Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Tolong Bertahanlah


__ADS_3

..."Arga gak bisa bikin mama bahagia. Arga.. Arga kehilangan senyum mama....


Dulu.. keluarga kecil kami sangatlah bahagia. Papa dan mama yang saling mencintai tak lagi Arga lihat saat papa mengejar wanita yang katanya adalah cinta pertama papa waktu kita liburan di Bali.


Mama memilih membawa Arga dan meninggalkan papa, merelakan papa demi ambisinya untuk kembali bersama wanita itu. Tapi ternyata.. papa kembali dalam keadaan yang sangat menyedihkan.


Arga sedikit merasa puas kala mengetahui papa menderita karena menyakiti hati mama. Tapi mama yang berjiwa besar mau menerimanya kembali. Dan sejak saat itu mereka kembali bersama, namun hanya sebagai teman.


Mama menyembunyikannya dari Arga, tapi Arga tau. Arga sering mendapati papa menangisi sebuah foto wanita.


Bagai mana bisa papa masih mencintai wanita yang jelas jelas bukanlah pasangan sah nya.


Arga bertekad, Arga akan memberikan seluruh cinta Arga buat mama.


Wanita sehebat dan se sempurna mama, disia siakan papa. Arga marah.


Dan Arga baru melihat pancaran cinta di mata mama saat bersama papa Hendra.


Arga.. Arga cemburu.."


Panjang lebar Arga menjelaskan penyesalannya sambil menunduk.


"Jadi maksud mu?" Hendra bertanya sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Tolong.. kembalikan keceriaan mama. Kembalilah ke rumah kami bersama Aretha.


Mama.. akhir akhir ini tak mau makan bareng Arga. Bahkan mungkin dia tak makan. Tubuhnya sangat kurus. Mama.. mama bahkan tak mau berbicara pada Arga"


Kelemahan seorang Arga Prasetya terlihat saat seperti ini. Air matanya jatuh setetes demi setetes.


"Hhhh.. asal kau tau. Tak mudah membujuk Retha"


Arga terkesiap. Penampilan Arga yang menampakan jejak air mata di pipi bak anak lelaki berusia 9 tahun yang habis merengek pada orang tuanya.


"Tapi.. tapi papa mau maafin Arga, kan?"


"Papa gak pernah marah sama kamu. Papa hanya memberimu waktu untuk berfikir"


Arga tersenyum jumawa. Setidaknya papa mertuanya tak marah padanya. Dan itu artinya dia memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


Apapun akan dia lakukan demi kembalinya keutuhan keluarga kecilnya.


Setelah nenek dan kakeknya meninggal 5 tahun yang lalu, Arga dan sang mama tak punya sanak saudara lagi karena sang mama merupakan anak tunggal.


"Kemarilah" Hendra menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya dengan mengambil kursi lain.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Hendra pada Arga dengan menunjuk pada layar monitor yang menampilkan tayangan ulang dari depan ruangan Tommy.


Tampaknya ini dari cctv mikro yang ia temukan tadi.


"Ini kan Hesty, pa. Anak staf keuangan" Arga lantas memperhatikan tingkah Hesty yang terlihat tengah menggoda Tommy sambil duduk di meja kerjanya.

__ADS_1


Tapi ada yang aneh.


Saat satu tangannya memainkan dagu dan pipi Tommy, sebelah tangannya ia gunakan untuk mengetikan sesuatu di keyboard komputer Tommy tanpa sepengetahuannya. Dan itu terjadi siang tadi. Saat jam istirahat baru dimulai.


"Papa menduga dia pelaku peretas akhir akhir ini?" tebak Arga.


"Yap. Tapi sepertinya dia dipandu. Dan tampaknya wanita ini cukup ahli. Lihat saja caranya mengoperasikan tanpa melihat layar"


"Papa benar. Lulusan mana dia, pa?"


"Tampaknya keahliannya bukan dari pendidikan formal. Karena menurut CV nya, dia lulusan Akuntansi"


"Apa papa punya rekaman waktu itu?"


"Sayangnya cctv itu baru papa pasang setelah hari itu. Tapi ada satu orang lagi yang menyerang firewall kita waktu itu, dan itu masih dari gedung ini, disuatu tempat"


Arga kembali ke ruangannya. Untungnya dia sempat ke kafetaria untuk membeli susu kemasan dan roti isi.


Dia telah membuat rencana dengan mertuanya untuk mengungkap pelaku penyusup sistem keamanan dan apa motifnya.


Hendra pulang sebelum waktunya pulang kantor. Dia telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Daripada dia diam dan memikirkan hal yang membuat hatinya gundah.


Tetap saja, selama dia pergi dan pulang bekerja, dia selalu memerintahkan Beno agar melewati toko besannya.


Namun hatinya selalu hampa kala menemukan jika toko bunga itu tutup. Bahkan setelah satu minggu ini, toko itu tetap setia tutup.


Hendra menghela nafas kala apa yang ingin dia lihat tak bisa dia lihat.


Dia merindukan sosok mungil nan bar bar itu.


Dia merindukan masa masa menggoda besan imutnya itu.


"Ke pemakaman, Ben"


"Baik pak" Beno menatapnya dari spion.


"Si bos minum obat apa? beli dimana ya? lumayan efektif jadi telingaku dingin" gumam Beno dalam hati yang terheran dengan keterdiaman bos nya seminggu terakhir ini.


"Hai Leona. Aku datang. Maaf, aku tak membawa bunga kesukaanmu.


Leona, apa kau marah padaku? kupikir, kamu yang mengirim dia padaku. Tapi kemudian dia pergi.


Tidak.


Aku yang memilih pergi.


Maafkan aku yang mulai mencintai dia.


Salahkah aku jika aku membutuhkannya untuk mendampingiku?


Lalu kenapa kamu gak jemput saja aku, agar kita selalu bersama?

__ADS_1


Katakan, Leona


Apa yang harus aku lakukan?


Aku..


Aku mencintainya, Leona"


Pengakuan itu dia utarakan sambil menitikan air mata.


Lama dia merenung didepan pusara mendiang istrinya. Hingga langit memberinya tanda untuk menghentikan renungannya.


Hendra mengusap wajahnya yang telah dijatuhi tetesan air dari langit.


Saat kepalanya ia tegakan dan mengedarkan pandangannya ke sekitar area pemakaman untuk memastikan tak ada yang memperhatikan dan mengetahui sisi terlemahnya, dia menangkap sosok seseorang sedikit jauh dari pusara istrinya terjatuh.


Sepertinya pingsan.


Hendra memutar kembali kepalanya melihat sekitar yang ternyata tak ada satupun orang disana, diapun segera berlari kearah orang yang terjatuh itu untuk menolongnya.


"Ya Tuhan. Flo... Flo.. bangunlah.."


Hendra terkejut kala jaraknya mulai dekat dengan orang yang hendak dia tolong ternyata adalah besannya. Besan yang sangat ia rindukan.


Hendra membopongnya dan membawanya ke mobil.


"Bos.. itu kan.."


"Cepat ke rumah sakit" titah Hendra tegas dengan wajah yang menyiratkan kekhawatiran.


Hendra memeluk erat Keira yang telah basah karena terguyur hujan. Dia lantas membungkusnya dengan jas nya yang tersampir di sandaran kursi depan.


Tubuh Keira panas. Dia demam tinggi.


Hendra khawatir hal itu berpengaruh pada syarafnya.


Tiba di depan rumah sakit dia segera membopongnya ke arah IGD yang kemudian disambut oleh beberapa petugas medis dengan membawa brankar.


Hendra meletakkan Keira perlahan dan mengikuti kemana petugas medis membawanya.


"Pak, maaf. Bapak tolong tunggu di sini. Kami akan memeriksanya"


Hendra menjatuhkan pantatnya di kursi tunggu didepan ruang IGD.


Masih terasa tubuh Keira yang sangat kurus berada di pelukannya dengan suhu tubuh yang sangat panas.


Tangannya bergetar. Air matanya berkumpul di pelupuk matanya.


"Tolong bertahanlah" ucap mantra Hendra berkali kali.


Dia berharap Tuhan mempertemukan mereka kembali untuk bersatu.

__ADS_1


Dia akan mempertahankannya.


Dia tak ingin melepasnya lagi.


__ADS_2