Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Kasur Getar


__ADS_3

Hendra kembali ke lorong tempat barang yang menarik perhatiannya tadi.


"Gara gara wewe gombel, ampir aja kelupaan" Hendra lantas memilih warna nude dan menyerahkannya pada karyawan yang mencatat bon karena barang itu harus dibayar berdasarkan bon yang tertulis.


"Hendra" sergah Weni yang tiba tiba menghadang langkahnya untuk segera menuju kasir.


"Apa lagi sih kamu?"


"Kamu kok tega sih? kamu kan janji mau nikahin aku kalo udah gak sama Leona" rengekan Weni yang kencang mengatensi para konsumen dan beberapa karyawan.


"Kapan aku pernah janji sama kamu?"


"Kamu jahat, Hen. Aku gak percaya kamu milih cewek sundal itu dibanding aku. Aku gak mau tau, kamu harus tanggung jawab. Kamu harus nikahin aku pokoknya" drama Weni sembari berderai air mata. Bukankah dia terlihat menyedihkan?


Orang orang saling berbisik menyalahkan Hendra dan wanita yang disebut Weni sebagai wanita sundal itu.


"Bener bener keterlaluan ya"


"Iya. Tapi laki laki ini kan yang tadi di kasir sama perempuan kan?"


"Iya aku inget. Jangan jangan wanita itu yang udah ngerebut pacar mbak ini ya"


"Kayaknya mbak ini hamil deh, laki nya gak mau tanggung jawab"


"Ih kesian ya"


Bisikan dari beberapa mulut beracun terdengar di telinga Hendra.


"Diem kamu. Denger ya. Aku gak perlu tanggung jawab apapun karena aku gak pernah deket sama kamu, apalagi berduaan. Aku gak tau kenapa Leona bisa tahan dengan temen kayak kamu" lantang Hendra yang membuat super visor dan security berlari mendekat.


"Maaf pak, mbak. Tolong jangan buat keributan. Jika ada masalah rumah tangga-"


"Dia bukan siapa siapa saya" bentak Hendra memotong ucapan super visor yang sedang memperingatkannya.


"Permisi permisi. Maaf pasien kami mengganggu acara belanja kalian. Dia salah satu pasien kami yang kabur. Silahkan dilanjutkan kembali aktifitasnya" beberapa pria berseragam putih khas perawat tiba tiba datang dan membawa Weni pergi.


"Siapa kalian? tunggu.. saya bukan yang kalian cari.. SAYA TIDAK GILA" teriak Weni yang meronta dari cengkraman para perawat itu.


"Iya bu. Tenang ya. Kita pulang" ucap tenang salah satu perawat.


"Oalaaah.. orang gila ternyata..."


Alhasil mereka yang berkerubung membubarkan diri, termasuk super visor dan security yang sebelumnya meminta maaf.


Hendra melongo dengan kenyataan yang ada.

__ADS_1


"Apa apaan tadi? cape cape ngeluarin tenaga sama emosi buat ladenin orang gila?" batinnya.


Namun netranya menangkap sang istri yang tengah bersidekap melakukan tos dengan salah satu perawat yang membawa Weni pergi.


Hendra tersenyum miring.


Dia menebak jika ini adalah perbuatan istrinya.


Hendra segera kembali mengantri untuk membayar pesanannya.


Sesekali kepalanya celingukan mencari apakah sang istri masih ditempatnya.


"Fuhh.. good girl" gumamnya lega karena Keira menurut padanya untuk tak beranjak.


Hendra merasa kesal. Antrian yang dia ambil tak terlalu panjang, namun belanjaan mereka ternyata sangatlah banyak. Sedangkan dia hanya akan membayar satu macam saja.


Gurat kesal dan tak sabar terpancar dari wajahnya. Tentu saja orang yang berada di depannya tak peduli.


Mata Hendra selalu ingin mencari keberadaan sang istri. Dia takut ada yang membopong istri imutnya.


Tapi setelah dipikir pikir, apa ada yang mau membopong cewek barbar. Yang ada malah mereka kehilangan biji nya karena tendangan Keira.


Hendra tiba tiba menyemburkan tawa ringannya kala membayangkan Keira melakukan hal itu. Membuat orang yang mengantri didepannya memutar kepalanya dan mendengus.


Tinggal 3 orang lagi termasuk dirinya yang mengantri. Namun netranya kembali menangkap Keira yang tengah didekati seorang pria berseragam tengah menyodorkan secarik kertas pada Keira yang sempat menolak. Namun tampaknya laki laki yang diduga seorang sales produk terus berusaha menjelaskan produk yang ia pasarkan.


Kenapa harus malu malu? batin Hendra yang mengernyitkan dahi dan mengerucutkan mulut tanda tak suka dengan suasana akrab itu.


Pria itu terus menjelaskan produk yang tak Hendra ketahui dan menyebabkan sang istri tak hentinya tertawa ringan.


Tiba giliran Hendra yang membayar, setelah itu dia langsung ke bagian pengambilan barang dan segera menghampiri sang istri.


"Sayang, kamu sudah selesai?" tanya Keira kala Hendra menghampirinya lalu mengecup kepalanya.


"Nunggu lama ya?"


"Gak pa pa. Kamu ngapain senyum senyum sama mbak tadi?"


"Senyum apaan? aku cuma ngucapin terimakasih" Hendra merangkul leher Keira dan menjapit hidung mungilnya.


"Waaah.. suaminya cinta mati nih sama mbak nya" dia lantas menyodorkan selebaran yang memuat gambar kasur berwarna putih.


"Nih pak. Karena bapak cinta mati sama istrinya, pasti pengennya mesra mesraan terus kan. Kalo bisa kasurnya dibawa kemana mana. Nah kebetulan kami punya produk yang bisa bikin bapak sama ibu tambah lengket kemanapun.


Nih ya, ini adalah kasur masa kini. Saya jamin bapak sama ibu gak bakalan nyesel kalo beli produk kita.

__ADS_1


Kelebihan dari produk kita ya pak, bu. Perdana dan satu satunya saat ini yang mempunyai fitur getar. Ngerti dooong arahnya kemana.


Kami punya beberapa ukuran ya pak, selain ukuran standard dan king size, kami juga menerima ukuran custom. Penasaran kaaan.


Ukuran custom ini bisa bapak pesan jika bapak mau menggunakan kabin belakang mobil bapak dan dipasang produk kami.


Bisa dilipat jadi jangan khawatir menghabiskan space.


Jadi bapak bisa menggetarkan ibu dimanapun ya kaaan"


Panjang lebar sales yang berbicara lancar itu menjelaskan mengenai produk yang dia pasarkan. Membuat Keira sedari tadi menutup mulutnya menahan tawa karena malu. Mungkin membayangkan aktifitas mereka menggunakan kasur itu.


Hendra tak suka jika ada yang berani menarik perhatian istrinya.


Hendra mengembalikan selembaran itu dengan kasar pada dada sang sales yang terkejut karena sikap angkuh dan kasar calon konsumennya.


"Enggak, makasih. Saya bisa lebih menggetarkan istri saya"


Hendra lantas meraih beberapa kantung belanjaannya dan menarik sang istri dengan rangkulan di pundaknya sembari mengecup samping kepalanya.


"Sayang, kamu kok gitu?"


"Gitu gimana? orang dia ngejek aku, ya aku gak terima"


"Ngejek gimana? orang cuma nawarin barang kok"


"Ya masa dia nawarin kita kasur begituan? emang kamu kurang ya aku geterin dibawah aku"


"Jangan marah" bibir Keira mengerucut sambil mengapit dagu Hendra diantara jempol dan keempat jarinya.


Hendra mendengus kesal lalu meliriknya, tapi tangannya masih merangkul erat pundak Keira.


Mereka berhenti sejenak di depan pintu utama super market.


Keira mencoba merayu Hendra dengan jurus andalannya.


"Kocok lagi?" matanya mengedip sebelah.


Hendra menahan senyum kemudian melebarkannya karena tak tahan dengan tingkah absurd Keira.


"Kocok terooos" Hendra menarik rangkulannya agar mereka segera masuk ke mobil dan pulang.


MINAT KASURNYA KAKA?😅


BUBAR BUBARR😆

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALIN JEMPOL SAMA HADIAHNYA😆😆


__ADS_2