
Dua hari berlalu, namun keberadaan Nirmala tak terlacak dimanapun seolah ditelan bumi.
Bahkan di rumah mendiang suaminya dan rumah rumah lain milik keluarga suaminya yang ia rampas dari ahli warisnya pun tak tercium baunya.
Dan selama dua hari itu pula Keira masih mendiamkan Hendra.
Hendra tak masalah. Selama Keira masih bersamanya, dia akan terus meminta maaf padanya.
"ahh..hhhh... hik.." terdengar ******* dan isakan dari dalam kamar mandi.
Keira sebenarnya sudah tak marah padanya. Dia hanya tak tahu harus bersikap bagaimana pada suami yang pernah dia lihat disentuh dan menikmati sentuhan wanita lain, meski bukan kesalahannya.
tok
tok
"Hendra.. kamu lagi apa?" panggilan sayang itu ia simpan sementara.
"hik.. hik... tolong aku.. sayang.. hik.." terdengar memelas disela isakannya.
"hhhh..." Keira menghela nafas. Suaminya itu pasti kesulitan mengeluarkan apa yang harus dikeluarkan beberapa hari ini.
Keira lantas membuka pintu kaca yang buram itu dan menyembulkan kepalanya dahulu. Dia takut kehilangan kewarasan jika melihat rudal yang juga dia rindukan.
Namun Hendra tengah duduk di pinggir bath tube sambil memegang senjatanya dan menangis seolah kesakitan.
Hendra menoleh pada sosok Keira yang masuk dengan wajah terheran.
"Tolong aku, sayang... wanita itu.. wanita itu melakukan sesuatu pada milikku" ucapnya berderai air mata.
Keira mendekat dan berlutut. Menelisik rudal Hendra yang memang tak biasa.
Terlihat luka lepuh di area rudalnya yang disertai rasa sakit dan gatal.
Saat Keira mencoba menyentuhnya
"Jangan sentuh, nanti kamu tertular" sergah Hendra yang tak mau istrinya ikut merasakan penderitaannya.
"Kita ke rumah sakit" tegas Keira yang hampir menitikan air mata.
Hendra menahan tangannya.
"Nanti kamu yang malu" Hendra masih memikirkan penilaian orang terhadapnya.
"Kenapa aku yang harus malu? kamu yang bakalan dianggap suka main perempuan sembarangan. Lagi sakit kek gini masih mikirin aku" gerutu Keira sambil meloloskan air matanya. Dia merasa iba pada sang suami. Seharusnya dia tak menghukumnya dua hari ini.
Keira lantas memakaikan bath robe pada tubuh polos Hendra dan menarik tangannya agar mengikuti sarannya.
Hendra menarik tangan yang menaut itu.
__ADS_1
"Apa kamu sudah memaafkanku?" tanyanya penuh harap.
"hhh.. aku gak marah ya, bapak Hendra yang terhormat. Aku cuma benci dengan perasaan cemburu. Rasa sakitnya gak ilang ilang tau gak" suaranya bergetar.
Hendra bangkit dan memeluknya. Mengecup puncak kepalanya dengan sayang. Sungguh dia merindukan kehangatan istrinya ini.
Keira membalas pelukan Hendra namun dia memukul punggung suaminya sambil terisak.
"Aku benci... hik.. aku benci perasaan kek gini..hik.."
"Iya, sayang.. maafkan aku.. maafkan aku.."
Di rumah sakit
Keira menuntun Hendra ke bagian dermatologi. Hendra masih enggan untuk memeriksakan miliknya. Bukan apa apa. Dia malu jika miliknya dilihat orang lain selain istrinya. Apalagi penyakit yang dideritanya adalah penyakit yang suka melakukan **** *** dan suka berganti ganti pasangan.
Dia menyukai kala istrinya 6ang melakukan **** *** padanya, tapi bergonta ganti pasangan? bukan karakternya yang suka melakukan hubungan terlarang secara acak.
"Tuan Hendra" panggil perawat diambang pintu ruangan dokter.
Keira bangkit dan sedikit menarik paksa Hendra yang masih enggan. Tentu saja dia mendapat pelototan Keira yang mengancamnya akan kembali mendiamkannya.
Hendra terpaksa bangkit dan melangkah dengan berat hati.
"Silahkan" ucap sang perawat mempersilahkan dengan ramah.
Namun Keira tak suka dengan senyumnya.
Keira membimbing Hendra untuk duduk di kursi yang telah disediakan didepan dokter.
"Baikah, pak Hendra. Apa keluhanmu?" tanya dokter kulit yang bernama Bambang pada name tag nya.
"mmm..." Hendra ragu sekaligus malu untuk mengungkapkannya.
Keira gemas lalu memutar bola matanya.
"Jadi gini dok. Beberapa hari yang lalu ada orang gila masuk ke rumah saya... bla..bla..bla..bla.." Keira menjelaskan kronologinya langsung agar tak timbul salah paham.
"Baiklah, saya mengerti. Bisa saya lihat?" tanya sang dokter sambil bangkit dan berjalan menuju brankar. Lalu mengambil sarung tangan karet steril yang sudah tersedia.
"Cepet sana ikutin" bisik Keira yang mendorong tubuh Hendra dengan paksa.
"Tapi aku malu" balas Hendra berbisik.
"Kamu tuh gimana sih. Cewek aja kalo ngelahirin anunya diliat trus diobok obok orang lain gak papa" tukas Keira sambil menyolot gemas pada Hendra.
Hendra termenung sejenak.
"Awas kalo kamu hamil lagi" ucapnya lantas bangkit dan mendekat ke brankar yang sudah di tunggu sang dokter sambil tersenyum melihat interaksi pasangan itu.
__ADS_1
"Maaf bisa dibuka celananya?" pinta sang dokter.
Hendra lantas melirik sang istri lalu melirik ke arah perawat wanita yang berdiri disebelah dokter.
Keira mengerti.
"Maaf dok. Apa gak ada perawat laki laki?" pinta Keira dengan suara dan wajah yang tegas.
Dokter pun mengerti lalu mengangguk pada perawat itu yang langsung mundur dan keluar dari ruangan.
Tak lama terdengar ketukan dan masuklah laki laki yang sepertinya adalah
"Dokter Jon?"
"Kalian. Kenapa?"
Pasangan itu terdiam.
"Perawat laki laki pada kemana?" tanya dokter Bambang.
"Sudah ganti shift, dok. Apa yang bisa saya bantu?"
"Tolong buka celananya"
Adam menuruti perintah dokter senior itu. Ekspresinya tampak biasa saja saat melihat penampakan rudal Hendra yang bermasalah.
Yang tak biasa itu ekspresi Hendra dan Keira.
Hendra bahkan menutup matanya dengan sebelah lengannya.
Sedangkan Keira tampak menunduk dan menghindari tatapan Adam yang mungkin akan mengejeknya.
Dokter spesialis itu selesai memeriksanya setelah mengambil sampel pada lapisan luar yang terkena infeksi lalu nantinya akan dikirimkan pada laboratorium untuk pemeriksaan sampel dan mendapatkan hasil pasti. Mereka kembali duduk di kursi pasien di hadapan sang dokter.
Sedangkan Adam sudah pamit sejak Hendra selesai di periksa. Digantikan kembali oleh perawat wanita yang sebelumnya.
"Menurut diagnosa saya, anda terkena virus herpes, pak Hendra"
"Apa?" Hendra dan Keira terkejut bersamaan.
"Mendengar dari cerita anda sebelumnya, tampaknya wanita itu sengaja menularkannya. Tetapi untung saja anda segera memeriksakannya sehingga infeksinya belum terlalu parah dan langsung bisa ditangani" jelas sang dokter.
"Apa.. apa bisa sembuh, dok?" tanya Keira khawatir. Dia sedikitnya tahu tentang herpes, tapi yang dia ketahui pada umumnya muncul pada mulut dan itu membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh.
"Sebenarnya saat kita terjangkit virus herpes, virus itu akan terus bersemayam dalam tubuh kita seumur hidup"
degg
Hendra dan Keira panik.
__ADS_1
"Tapi anda jangan khawatir. Kuncinya adalah pola hidup sehat dan menjaga daya tahan tubuh agar virus itu tak kembali kambuh. Saya lihat infeksi yang anda derita belum terlalu parah, jadi ada beberapa cara untuk meredakan dan menghilangkan luka infeksi secara alami" dokter menjelaskan dengan sangat rinci, dan pasangan itu menyimaknya dengan seksama.
Keira berjanji akan merawat sang suami dan mensupportnya secara mental agar mempercepat penyembuhan dan tidak kambuh lagi.