Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Dingin


__ADS_3

Hujan tak kunjung berhenti. Sudah 2 jam lamanya mereka kedinginan dan kelaparan. Langit tak lagi menampakkan meganya, digantikan gelap diselimuti dingin.


Dua insan itu menggigil. Aretha menyandarkan kepalanya dipunggung Arga yang sekuat tenaga menahan hawa dingin. Semoga saja ia kuat.


Namun hujan tetap enggan menghentikan tetesannya.


Hampir saja Aretha terjatuh kala Arga merasakan tubuh yang bersandar padanya itu bergerak kesamping jika Arga tak cepat menangkapnya.


Aretha pingsan.


"Ya Tuhan. Retha... Aretha... bangun... bangun sayang...."


Arga panik. Dia tahu ada rumah sakit kecil didaerah ini, meski tak terlalu dekat namun tak terlalu jauh. Yang jadi masalah adalah hujan masih setia mengguyur bumi.


Dengan sigap Arga membuka jaketnya dan menggendong Aretha di belakang lalu jaket itu ia gunakan untuk menahan tubuh Aretha yang dilingkarkan dan ditalikan bagian lengannya ke tubuh Arga sehingga mereka menempel selama perjalanan dan Aretha aman dari terjatuh.


Meski kedinginan dengan hebat, Arga bertahan sekuat mungkin agar bisa sampai ke rumah sakit kecil itu untuk menyelamatkan gadisnya.


Arga melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Meski pandangannya terhalang oleh tetesan air, ia berusaha agar dirinya tetap sadar dan konsentrasi.


Tiba di pelataran UGD Arga berteriak.


"Toloong... toloong..."


brukk


Mereka ambruk bersama.


Arga pun tak sadarkan diri.


...----------------...


"eengghh..." lenguh Arga mulai sadar.


"Sayang.. Arga... kamu sudah sadar nak? suster... suster... anak saya sudah sadar" Keira yang berlari kearah ruang perawat segera memberitahu perihal anak nya yang sudah siuman.


Dua orang perawat pria menghampiri dan memeriksa tanda tanda vital tubuh Arga.


Lalu datanglah seorang dokter yang dipanggil karena perkembangan pasiennya.


"Bagai mana kondisi anak saya dok?" tanya Keira dengan gelisah.


"Syukurlah dia berhasil melewati masa kritisnya. Ibu tak perlu khawatir, mungkin dalam 2 hari baru bisa pulang. Sementara ini masih dalam masa observasi" dokter menjelaskan yang membuat Keira merasa lega.


Bagaimana tak khawatir, Arga mengalami Hipotermia. Beruntung dia segera ditangani. Jika terlambat sedikit saja, mungkin dia akan kehilangan nyawanya.

__ADS_1


Dokter pun pamit untuk memeriksa pasien yang lain.


"Sus.. suster maaf. Apa waktu itu anak saya datang bersama seorang wanita?" tanya Keira yang belum sempat menanyakan perihal Aretha. Karena setau dia waktu itu Arga pamit untuk jalan jalan bersama Aretha sang kekasih. Namun diruangan ini Arga tergeletak sendirian kala pihak rumah sakit menghubunginya perihal kondisi anak semata wayangnya.


"Oh maaf, waktu itu bukan bagian saya jaga bu. Mungkin bisa anda tanyakan pada bagian administrasi"


Keira merasakan firasat kurang baik.


"Ma.. mama..." panggil Arga lirih. Tubuhnya masih lemah.


"Ya sayang. Mama disini. Kamu perlu sesuatu?" tanya Keira.


"Retha.. gimana kondisi Aretha, ma?"


Keira bingung harus menjawab apa. Sebenarnya apa yang terjadi?


"Aretha baik baik saja, sayang. Dia lagi dirawat. Kamu jangan khawatir ya"


Keira menyodorkan air minum dalam gelas yang diberi sedotan.


Arga meneguknya perlahan. Tenggorokannya kini terasa nyaman.


"Arga mau ketemu, Arga mau liat Retha, ma" pinta Arga.


......................


Keira meremas kertas dengan sedikit rasa dongkol.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka? Apa yang sudah dilakukan anaknya sehingga keluarga Aretha meminta Arga agar menjauhi dan melupakannya? Apa karena dia bukan dari kalangan orang kaya? pikirnya dengan rahang mengetat.


Bukannya Keira tak tahu jika Aretha berasal dari kalangan the have. Keira tahu hanya dengan melihat dompet branded milik Aretha dan juga kuku tangan yang cantik terawat itu pastilah membutuhkan biaya yang tak sedikit. Keira hanya menghargai keputusan Aretha menyembunyikan identitas keluarganya. Bahkan Keira pernah bertanya pendapatnya tentang anak konglomerat. Jawabannya cukup diplomatis.


"Yang konglomerat dan sukses itu kan orang tuanya. Anaknya mah nebeng kesuksesan orang tua. Tetap saja dia harus mau berusaha lebih keras kalau mau sesukses orang tuanya"


Keira merasa salut dengan pernyataan Aretha saat itu. Dia memperhatikan sikapnya yang tak pilih pilih pekerjaan. Tentu saja terlepas ada gebetannya disitu.


"Ma, kita liat Aretha dulu yuk. Arga khawatir"


"Sayang, Aretha sudah pulang lebih dulu. Tadi waktu kamu ke toilet, dia pamit sama mama. Dia gak bisa nunggu kamu karena ditunggu keluarganya. Nanti kalau sudah pulih dia pasti dateng ke toko. Sekarang kita juga pulang ya. Mama masakin makanan kesukaan kamu deh"


Arga murung mendengar penuturan sang mama. Namun dia menurut saja.


Keira melempar kertas kedalam tong sampah saat melewatinya. Dia merasa sakit hati kala kata kata itu seolah merendahkan sang anak. Ditambah dengan dibayarkannya biaya perawatan Arga dengan lunas.


"Kalo sampe ketemu, awas aja kalian. Berani beraninya merendahkan kami" geram Keira dalam hati.

__ADS_1


Hari berganti minggu. Minggu berganti tahun. Aretha sudah tak pernah terlihat lagi muncul di toko. Sosok lincah dan ceria itu tak lagi menghiasi toko dan wajah penghuni toko. Seakan keberadaan bunga bunga yang cantik itu hanya menghiasi pekuburan yang suram.


Arga kini menjadi pribadi yang pendiam dan dingin. Dia tak akan berbicara jika tak ditanya.


Pun dengan di kantor. Arga yang sudah di wisuda kini lebih fokus dalam bekerja.


"Arga, bos manggil tuh" seru Beno yang sebelumnya mengetuk pintu ruangan Arga.


"Baik"


Beno pun terheran dengan perubahan sikap Arga yang kini kaku dan dingin. Tidak seperti awal dia masuk ke perusahaan.


"Salah pergaulan ni anak. Gimana gak aneh coba, gaulnya sama angka, kode, monitor, keyboard. Kaku semua. Kotak semua. Tambah kesini tambah mirip si bos. Ah anak gue jangan sampe ngambil jurusan komputer. Bisa bisa mukanya jadi kotak juga" gumam Beno jauh dibelakang Arga.


tok


tok


"Masuk" seru Hendra dari dalam kantor.


Arga pun membuka pintu dan melangkah masuk sesuai intruksi.


"Ya tuan. Anda memanggil saya?"


"Ck, sudah kubilang berhenti memanggil saya seperti itu"


"......." Arga bergeming. Tak tahu harus menjawab apa.


"Kamu persiapkan diri. Perusahaan kita mendapat kehormatan untuk mengikuti turnamen sistem keamanan jaringan internasional. Jika kita berhasil, maka perusahaan akan berada di posisi teratas dan penghasilan kita akan berkali lipat.


"Baiklah, tuan - pak. Saya akan bersiap" Arga sedikit membungkuk lalu berbalik.


"Arga, tunggu" seruan Hendra menghentikan langkah Arga yang kemudian berputar kembali menghadap sang bos.


"Kamu.. masih kerja di florist itu?"


"Iya tu-pak. Saya masih kerja disana. Hanya saja saya hanya mengambil orderan untuk kantor ini saja, sekalian berangkat"


"Tapi saya tak pernah melihatmu masuk dan berlomba mengejar lift"


"Ah itu.. itu karena saya berangkat lebih awal. Juga karena saya sudah lulus jadi waktu saya tak terpecah untuk absen dulu ke kampus" padahal sudah tidak ada yang ditunggunya lagi dipagi hari. Wajah cantik dan ceria milik gadisnya tak lagi menjadi sesuatu yang ditunggunya setiap pagi. Dia hanya melihatnya dalam mimpi setiap malam.


UHH DAPET SUPPORT


TAK KASIH LANGSUNG 2 BAB NEH

__ADS_1


__ADS_2