
POV AUTHOR
Hari ke dua Hendra membantu Keira di toko. Keira sudah mewanti wanti Hendra agar tak tampil terlalu mencolok.
Tapi tetap saja. Mengenakan apapun Hendra terlihat menawan. Bahkan jika dia mengenakan pakaian compang camping pun sepertinya tak berpengaruh.
"Hhhh... susah gini caranya kalo udah bakat ganteng mah" gerutu Keira sambil tangannya sibuk memakaikan jaket bahan parasit milik sang anak ke tubuh kekar besannya yang hanya menyunggingkan senyum dengan tangan yang dia rentangkan karena tengah diurusi Keira.
Ingin rasanya tangan yang merentang itu dia lingkarkan di tubuh mungilnya.
Setelah selesai dengan jaket, Keira memakaikan helm full face yang juga milik Arga, sang anak.
"Nganter deket kok pake helm?" tukas Hendra yang merasa panas karena cuaca yang terik di pagi hari. Ditambah jaket parasit, menambah hawa panas di tubuhnya.
Hendra berharap jaket ini ada fasilitas AC nya.🤦🏻♀️
"Protokol keselamatan di jalan, pak. Biar aman dari cubitan dan colekan mahluk gak bertanggung jawab" jawab Keira yang masih merasa kesal. Bahkan saat Hendra hanya menampakkan matanya saja tetap aura macho nya terasa.
"Hadeeeeh....." Keira merasa gemas sendiri.
Kenapa dia mati matian menutupi Hendra dari tatapan para penggila jantan? Batinnya.
"O iya. Kamu benar. Sekarang aku aman dari pelakor. Baiklah, AKU PERGI DULU SAYAAAANG..." teriak Hendra saat menjauh dari Keira dan melajukan motor trailnya.
Keira lagi lagi melempar sebelah flat shoes nya yang tepat mengenai kepala Hendra sembari meneriakan umpatan.
Hendra terbahak didalam helm nya. Untung saja kepalanya diberi pengaman.
Seharian itu cukup efektif. Hendra berhasil mengirimkan semua pesanan lebih cepat tanpa hambatan.
Sedangkan Keira sempat kewalahan di toko.
Pasalnya, para pembeli bunga setangkai yang kemarin sempat membuatnya kaya mendadak protes karena ketidak beradaan Hendra di toko.
Mereka ingin dilayani lelaki gagah itu.
Keira dengan sabar dan tenang memberi pengertian pada mereka yang tak mau tahu dengan kondisi karyawan tokonya.
Yang mereka mau adalah dilayani Hendra. Atau mereka meminta uangnya kembali.
"Emang kalo saya kembaliin duitnya, situ bisa ngembaliin pipi suami saya yang udah kalian colek sampe pipinya gak berbentuk? saya yang rugi dong, situ seenaknya colek colek lakik orang. Lakik situ emang udah gabisa dicolek lagi apa? sembarangan main colek. Kalo ada apa apa sama pipi suami saya gara gara tangan kalian yang kotor, biayanya gak mungkin cukup segitu. Situ mau nanggung biaya operasi plastiknya? enggak kan?" Keira sudah tak bisa menahan amarahnya lagi. Ibu ibu ini bukanlah konsumen langganannya. Mereka hanya orang yang kebetulan lewat saat kemarin melihat penampakkan besannya di toko.
"Kali kalian gak bawa duit sekarang buat ganti rugi, sini, saya minta alamat kalian. Biar saya minta sama suami suami kalian buat ganti rugi. Kalo enggak, saya laporin kalian sama pak erte" ancam Keira yang membungkam para emak emak seketika.
"BUBAR GAK?" teriak Keira yang langsung membuat kerumunan itu terpaksa membubarkan diri.
__ADS_1
Hendra yang sudah tiba sedari tadi tak berani membuka helm nya melihat Keira yang hampir dikeroyok mahluk mengerikan itu.
Dia hanya diam di motor sembari melipat kedua tangannya di dada.
Senyumnya tak pernah surut kala memperhatikan tingkah besannya yang dengan lantang menyuarakan ancamannya dan mendeklarasikan dirinya sebagai suaminya.
Hendra mendekat dan memarkirkan motor itu tepat di depan toko saat kawanan emak emak sudah membubarkan diri.
"SAYAAANG.. AKU PULAAAANG..." Hendra merentangkan kedua tangannya diambang pintu toko.
Namun dia belum membuka helmnya.
plakk
Sebelah flat shoes mendarat di helmnya dengan sempurna.
Ini yang Hendra perkirakan akan terjadi.
"Sayang sayang. Sayang pantatmu" oceh Keira memajukan bibirnya.
Hendra hanya tertawa. Dia lantas membuka helm dan memberikan bungkusan plastik kearahnya.
"Nih"
"Jangan suuzon gitu dong, sayang. Liat dulu aja"
"Bilang sayang lagi" Keira mengangkat dan mengarahkan bungkusan kearahnya, mengancam bahwa bungkusan ini akan dia kembalikan ke wajah tampan besannya ini.
"Aduuuh.. ibu sama bapa berantemnya romantis. Bikin ngiri Anis aja" celetuk Anis yang memperhatikan interaksi keduanya yang selalu ribut tapi menyimpan perasaan pada masing masing.
"Diem kamu. Mau saya pecat?" ancam Keira.
"Jangan galak gitu dong, sayang. Kalo dia dipecat nanti siapa yang jadi saksi nikah kita"
hepp
Hendra berhasil menangkap lemparan Keira sambil terbahak yang diiringi kikikan Anis.
"Waah, bungkusan apa tuh pak? jangan jangan yang kek kemaren lagi ya. Yang seksi" tanya Anis yang penasaran karena kemarin dia melihat lingerie merah berada di tangan Keira.
"Kamu tau?" tanya Hendra.
"Tau lah pak. Orang kemaren ibu nge-pas nge-pasin di depan kaca. Mau saya minta buat indehoy sama suami malah kena timpuk sendal" Anis menjelaskan sambil bersungut.
"Suami suami. Emang kamu udah punya suami?" tukas Keira yang wajahnya memerah karena diperhatikan Hendra.
__ADS_1
Hendra tak menyangka Keira tak menolak pemberiannya.
"Ada lah bu. Udah di catat di lauh mahfuz. Anis tinggal minta aja sama yang ngasih jodoh. Itu juga kalo bapak ini gak cepet cepet ibu simpen. Anis juga mau bu, sama bapak" Anis berbicara malu malu. Sebenarnya dia hanya menggoda sang bos yang kedapatan beberapa kali tersenyum sendiri.
Sejak dia bekerja di toko, tak pernah dia melihat bosnya seperti itu.
"Enak aja" tukas Keira.
"Dari pada mubazir bu"
"Gak akan lah" Keira melirik pada Hendra takut takut.
Takut ketahuan jika dia menyimpan rasa aneh terhadapnya.
"Gak akan mubazir, Nis. Kamu tenang aja. Nanti juga nyosor sendiri" timpal Hendra sambil menatap lembut pada Keira yang kini menunduk dan memilin ujung kaosnya.
"Dudududu... Anis beberes dulu aahhh..." Anis yang mengerti dengan situasi segera menyingkir sebelum dijadikan obat nyamuk oleh mereka.
Hendra mendekati Keira dan menarik salah satu kursi di meja makan.
"Kita perlu bicara" ucap Hendra memberikan kode pada Keira agar duduk juga.
"Bi.. bicara apa?" gugup Keira.
Hendra mengulum senyum.
"Kamu gugup?" alis Hendra mengangkat sebelah sembari menahan tawa.
"Eng.. engga.. k- kenapa harus gugup?" jawab Keira terbata. Dia lantas mengatur nafasnya. Meredakan debaran jantung yang membuatnya gugup.
Kemana larinya keberanian dia saat harus menyembunyikan perasaannya?
"Ekhem.. mengenai lahan belakang rumahku. Aku pikir, aku akan membangun rumah untuk anak anak kita"
"Hah?"
"Emm.. maksudku Arga dan Aretha. Ya, mereka" Hendra memalingkan wajahnya, sedikit mengatur nafas, karena kini dia yang gugup setelah mengeluarkan kalimat yang ambigu.
"Aku pikir mereka nanti akan sibuk dengan dunia mereka nantinya, dan kita akan kesepian. Kalau mereka tinggal denganmu, tak adil bagiku. Begitupun sebaliknya.
Kalau rumah mereka berdekatan dengan kita pasti tak masalah jika mereka sibuk. Toh kita bisa mengunjungi mereka kapanpun. Apalagi kalau sudah ada cucu. Pasti tak sulit jika mereka ingin menitipkan mereka pada kita" Hendra menyampaikan maksudnya dengan lancar.
"Terus? Aku tinggal bersama mereka, begitu?" Keira menegaskan kalimat yang mengganjal.
"Kamu mau tinggal sama aku?"
__ADS_1