Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Maaf


__ADS_3

Seminggu berlalu dalam keterdiaman keempat orang itu. Mereka memilih menenggelamkan diri dengan pekerjaan mereka.


Kecuali Keira yang tak lagi membuka tokonya.


Anis pun sang karyawan berulangkali menanyakan kabar sang bos yang tak kunjung terlihat berniat membuka tokonya lagi. Keira menyarankan padanya agar mencari pekerjaan lain yang lebih pasti. Karena saat ini, dia tak ada semangat untuk menjalankan usahanya.


Dia memilih menenggelamkan diri di kamar setelah selesai menyiapkan kebutuhan Arga bekerja.


Keira bahkan tak menemani Arga sarapan. Karena laki laki itu juga bahkan tak membujuk istrinya untuk kembali.


Keira kecewa, apa yang dialaminya dulu bersama suami kini harus terulang.


Dalam kamarnya Keira memandangi foto mendiang suaminya.


"Lihatlah anakmu, Jodi. Dia bahkan mewarisi sifatmu. Terobsesi pada cinta pertama yang tak mungkin dimiliki.


Kalian berhasil menyakiti wanita yang tulus mencintai kalian" Keira menitikan air mata saat menumpahkan kekecewaannya pada foto mendiang suaminya.


Keira tak percaya dengan apa yang dia dengar. Percakapan antara besannya dan anak semata wayangnya membuatnya terpukul.


Dimanakah letak kesalahannya sehingga sang anak mempunyai perasaan tak wajar seperti itu.


Arga mematung di depan pintu kamar Keira yang baru sedikit dia buka untuk berpamitan.


Dia tersadar.


Selama ini dia melihat penderitaan mama nya dalam diam.


Betapa dia sangat marah dan menyalahkan papanya dalam hati, namun tak mungkin dia tunjukan. Karena melihat sang mama yang pasti akan kecewa jika dia berbuat hal tak pantas pada orang tuanya sendiri.


Dia sempat berjanji, jika papa tak bisa mencintai mamanya selayaknya seorang suami, maka dia yang akan menjadi satu satunya laki laki yang akan mencintai mamanya.


Itulah sebabnya Arga tak pernah pulang terlambat dari sekolah.


Dia bahkan tak menghafal nama anak perempuan yang ada di sekolahnya, bahkan di kelasnya.


Hanya nama Aretha yang dia tahu. Itupun karena kegigihannya selalu datang ke toko dan berusaha selalu menarik perhatiannya.


Gadis itu berhasil menarik perhatiannya.


Bahkan dia berhasil membagi cinta di hati Arga yang tadinya sepenuhnya untuk sang mama.


Arga mundur 1 langkah.


Dia tak sadar jika dia telah menjadi seburuk papa yang dibencinya.


Arga melangkahkan kaki keluar rumah tanpa berpamitan. Pikirannya kosong.

__ADS_1


Tak percaya dengan apa yang sudah dia lakukan.


Dia segera mencari Aretha ke divisinya sesampainya di gedung kantor.


Tapi dia tak menemukannya.


"Nyari Aretha, pak Arga? tanya salah satu karyawan di divisi marketing yang tahu akan statusnya dengan Aretha.


"Iya. Kemana ya?"


"Aretha lagi ke Semarang, sama tim marketing. Mungkin 2 harian disana. Apa Aretha belum bilang?"


Arga menggeleng. Tampak bingung dan kosong.


"Yah, wajar sih pak. Ngedadak soalnya. Coba bapak hubungi aja mungkin lagi di perjalanan" sarannya yang sedikit bingung dengan sikap Arga yang terlihat hanya terbengong.


"Ah, ya. Makasih"


Arga berbalik dan kembali ke ruangannya.


"Aretha" lirihnya menyebut nama sang istri yang dia lupakan seminggu ini.


Dia lantas melompat dari duduknya, berniat menemui sang mertua.


"Aaargh.. sialan.." saat Arga melewati sebuah ruangan, dia mendengar seseorang sedang mengumpat kesal.


Arga terlupa akan masalah penting di kantor.


"Kenapa error lagi sih? baru kemaren diganti baru. Aaargh.. alamat gak di genti kantor ini mah" Tommy terus terusan meracau pada diri sendiri.


Dia terus mengutak atik PC nya.


Arga terheran, seharusnya Tommy bisa menghandle nya jika hanya masalah error biasa. Kenapa dia sampai frustasi seperti itu?


Arga teringat beberapa waktu yang lalu Tommy juga megeluh jika komputernya terkena virus. Bukannya melakukan pembersihan tapi malah ingin meminjam laptopnya.


"Ekhem, napa lo ngab?" Arga mencoba mencari tahu.


"Eh Ga. Sialan nih ada yang ngutak atik PC gue nih keknya. Baru gue minta genti kantor, sekarang error lagi" Tommy menumpahkan kekesalannya sembari mengutak atik PC yang masih baru itu.


"Lah, kenapa bisa gitu? Elo lagian make nya gimana coba bisa error, trus kemaren bisa kena virus, elo pake nonton bokep lo ya.."


"Enak aja. Gue begajulan kek gini masih beradab sob"


"Emang gak lo kunci?"


"Ya pake lah. Kalo enggak gimana kalo ada kebocoran sistem?"

__ADS_1


"Lo pernah bawa siapa kesini?"


"Di ruangan ini kan ada 4 orang, Ga. Sempit gini mana bisa bawa orang?"


"Eh pernah deng si Hesty masuk, ngebet dientot dia. Maksa maksa segala pake nempel nempelin mulu. Risih gue"


"Halah, ngomong risih, diembat juga kan?"


"Maunya sih. Tapi enggak lah. Gue masih waras buat gak ladenin cewek gak waras kek gitu. Jangan jangan sembarang jalu dia ajakin begituan. Iii.. bisa ketularan penyakit aneh kan serem"


"Serius, ni malah ngomongin yang ga jelas sih? Selain kalian berempat siapa lagi yang pernah masuk sini. Terus ini yang bertiga pada kemana?"


"Gantian, Ga. Mereka hunting makan duluan, trus nanti mereka selesei baru deh gue bisa nyari makan. Selain kita kita gak pernah ada orang lain yang kesini kok. Cuma si wewe gombel aja yang main nyerobot masuk. Kalo pulang juga kunci selalu kita bawa gantian"


Lantas Arga memindai sekitar, dan ternyata tepat didepan pintu ruangan itu terdapat cctv berukuran mikro berwarna senada dengan cat tembok. Sehingga keberadaan perangkat itu akan tersamarkan.


Arga tak banyak bicara soal keberadaan perangkat keamanan. Itu salah satu bentuk loyalitas nya terhadap perusahaan.


Arga tak mau ikut campur. Perusahaan pasti sudah mengetahuinya. Dia melanjutkan niatnya untuk menemui papa mertua sekaligus bos besarnya.


tok


tok


"Masuk"


"Permisi, pak. Ada pak Arga ingin bertemu"


Hendra menghentikan tarian tangannya pada keyboard. Lalu melanjutkannya.


"Suruh masuk" titahnya tanpa mengalihkan perhatian pada layar monitor.


Sekertaris itu segera menyampaikan perintah atasannya pada Arga.


Arga melangkah masuk.


"Siang, pa. Apa papa sudah makan siang?" tanya Arga sedikit berbasa basi kala melihat sang mertua masih berkutat dengan pekerjaannya sedangkan sebagian karyawan sudah berhamburan memenuhi kafetaria kantor.


"Ada apa, Ga?" Hendra tak mengalihkan perhatiannya dari layar monitor, diapun tak menanggapi basa basi Arga.


"Kalau.. kalau papa sibuk.. nanti Arga kembali lagi" ucap Arga sambil menunduk. Dia ragu ragu dengan apa yang akan dia sampaikan.


"Bilang saja. Papa masih bisa menyimak" lagi, Hendra mengucap dingin. Namun dia ingin memberi menantunya ini kesempatan.


"Maafin Arga, pa" ucap tulus Arga masih menunduk. Dia akan merelakan hatinya untuk kebahagiaan mama nya. Ternyata bukan dia yang bisa bikin sang mama bahagia. Arga melupakan kenyataan jika manusia membutuhkan pasangan. Begitupun dia yang melupakan tentang perasaannya pada Aretha.


Pasangan hidupnya.

__ADS_1


Hendra menghentikan tarian jemarinya, dan mengalihkan tatapannya pada Arga.


__ADS_2