
"Seperti itu. Apa.. apa kamu sudah punya kekasih?" Hendra bertanya dengan ragu.
Arga terkesiap dengan pertanyaan yang dilontarkan sang bos.
"Entahlah" jawab singkat Arga yang tercekat. Tiba tiba saja sesuatu mengganjal di tenggorokannya.
"Maksudmu.."
"Jika kami dipertemukan kembali dalam keadaan yang sama sama masih saling menginginkan dan masih sendiri" Arga merogoh saku celananya, dan mengeluarkan kotak beludru berwarna biru dan membukanya. Menampilkan benda berkilau yang bisa menghanyutkan perasaan seorang gadis.
"Maka aku akan langsung melamarnya" lanjutnya sendu. Namun tersirat harapan yang besar.
"Bagaimana jika kau tak pernah bertemu lagi dengannya. Apa kau mau menerima sosok lain?"
"Apa anda mau menerima sosok lain?" Arga menjawabnya dengan pertanyaan yang menohok Hendra.
Arga langsung melangkah keluar dari ruangan sang atasan.
Jika saja para lambe tidak menggunjing bos besar mereka tentang kesetiaannya pada mendiang istrinya, mungkin Arga tak pernah tahu perihal kehidupan pribadi sang bos.
"Bocah sialan. Pintar sekali dia membalikan kata kata. Sayang sekali dia setia pada kekasihnya" monolog Hendra. Dia merasa gagal menjodohkannya dengan sang putri yang kini terlihat selalu murung.
Semenjak diberitahu jika sang putri mengalami hipotermia akut dari sebuah rumah sakit kecil, Hendra begitu marah. Marah dengan dirinya sendiri karena lalai mengawasi dan mengikuti keinginan anak gadisnya untuk menukar mobil mewahnya dengan motor kecil.
Ditambah dengan informasi bahwa sang putri dibawa seorang pria yang diduga adalah kekasihnya. Hendra sangat geram. Dia lantas memindahkan perawatan sang anak ke rumah sakit besar dengan fasilitas lengkap.
"Tolong sampaikan surat ini pada keluarga pemuda itu. Dan ini, sebagai ucapan terimakasih saya karena telah menyelamatkan putri saya" Hendra memberikan tambahan uang untuk membayarkan biaya perawatan Arga yang tidak diketahui nama sang pemuda. Hendra merasa tak perlu tahu perihal identitas pemuda itu.
Laki laki seperti apa yang membawa sang kekasih hujan hujanan. Bukannya melindungi, malah membuat anaknya sakit.
Aretha merengek dan menangis karena tidak diperbolehkan keluar rumah tanpa sepengetahuan sang papa. Motor itu pun Hendra berikan pada salah satu tukang kebun nya.
__ADS_1
Entah kenapa Aretha enggan menyebut nama Arga didepan sang papa kala Hendra bertanya dengan tegas.
Mungkin dia takut sang papa akan berbuat sesuatu padanya. Oleh sebab itu, Aretha kini memilih diam dan mendiamkan sang papa sebagai bentuk protesnya. Bahkan kuliahnya pun diantar jemput oleh supir pribadi sang papa.
Aretha tiba di depan gedung perkantoran dimana perusahaan sang papa berada. Dia sedang menyusun skripsi untuk tugas akhirnya. Dan bahan materi yang dia ambil adalah penelitian tentang perusahaan sang papa. Atas perintah Hendra tentunya. Agar Aretha tidak keluyuran lagi. Toh perusahaan ini juga akan jatuh ketangannya kelak. Pikir Hendra.
Langkahnya beriringan dengan kurir bunga yang bersamaan melangkah masuk ke lobby kantor.
Karena karangan bunga itu menutupi wajah sang kurir yang memakai jas, Aretha sedikit bingung dengan postur nya yang tak asing. Bahkan aroma wangi yang berasal dari tubuh pria itu sangatlah Retha kenal.
deg
deg
Jantung Aretha seketika berdegup kencang kala bayangan kekasihnya menghampiri.
Setetes cairan lolos dari matanya.
Sang kurir sontak melirik ke sampingnya karena merasa mengenal suara itu.
deg
Langkah mereka terhenti serempak. Saling berhadapan, saling memandang, saling mengharapkan.
"Retha.. kamu.."
"Arga.."
Aretha tak menunggu lagi. Dia menghambur memeluk sang kekasih yang sangat dirindukannya.
Arga melupakan bagaimana caranya menutup mulutnya yang terus menganga. Merasa tak percaya dengan apabyang ada dihadapannya dan kini memeluknya erat.
__ADS_1
"Arga.. aku kangen huhuuuu..." Aretha menangis tersedu dipelukan Arga.
"Retha.. kamu Aretha kan? jangan bilang kalo kamu cuma hayalanku saja" tukas Arga yang membalas pelukan erat itu dengan sebelah tangannya.
Aretha melepas pelukannya dan langsung mengapit wajah Arga dengan kedua telapak tangannya. Dia berjinjit dan mencium dalam bibir Arga.
"Apa sekarang kamu masih berhayal?" tanya Aretha setelah membuat pipi Arga memerah. Itu adalah ciuman pertama mereka. Tentu saja jantungnya mendadak bermasalah.
......................
Berhubung hari masih sangat awal bagi para pekerja, aksi keuwuan mereka hanya disaksikan bangku dan meja front office.
Arga mengajaknya ke roof top untuk menghabiskan rasa penasarannya tentang kabar dan keberadaan sang kekasih.
Sesampainya di roof top, sesuai janjinya tempo hari
"Retha.." Arga memanggil Aretha yang terengah karena mereka menaiki tangga dari lantai ruangan sang bos setelah menaruh bunga pesanan Hendra.
"Ya?.."
"Will you marry me?" Arga tiba tiba berlutut sembari menyodorkan sekuntum bunga yang dia ambil sebatang saat merangkai dikantor sang bos, beserta kotak cincin yang selali ia bawa kemanapun dan kini terbuka memperlihatkan kecantikan pantulan cahayanya yang berkilau.
Aretha terhenyak dan langsung menutup mulutnya tak percaya. Matanya berkaca kaca, tak kuasa menampung air yang menggenang yang kemudian terjatuh.
TAHAAAN TAHAAAN
BENTAR LAGI KETEMUUU
😆😆😆
MANGATIN TEYUS OTHORNYA😙
__ADS_1
NGELUNJAK DIKIT GAPAPA YAK😉