu. Hanya beliau pergi duluan dan memberikan uang untuk membayar pesanan ibu"
Keira melipat keningnya.
"Ya sudah, kembaliannya buat kamu aja. Rejeki emang gak kemana" tukasnya, namun masih penasaran.
"Terima kasih bu"
"Arga. Kamu tadi sama siapa disini?"
"Oh dia salah satu pelanggan tetap kita ma. Kenapa? Mama kenal?"
"Kenal dari mana? Liat muka nya aja gak pernah. Tadi dia bayarin pesenan kita. Mama gak tau malah kalo tadi sebelahan"
"Ya udah ma. Rejeki. Emang orangnya baik kok. Masih ganteng pula" Arga mencoba menggoda sang mama.
"Ganteng ganteng. Cari cewek sana. Masa mau main pedang pedangan?" sergah Keira yang merasa aneh dengan jalan pikiran anaknya.
"Ya ampun mama. Buat mama lah. Masa buat Arga"
pletak
Keira menjitak kepala anak nya.
"Tanah kuburan papamu saja masih basah. Main cocok cocokan segala"
"Adududuh ma... anaknya di jahatin terus. Nanti kalo Arga mati calon Arga jadi janda sebelum waktunya dong"
__ADS_1
"Ngomong sompral lagi sok" Keira bersiap kembali menjitak kepala sang anak.