
"Waktu itu kita jalan jalan pake motor Aretha. Bukan salah kita juga kalo tiba tiba hujan angin gak berenti berenti. Kita udah berteduh. Cuma karena lama banget sampe malem belum berenti juga, Aretha pingsan kedinginan. Untung Arga sigap bisa bawa Retha cepet cepet ke rumah sakit. Kalo enggak, Retha pasti udah nemenin mama di surga"
Hendra terkesiap mendengar penuturan sang anak.
"Bukannya berterima kasih, eh malah disuruh ngejauh. Nanti nyesel loh kalo Retha nikah sama yang lain"
"sst.. Retha" Arga memberikan kode untuk menutup mulutnya.
"Ekhem.. jadi.. kapan orang tua mu mau resmi melamar anak saya?" Hendra tak mau lama lama mendengar ocehan sang anak. Dia memang benar. Hendra akan menyesal kalau sampai Arga tak menjadi menantunya, seperti yang selama ini dia inginkan.
"Secepatnya tu- ah pak-"
"P A P A, panggil papa, sayang" tukas Aretha meralat panggilan untuk calon mertuanya ini.
"Eh, i iya. Se secepatnya.. pa"
......................
"Fuhhh... ternyata gak semudah itu menghadapi calon mertua" Arga merasa lega saat berada diluar ruangan calon mertuanya.
"Ahahaha... uututututu... kecian yang gugup.." ledek Aretha sembari terus menyeka keringat Arga.
"ekhem.. bukannya kerja malah pacaran" Hesti datang dengan muka masam. Matanya mendelik kearah Aretha. Lalu tangan dengan kuku panjang yang di cat artistik memegang pundak lebar Arga.
"Arga, disuruh bos tuh ke divisi marketing. Katanya ada masalah sama keamanan komputer di divisi marketing" Hesti berucap sembari mengelus pundak Arga. Namun Arga segera menyingkirkannya.
"Aku yakin gak ada masalah. Lagi pula kalau pun ada masalah, ponselku akan memberi tanda" Arga memberikan senyum yang dipaksakan lalu menarik lembut tangan sang tunangan menjauh dari setan jadi jadian.
"Dasar.. iiii kesel.. mo jadi pelakor aja susah.." Hesti menghentak hentakkan heels nya dengan kesal.
"Ma... mau gak.. lamarin Aretha buat Arga?" Arga bertanya ragu ragu. Ada secercah harapan karena sang mama sangat menyukai gadisnya.
"Gak" dengan tegas Keira menolak. Dia jadi teringat surat yang merendahkan mereka kala itu.
Arga terkesiap mendengar jawaban tegas nan lantang dari sang mama.
"Kenapa? bukannya mama suka sama Retha?"
"Dulu. Sekarang milih engga"
Mata Arga memicing. Tak mengerti dengan penuturan sang mama.
"Alasannya?" lanjut Arga bertanya.
"Karena kita miskin"
__ADS_1
"Apa hubungannya?"
"Ya kalo kita miskin pasti nyusahin, bikin malu"
"Kok mama mikir kek gitu?"
"Pokoknya mama gak mau. Kamu cari cewek lain yang sederajat sama kita aja. Pabalatak (berserakan) kok"
"Bukan itu intinya, ma. Apa mama gak pernah jatuh cinta? kita gak bisa sembarangan menjatuhkan hati kita sama sembarang orang kan?" ujar Arga sendu.
"Gak. Mama gak pernah jatuh cinta. Mama cuma pernah jatuh tertimpa tangga. Dan sakitnya tuh sampe sekarang gak pernah ilang" tiba tiba Keira menitikan air mata kala mengungkapkan apa yang dia simpan sendiri dalam hati.
Arga yang diam diam mengetahui kepedihan sang mama mendekati dan merengkuhnya dalam pelukan.
Betapa kuat sang mama menanggung penderitaannya sendirian. Mama bahkan menyembunyikannya dari Arga karena tak mau Arga membenci sang papa.
"Maafin Arga kalo Arga egois. Gak apa apa kalo mama gak mau. Arga gak masalah sama mama seumur hidup"
degg
Keira terkesiap dengan penuturan Arga dan langsung menghentikan tangisnya.
"Enak aja. Cari istri sana. Masa mau ngerepotin mama terus? Apa kata orang nanti. Masa punya anak ganteng gak laku. Dipikir kamunya bermasalah. Ga bisa ga bisa. Pokoknya kamu harus cari istri"
"Yah mama. Di grosir gak ada stok istri, ma. Lagian Arga kasih stok yang instant mama gak mau. Tinggal dateng, iket, beres"
"Yah mama. Jangan dong. Nanti malah mama yang babak belur"
"Emang kenapa? keroyokan ya?"
"Bukan gitu. Papanya Aretha badannya gede banget ma. Keker. Beuuh.. pokoknya kalo mama piting juga yang ada malah tangan mama yang patah. Damai aja damai, ya ya" Arga mengangkat telunjuk dan jari tengahnya .
Keira menciut nyalinya kala Arga mendeskripsikan penampakan papanya Aretha.
"I iya iya. Damai"
"Hehe.. gitu dong" Arga memeluk Keira dengan sayang.
"Kamu.. ngomong ngomong udah ngelamar Aretha?"
"Udah"
"Kapan?"
"Tadi pagi"
__ADS_1
"Tadi pagi? pake apa?"
"Orang ngelamar pake apa?"
"Uangnya dari mana? gaji kamu kan dikasih semua ke mama. Gaji nganterin bunga gak seberapa pula. Pasti habis buat jajan sama kuota. Terus? kamu selingkuh?"
"Ya ampun ya ampun, belom juga nikah udah ngebahas selingkuh"
"Nyembunyiin penghasilan itu juga namanya selingkuh. Kalo kamu bilang sebagian uangnya mo ditabung buat beli cincin ya gak pa pa"
"Gak ada selingkuh selingkuhan, mama sayaaang.. iih gemes deh. Arga dapet bonus dari temen temen Arga kalo komputer mereka kena virus"
"Ck, kirain"
Hari sabtu ini jadwal Arga dan sang mama mengunjungi rumah tunangan Arga. Karena mereka tak punya sanak saudara lain, jadilah Keira hanya sendirian yang menjadi wali.
Arga tadinya mau menyewa mobil untuk acara. Namun sang mama melarang. Dia pikir calon besannya harus tahu kondisi sebenarnya keluarga kecil mereka. Tak perlu sok sok an bergaya pake mobil orang. Bukannya tidak menghargai, hanya saja Keira memilih apa adanya. Kalau pihak keluarga Aretha memilih mencibir, ya mending dari sekarang saja mundur. Toh laki laki tak ada batasan usia kadaluarsa. Beda dengan perempuan. Yang penting ketulusan dan saling menyayangi.
Mereka memasuki gerbang yang menjulang tinggi. Mereka sempat dihadang satpam karena mengendarai motor trail. Jika saja mereka tak menyebutkan nama Arga sebagai calon menantu pemilik rumah ini, mungkin mereka sudah di lempar ke jalan.
"Buset ni pager apa penjaraan? serem amat" Arga menggelengkan kepala dengan tingkah absurd sang mama.
"Ma, plis deh jangan sok udik ah. Nanti kalo papa nya Aretha ilfeel sama Arga gimana?"
"Haha.. kan di filem filem gitu kan say, orang miskin kalo dateng ke rumah orang kaya pasti kampungan kelakuannya"
"Mulai deh bahas si miskin lagi. Kita tuh gak miskin mama sayaaang. Ni idung udah bangir kalo pesek di operasi abis berapa? bibir bisa seksi kek gini, kalo disulam juga abis berapa? Mama punya semua yang cewek cewe idamkan. Dan itu gak bisa dihitung dengan uang. Lagian Arga sekarang udah kerja, gaji nya juga lumayan. Mama udah gak usah kerja juga Arga bisa menuhin semua kebutuhan mama. Udah ya mah, damai sama diri sendiri ya" Arga memeluk tubuh mungil wanita yang usianya kini tak muda lagi.
"Iya tapi nanti mama ditinggal" Keira sedikit terisak.
"Enggak mungkin lah ma. Arga sama Retha pasti bareng sama mama kok. Udah, masuk yuk. Pasti udah ditungguin"
Arga menggiring Keira sang mama ke pintu utama.
"Mamiiii.... Retha kangeeeen..." Aretha yang membuka pintu langsung memeluk Keira dengan senangnya.
"Mami..?" batin Hendra.
O EM JIII. MAAP SEMALEM OTHOR KETIDURAAAN
BANGUN BANGUN TULISANNYA DAH ACAK ACAKAN
KEPAKSA DEH TAK EDIT LAGIπππ»ββοΈππ»ββοΈ
BARU KETEMU SETITIK YA
__ADS_1
KEPOIN TEYUUSπ