Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Kegagalan Malam Pertama


__ADS_3

"Persetan dengan telur" Hendra menaruh kasar mangkuk telur itu lantas berbalik dan langsung memepet tubuh Keira ke meja saji. Melahap bibir bebeknya dengan rakus sambil menggesekan bagian intinya yang sudah mengeras.


Keira terkejut dengan serangan balasan Hendra hingga tak sempat mengelak.


Hendra terus menyerangnya secara membabi buta, mengangkat sebelah kaki Keira ke pinggangnya, sehingga gesekan antara dua inti itu menimbulkan kobaran api hasrat yang menggelora. Membakar seisi ruangan dengan lenguhan dan erangan.


Hendra yang sudah lama tak mendapat sentuhan wanita tak kuasa menahan rudalnya untuk tak meledak saat itu.


Dduarrr


"ahhhh..."


Keira yang sudah terbakar hasratnya merasakan kedutan dari inti Hendra. Dia yakin Hendra telah mencapai puncaknya.


"Udah nyampe lagi?" gumam Keira dalam hati.


Ada sedikit rasa kecewa karena dia mendamba rasa itu.


Hendra melepaskan pagutan bibir mereka sambil terengah. Menyatukan kening mereka lalu mengangkat tubuh Keira dan melingkarkan kedua kaki Keira di pinggangnya.


"Apa kau siap?" tanya nya kemudian membuat Keira terkesiap dan langsung mengangguk cepat dan balik menyerang bibir Hendra dengan rakus.


Hendra melangkahkan kaki menapaki tangga sambil membopong Keira tanpa kesulitan, dia bahkan bisa melakukannya dengan mata tertutup.


Hendra membuka pintu kamar dengan tergesa lalu membantingnya dengan kaki, tak sabar ingin segera mengungkung wanita mungil ini dibawahnya.


Hendra menurunkan Keira di ranjang king size nya dalam posisi sama sama berdiri.


Keira yang kini lebih tinggi darinya menunduk untuk terus menikmati bibir sensual sang suami.


Tanpa melepas pagutan, mereka melucuti kain pembungkus mereka masing masing dengan gerakan cepat hingga lapisan terakhir.


Karena Hendra tak sempat menyalakan lampu saat masuk, situasi kamar tersebut hanya disinari cahaya temaram dari luar jendela kamar yang gordennya tak ditutup.


Namun cahaya temaram itu masih bisa menerangi tubuh polos Keira. Hendra bahkan bisa melihat rona merah di pipi Keira.


Hendra membaringkan perlahan tubuh Keira. Pagutan liar itu menjadi tenang kala tangan Hendra merambat pada bagian inti Keira yang


"Basah. Kamu menginginkanku?" tanya Hendra sembari memainkan jarinya pada pusat intinya.


Keira mengangguk lembut, lalu memohon


"Please"


"As you wish, baby"


Hendra mengarahkan rudalnya menuju gerbang nirwana yang bisa membuatnya terbang melesat ke angkasa.


"Kenapa susah?" tanya Hendra saat mencoba melesakkan rudalnya.

__ADS_1


"Kamu yakin tempatnya disitu?" tanya Keira.


"Tentu saja. Ini kan?" Hendra meraba gerbangnya lagi membuat Keira mendesah dan menggelinjang.


Hendra bahkan menggunakan jarinya untuk memastikan posisi gerbangnya.


Hendra mencoba sekali lagi. Menempatkan rudalnya pada celah sempit nan basah itu.


Namun tetap sulit untuk ditembus.


"Kamu bisa gak sih?" tanya Keira yang sudah tak sabar diisi oleh Hendra.


"Punyamu kegedean. Kecilin dulu napa" protes Keira saat membantu rudalnya masuk dan cukup tercengang dengan ukurannya yang jauh lebih besar dibanding ukuran mendiang suaminya.


Hasrat Hendra sudah berada di ubun ubun, namun masih tak bisa menembus gerbang kenikmatan milik Keira.


Hendra mengatur nafas. Miliknya masih tepat berada di depan gerbang yang tak mau membuka.


Hendra pasrah, mungkin sekarang belum saatnya. Tapi dia tak khawatir karena Keira kini sudah menjadi miliknya. Mereka bisa mencobanya kembali kapan saja.


Pun dengan Keira. Dia juga merasa harus pasrah dengan kegagalan malam pertamanya.


"Eh.. sayang.. masuk.. berhasil.." Keira mengangkat kepalanya kala sang rudal yang telah pasrah itu berhasil melesak perlahan hingga ujung.


"Ahh.. kamu seperti perawan, sayang.." Hendra menggeram kala merasakan sensasi luar biasa dari cengkraman milik Keira.


Hendra sengaja membiarkannya berendam untuk beradaptasi agar tak menyakiti milik Keira yang kembali seperti gadis.


Bisik Hendra disertai erangan kala mencoba menarik mundur senjatanya.


"Lagih... jangan... berenti..."


Keira menggelinjang saat Hendra menggerakan pinggulnya perlahan.


Rasa yang sudah sangat lama tak mereka rasakan kini kembali mereka reguk.


Malam yang singkat itu tak mereka sia siakan. Hendra terus menghujamkan rudalnya hingga pagi menjelang.


Mereka terkulai lemas setelah beberapa kali mengisi ulang.


Hendra yang terbangun lebih dulu dan merasa lebih segar, membopong Keira yang masih memejamkan mata.


Dia membawanya ke kamar mandi yang sudah diisi air hangat dengan rempah rempah untuk memulihkan permukaan kulit mereka yang mungkin terdapat luka lecet karena aktifitas semalam.


"Masih ngantuk" protes Keira saat merasakan tangan hangat Hendra membopongnya.


Hendra terus menghujaninya kecupan di tempat yang bisa bibirnya jangkau.


"Tidurlah. Biar aku yang bekerja" bisik Hendra yang berniat membersihkan tubuh mereka setelah semalam mandi keringat.

__ADS_1


Hendra membawa Keira masuk dalam bath tube. Duduk dan menyandarkan punggung Keira di dadanya.


Keira yang masih setia memejamkan matanya menyandarkan kepala pada bahu Hendra, menampilkan leher jenjangnya. Pandangan Hendra turun kebawah leher Keira. Mengarah pada bukit kembar yang membusung dan terekspose karena busa dari sabun tak menutupi bagian kenyal itu.


Rudal Hendra kembali bangkit.


Hendra sedikit mengangkat bokong Keira dan memposisikannya di gerbang nirwana.


Inti nya yang kembali menegang itu dia kembali lesakkan pada inti Keira. Membuatnya mendesahkan namanya.


Hendra menikmati moment memandikan Keira dengan mengusap seluruh tubuh Keira tanpa melewatkan sedikt celah.


Keira yang katanya masih mengantukpun kini terjaga karena rasa nikmat yang kembali memenuhi inti tubuhnya.


Dia bergerak tanpa Hendra bersusah payah menggerakannya.


Keira menari nari membelakanginya sementara tangan besar Hendra bertengger di puncak bukit kenyal milik Keira dan meremasnya lembut.


Licinnya sabun membuat gesekan kulit mereka terasa lebih sensasional.


Keira dibuat gila dengan penyatuan mereka di dalam bath tube. Dia memutar tubuhnya menjadi menghadap Hendra.


Lenguhan dan teriakan memenuhi kamar mandi. Riak air yang berubah menjadi gelombang menandakan brutalnya penyatuan mereka yang kembali membawa mereka pada puncak kenikmatan dunia untuk yang kesekian kalinya.


Keira kembali terkulai lemas diatas tubuh Hendra. Dia kembali tertidur.


Hendra tersenyum dengan tingkah istri barbarnya.


"Ternyata kamu juga barbar saat bercinta, sayang" lirih Hendra di telinga Keira sembari tertawa ringan.


Dia membiarkan istrinya tertidur diatas pangkuannya dengan rudal yang masih menancap.


Hendra terus mengusap dan menyiram punggung polos Keira hingga dia terbangun.


"Engghh.. aku lapar" gumam Keira yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.


"Baiklah. Kita bilas dulu. Aku akan memasak telur lagi"


"Kocok?" gumam Keira masih membaringkan kepala di pundak Hendra, dan ucapannya tepat menghembus telinganya.


"Seperti ini?" Hendra mengangkat dan menurunkan pinggul Keira yang inti nya masih menancap sempurna.


Keira tersenyum dan kembali menyambut gempuran Hendra dengan menaik turunkan pinggulnya membuat Hendra kembali menggeram.


Namun Keira langsung mencabutnya. Dia ingin menyiksa Hendra.


"Sayang.. kok pergi? ini tuntasin dulu" keluh Hendra yang merasa nanggung.


"Iya nanti nge cas lagi. Makan dulu ih, nanti aku aduin sama dokter Jon loh"

__ADS_1


SENGAJA PART INI UP NYA WAYAH GINI🤭


GASKEUN LAH JEMPOL MA HADIAHNYA😆😆


__ADS_2