Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Galak Tapi Baik


__ADS_3

Tok


tok


"Ekhem.. masuk sayang" terdengar suara dari dalam.


Ceklek


"Ngapain kamu kesini?"


......................


Keira tiba di apartemen sederhana miliknya yang kini ditempati anak dan menantunya.


Untunglah mereka tak mengganti password akses nya.


Saat memasuki unit, Keira salut pada pasangan baru ini yang selalu menyempatkan membersihkan rumah meski keduanya bekerja.


Langkahnya ia seret untuk mencari keberadaan kotak rahasia milik mendiang suami.


Lama mencari namun tak ditemukan juga. Hingga Keira merasa frustasi.


Pencarian itu menguras tenaga dan emosi nya. Berbagai rasa bercampur aduk bagai nano nano tanpa rasa manis.


Keira melangkah ke dapur, rasa lelahnya membuat tenggorokannya terasa kering.


Ia rehat sejenak sembari mengisi paru paru nya dengan oksigen dan menenangkan pikiran lalu meneguk air yang telah ia isikan kedalam gelas.


"Makan mi enak nih keknya" perutnya tiba tiba minta diisi.


"Makan? ya ampun jam berapa ini? ayang pasti nunggu masakan aku" panik Keira yang melupakan kewajibannya membuat makanan untuk Hendra sang suami. Dia ingat Hendra sering mengabaikan waktu istirahatnya demi menyelesaikan pekerjaannya.


Keira lantas mencari bahan makanan di kulkas dan memasak 2 macam menu.


Saat dia mencari panci penanak nasi di bawah meja saji, dia melihat kotak milik Jodi yang sedari tadi dia cari.


Keira segera mengambilnya keluar


"Kenapa isinya alat alat makan?"


Keira terkejut saat membuka kotak rahasia yang setahunya selalu di gembok namun kini yang dia temukan bukan hanya tak digembok tapi sepertinya isinya telah berpindah tempat.


"Tapi siapa yang mindahin?"


"Apa Arga? atau Aretha?" tebak Keira yang merasa tak melihat kejanggalan dari sikap keduanya.


"Tanyain jangan ya?" Keira merasa bingung dan dilema. Jika ditanyakan, takut membesar masalahnya. Tak ditanyakanpun masalahnya dia penasaran dengan isi kotak itu. Dia takut ada hal mengerikan yang bisa memporak-poranda kan keluarga mereka.

__ADS_1


"Sabaaaar sabar.. tetaplah seluas samudera ya bar" gumamnya menyemangati kesabarannya yang tahu jika masalah ini tidaklah sederhana.


Keira lanjut memasak untuk ketiga orang kesayangannya.


Waktu istirahat hampir tiba. Dengan cekatan Keira memasukan 4 kotak makan dalam 1 kantong.


"fuhh..."


Keira menarik dalam oksigen lalu menghembuskannya perlahan untuk menghalau rasa gugup.


Dia harus menahan diri untuk tak terburu buru menuntaskan rasa penasarannya.


Banyak yang dipertaruhkan jika dia bertindak gegabah.


Dia tak bermaksud menyimpan rahasia ini sendiri, dia akan mencari moment yang pas.


Pertama tama dia harus menanyakan perihal kotak rahasia itu pada Arga terlebih dahulu.


Keira mantap melangkahkan kakinya keluar apartemen dan memesan ojol.


Meski panas terik, dia tak peduli. Dia tak mau ketiga orang itu melewatkan jam makan siang mereka dan membeli dari kafetaria.


Selama dia sanggup untuk menyiapkan, tak masalah jika harus pulang pergi untuk sekedar membawakan makanan buatannya sendiri. Akan lebih terjamin kebersihannya jika memasak sendiri pikirnya.


Keira tiba di depan lobby gedung kantor Hendra. Dia segera turun dan menyerahkan helm milik driver lalu menyerahkan selembar uang berwarna merah.


Keira melirik pada kantong kecil milik sang driver dimana kantongnya telah terisi penuh dengan uang berbagai pecahan, mulai dari yang warnanya mirip dengan pecahan berwarna hijau hingga pecahan berwarna merah tampak komplit mengisi kantongnya.


Hhhhh


Keira tadinya tak akan meminta kembalian. Dia puas dengan kecepatan sang driver sehingga dia tiba sebelum waktunya jam istirahat.


Dia hanya tidak suka dibohongi.


"Pak tuker dong jadi 2, ada gak?" Keira mencoba bertanya pada security yang tengah berjaga di depan pintu lobby.


Keira ingat security itu yang pernah dia tendang selangkangannya karena menghalau serangan dia pada lelaki arogan yang menabrak sepedanya tempo hari.


"Oh, a ada bu" dengan tergagap, lelaki berseragam putih ber name tag Solihin itu merogoh saku nya dan menyodorkan 2 lembar uang berwarna biru. Namun Keira hanya menarik 1 lembar.


"Nih pak. Kembaliannya buat beli gado gado" Keira menyerahkan selembar uang berwarna biru pada mamang ojol yang kini mukanya ditekuk.


"Ya makasih mbak" mamang ojol menerima dengan wajah masam dan langsung menarik gas motornya.


"Yeee, gak tau diri. Modus gada kembalian biar dapet banyak. Masih untung gak dikasih uang pas masih dapet lebih. Dasar serakah" gerutu Keira yang bisa didengar sang security yang kembali waspada jika wanita ini kembali memicu keributan.


Keira melangkah masuk pintu lobby yang berputar. Sang security sadar akan sesuatu.

__ADS_1


"Bu.. bu.. maaf.."


"Apa.." sentak Keira membuat nyali Solihin ciut.


"Ya ampun galak bener si ibu. I ini uangnya belum diambil semua bu" Solihin mengingatkan takut takut.


"Ooh. Buat bapa aja. Udah mau waktu istirahat kan?" Keira melanjutkan langkahnya mantap.


"Ya ampun. Galak tapi baek. Ada ya modelan kek begitu. MAKASIH BU" teriak Solihin di akhir gumamannya meski Keira sudah berada didepan pintu lift dan pasti tak mendengar teriakannya, namun security itu tak lupa berterimakasih.


Rejeki emang datengnya tanpa diduga.


Keira mendekap kantong bekal itu sambil menunggu pintu lift terbuka bersama dengan beberapa orang tamu yang memakai badge bertuliskan 'Visitor'.


"Kenapa kamu gak ambil badge dulu?" tanya seseorang berpakaian rapi nan elegan.


Keira hanya meliriknya sekilas lalu kembali menghadap pintu lift dan mengulas senyum miring.


"Ini mau ambil diatas" jawabnya santai tanpa ada nada sopan dari kalimatnya.


"Kamu si tukang bunga kan? apa kamu dipecat lalu jadi kurir makanan? tampaknya bukan restoran terkenal"


Keira mendelik dan mengacuhkannya.


"Jangan jangan makanannya juga gak higienis, asem kayak kurirnya" tanpa melirik pada Keira, laki laki arogan itu terus mencari perkara.


"Heh, asem belum tentu basi. Telur aja yang cangkangnya bagus ternyata isinya busuk"


"Siapa yang kamu maksud busuk?"


"Telur lah. Emang situ ngerasa jadi telur?"


"Kamu-"


"Mamiiii... bawain makan siang ya? sini mi pake lift ini aja" Aretha yang baru datang dari sehabis meeting dengan klien dari luar segera menghampiri Keira.


Dia menyaksikan aura ketegangan ibu sambungnya dengan atasannya.


"Kamu kenal wanita ini? kenapa pake lift itu? kamu juga gak ber hak pake lift itu" sergahnya yang tak terima wanita barbar ini mendapat perlakuan khusus.


"Saya memang gak ber hak karena saya karyawan biasa. Tapi dia berhak karena istri pak Hendra. Permisi pak, beliau sudah ditunggu bos besar" pamit Aretha akhirnya yang tak mau beradu argumen dengan atasannya yang super cerewet mengalahkan Bu Lilis yang akan merepet kala karyawan mengajukan kasbon.


"Istri bos? heh gak nyangka seleranya seperti itu" sarkasnya membuat Keira hendak memberi suapan sepatu flat nya pada mulut pedas Alex.


"Udah mi, biarin aja. Motor butut cuma kenceng di suara, tarikannya mah gada apa apanya" Aretha menenangkan Keira tanpa terdengar oleh yang bersangkutan sambil menggiringnya masuk lift khusus Hendra.


SATU PART LAGI MALEMAN YAK

__ADS_1


__ADS_2