
Hendra akhirnya dengan senang hati meng-apa apakan Keira, sang korban.
Setelah drama rengekan Keira yang mengatasnamakan 'malam pertama yang tertunda' , pasalnya Keira keburu diculik, jadi mereka melewatkan malam pertama.
Heh, yang bener aja neng. Dah malem keberapa juga ngemodus ae🤦🏻♀️
Keira benar benar wanita kuat mental, dia bahkan tak merasa trauma setelah hampir dilecehkan. Hendra tadinya menahan hasratnya kala memandikan Keira, dia takut Keira trauma saat hendak melakukan hubungan suami istri. Hendra benar benar tak bisa menahan diri kala berdekatan dengannya. Untunglah Keira meminta lebih dulu, jadi dia tak segan melayani permaisurinya.
Mereka berpelukan dalam damainya tidur, setelah mengacak acak kamar.
Mentari menggeliat.
Menyibak selimut kabut dan menghangatkan bumi.
Keira sudah terjaga, namun dia masih betah bermain main dengan hidung dan rahang Hendra, terlebih bibirnya.
Sambil terkikik Keira menyusuri dan menggelitik hidung mancung Hendra.
"Sayang" bisiknya di telinga Hendra dengan sedikit menjilatnya.
"Enghh... hentikan, Leona"
degg
Hendra masih memejamkan matanya. Ada rasa sesak.
Baru kali ini Hendra menggumamkan nama mendiang istri Hendra. Tapi rasanya lebih menyakitkan dibanding memergokinya bersama Isabel tempo hari.
Apakah ini berarti dia cemburu?
Cemburu terhadap yang sudah tak ada?
Apa pantas?
Keira menggelengkan kepalanya dengan cepat, menyingkirkan pikiran buruk yang membuat hati jadi julid.
Dia lantas beranjak menuju kamar mandi. Sedikit berendam air hangat semoga bisa sedikit membuat luka tubuh dan hatinya lebih baik.
Semoga.
Keira selesai dengan mandinya. Dilihatnya sang suami masih setia memejamkan mata sambil tengkurap.
Ugh, jika saja dia sedang dalam mood yang baik, bokong polos itu akan menjadi sasaran kejahilannya. Keira menyelimutinya sebelum hilang akal untuk benar benar menggigitnya.
Dia lantas turun ke dapur untuk membuat sarapan sederhana. Dibukanya kulkas lalu dipindainya bahan bahan yang isinya ternyata komplit.
__ADS_1
Hendra benar benar menyiapkan segalanya.
Keira memutuskan membuat omlet sayuran.
"Pagi sayang" Hendra tiba tiba memeluknya dari belakang dengan suara parau dan kepalanya bertumpu pada pundak Keira.
Keira sedikit berjenggit terkejut karena pikirannya sedang tidak ditempat.
"Pagi juga" Keira mengusap kepala Hendra, namun ada yang aneh. Dia lantas menyelesaikan masakannya lalu berbalik.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Keira karena Hendra berkeringat.
Hendra menjawab dengan gelengan kepala.
Keira menuntunnya untuk duduk di kursi makan.
Apa yang terjadi, kenapa kamu keringetan kek gini. Perasaan olah raganya tadi melem, apa kamu olah raga sendirian sampe keringetan?" selidik Keira dengan menyipitkan mata. Maksudnya adalah olah raga solo di kamar mandi.
Hendra menggeleng putus asa. Dia lantas turun dari kursi makan yang tingginya sekitar 80cm itu lalu kembali memeluknya erat.
"Berjanjilah padaku, apapun nanti yang terjadi menghampiri kita, kita akan mempertahankan hubungan kita, berjanjilah kamu akan mempertahankan aku" bisiknya sendu tersirat kesedihan dan pengharapan.
Keira melepas rangkulan Hendra dan menangkup pipinya.
"Apa kamu mimpi buruk?" tebak Keira.
"Jangan pernah meninggalkanku meski aku yang meminta. Pukul aku untuk menyadarkanku kala itu terjadi" pesannya yang seketika membuat tenggorokan Keira tercekat.
"Apa ini ada hubungannya dengan mendiang istrimu?" akhirnya Keira memberanikan diri untuk mengungkapkan kegundahan hatinya.
Tanpa disangka, Hendra kembali mengangguk.
"Sudahlah. Aku tak mau membahasnya. Aku hanya mau terus bersamamu seharian"
Keira berusaha menetralkan hatinya agar bisa menghibur suaminya yang tampak sendu.
"Sarapan yuk"
Keira mengambil piring yang telah diisi omlet sayur yang berisi potongan wortel, kacang polong, dan bawang bombay lalu menyuapkannya bergantian tak lupa kopi hitam sebagai pelengkap sarapan pagi.
Seminggu berlalu. Mereka melupakan mimpi buruk Hendra karena menghabiskan bulan madu mereka dengan kualitas yang baik meski tak pergi ke luar negri seperti keinginan Hendra.
Keira mengakui jika dia tak suka naik pesawat. Katanya kalau naik pesawat itu seperti masuk peti mati.
Seperti biasa Hendra berangkat ke kantor setelah sarapan. Pagi ini tampak lebih semangat dari biasanya. Pasalnya perusahaan internasional yang bergerak di bidang industri transportasi, tepatnya produsen mobil mewah yang pernah menjadi incaran perusahaannya, meminta bertemu untuk mengenal produk yang Hendra miliki di bidang keamanan sistem keamanan data. Dan mereka menjadwalkan pertemuan siang ini di kantor Hendra sekalian meninjau langsung mesin yang akan mereka sewa.
__ADS_1
Namun anehnya, perwakilan perusahaan itu yang berpusat di negara adikuasa meminta hidangan rumahan untuk makan siang mereka. Mereka terbiasa dengan hasil masakan restoran, tapi mereka ingin merasakan masakan rumahan dengan menu yang sama dengan yang biasa mereka makan di restoran.
Hendra sempat bingung, namun Keira menyanggupi sebagai bentuk dukungannya untuk usaha sang suami.
"Kamu yakin bisa mengatasinya?" tanya Hendra memastikan. Keira mengangguk pasti sebagai jawaban, dan itu membuat Hendra semakin mengaguminya.
Hendra tersenyum lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Baiklah, aku tunggu dikantor. Kalau sudah siap, biar Beno yang jemput. Ingat jangan menyusahkan dirimu sendiri dengan menaiki taxi membawa semuanya, ok"
"Iya, bawel. Iyaa"
Hendra mengecupnya lagi.
"Jangan dandan terlalu cantik. Aku tak mau bertambah saingan" teriaknya kala sudah berada di luar.
Keira hanya tertawa. Perasaan dia tak pernah dandan. Pikirnya.
Keira segera menyiapkan bahan dan mulai mengolahnya. Untungnya hari ini adalah jadwal asisten rumah tangganya datang, jadi dia bisa meminta bantuan padanya dan memberikan uang tambahan sehingga pekerjaan memasaknya selesai lebih cepat.
Keira menghubungi Beno untuk menjemput. Sambil menunggunya datang, Keira bersiap siap, mandi dan sebagainya. Seperti saran Hendra, dia hanya tampil rapi dan dandan sederhana. Meski selama ini dia tak pernah berlebihan dalam berdandan.
Tiba di perusahaan, Beno dibantu beberapa karyawan dan security untuk membawakan hidangan. Keira memerintahkan agar menggunakan lift khusus Hendra, bos besar mereka agar tak mengganggu pengguna lift umum.
"Sarah, apa saya terlambat?" tanya Keira pada sekertaris Hendra yang langsung bangkit dan membukakan pintu.
"Tidak, bu. Tapi semua sudah menunggu. Silahkan"
Sarah membuka 2 daun pintu agar akses masuk untuk orang orang yang membawakan hasil masakannya leluasa.
Keira langsung menghampiri Hendra untuk menyapa dengan mengecup pipi kiri dan kanannya lalu mengatur tata letak hidangan yang disimpan diatas meja panjang yang sudah disiapkan Hendra.
Tanpa Keira sadari, sepasang mata tengah memperhatikannya dengan ekspresi senang. Senyumnya reflek melebar kala melihat tampilan berbeda dari Keira.
"Beno, apa kau tak ikut makan disini?" tanya Keira.
"Ah, tidak nyonya. Biar saya makan diluar saja" jawabnya sambil melirik pada Sarah yang tengah membereskan mejanya dari berkas agar tak ketumpahan makanan yang dibungkuskan khusus untuknya oleh Keira. Alasannya adalah jika suatu saat Keira membutuhkannya tak perlu menunggu Sarah selesai istirahat.
"Aaah, saya tau. Ciye ciyeee.. yang lagi pedekate" goda Keira pada Beno.
Keira kembali kedalam ruangan dan menutup pintunya. Saat berbalik dia dikejutkan oleh sosok yang dia kenal.
"Kamu.. ngapain kamu disini?"
SIAPA OH SIAPA GERANGAN
__ADS_1
AIOO JANGAN PELIT JEMPUOL GAIS
RAMAIKAN KOMEEEEN😆