
Karena tubuhnya masih lemah, Keira harus menghabiskan infus. Dan itu berlangsung selama kurang lebih 8 jam.
Hendra menghubungi Arga dan Aretha. Menjelaskan tentang kondisi mama mereka.
Sontak pasangan pengantin baru yang baru sebulan sah itu panik dan bergegas menuju rumah sakit dari tempat masing masing.
"Mama"
"Mami"
Panggil Arga dan Aretha bersamaan kala mereka masuk kedalam bilik Keira di ruangan IGD.
Mereka berebut untuk memeluk Keira.
"Arga minggir, aku dulu ihh"
"Gak mau, ini mama aku"
"Bodo amat. Aku kangen mami. Sana ah jangan deket dekeet"
Aretha berusaha menyingkirkan Arga yang terus memepet padanya. Namun Arga dengan sengaja menghalangi jalannya untuk memeluk Keira. Arga lantas memeluknya. Pelukan erat yang dirindukan Aretha. Wangi khas tubuh Arga yang memabukan Aretha membuatnya seketika merasa nyaman dan reflek membaringkan kepalanya di bahu Arga. Sejurus kemudian Aretha meronta, dia berusaha melepaskan diri dari jeratan pesona Arga.
"Lepas ih, jangan kek gini"
"Kenapa? kamu kan istriku"
"Istri apaan yang ditinggalin gitu aja?" sungut Aretha yang membuat Arga tertegun. Lalu menjauhkan sedikit tubuhnya sambil memegang kedua pundak Aretha.
"Maafkan aku, sayang." Arga langsung mengecup bibir Aretha dengan lembut, dan sedikit **********.
"Hadeeeeh.. yang sakit lagi baringan disini, hallloooow..." protes Keira yang merasa diabaikan kedua anaknya.
"Apa sih mami ganggu aja" Aretha balik protes pada Keira yang berharap ciuman Arga lebih lama lagi namun terinterupsi oleh protesan Keira.
"Lah, yang tadi sok jual mahal" gerutu Keira terheran dengan tingkah menantunya.
"Lanjut di rumah yuk" ajak Aretha akhirnya yang ingin meluapkan rasa rindunya pada sang suami selama seminggu ini.
"Eeeh.. gak nanyain keadaan mami dulu gitu ini?"
"Kan udah ada papa. Pasti sembuh laah" Aretha mengedipkan sebelah matanya pada sang papa.
"Ma, Arga pacaran halal dulu ya. Papa, jangan dulu nempel sama mama. Halalin dulu biar bisa kelonan" Arga segera melangkah keluar dari bilik.
"Itu anak minta di lem ya mulutnya" kesal Keira yang tiba tiba meraih sandal yang dia pakai lalu melemparnya kearah Arga.
"Gak kena, wlee"
Arga lantas berlari menarik tangan Aretha sambil terkikik.
Hendra menggenggam tangan Keira erat lalu mengecupnya, menggosokan ke pipinya yang kasar karena bulu yang baru tumbuh.
"Kamu kenapa gak cukuran?" tanya Keira sembari mengusap rahang kasar Hendra dengan sebelah tangan yang terbebas.
"Kamu kenapa gak makan?" Hendra balik bertanya.
"Ck.. malah balik nanya" birir Keira mengerucut.
__ADS_1
"Aku sibuk, sayang"
"Sekalian mandi kan bisa"
"Aku sibuk mikirin kamu. Gak ada waktu buat cukuran" Hendra menatap lekat Keira dengan sesekali mengecup tangannya.
Dagunya menopang pada pinggiran ranjang.
Keira mengulum senyum kala mendengar gombalan Hendra.
"Marry me" lanjut Hendra masih menatap lekat Keira.
"Hah? t-tapi.."
"Ini perintah"
"Kamu-"
"Beno, kamu segera kesini bawa penghulu. Sekarang" Hendra langsung menghubungi asistennya tanpa memberikan Keira kesempatan untuk protes.
"......."
"Rumah sakit harapan kita. IGD. Saya kasih waktu 2 jam" Hendra langsung mematikan sambungan telponnya dan kembali menopangkan dagunya pada pinggiran ranjang.
Keira ketar ketir dengan keputusan sepihak Hendra.
"Kamu apaan sih? main langsung merit aja. Lamar dulu kek, yakinin hati dulu kek, siapin dulu kek-"
"Aku udah yakin. Aku juga udah siap. Aku yakin kamu juga siap. Tunggu apa lagi? Kata agama juga segerakan lah apa yang harus di segera kan. Aku niat mau ngurusin kamu. Biar bebas dari fitnah dan jinah. Apa lagi yang jadi penghalang?" Hendra berkata mantap tanpa mengedipkan matanya.
"Kamu gak akan nyesel jadiin aku istri kamu?"
"Iya deh. Aku mau"
"Aku udah bilang. Aku gak lagi minta. Aku ngasih perintah. Mau atau gak mau, suka atau gak suka, kamu harus setuju"
"Idih. Sok tirani kamu ya"
"Iya. Itu aku. Kamu harus tunduk dibawahku"
Seketika hening.
Mereka mengartikan kalimat Hendra dengan cara yang sama.
Masing masing memalingkan wajah karena malu dan canggung.
"Adeeuuuuh... si Beno kemana tuh orang. Lama amat" gumam Hendra mengalihkan pikirannya sendiri.
"Udah gak sabar ya pak?" tanya Keira yang mengulum senyum melihat tingkah Hendra yang wajahnya kini memerah.
Kemana larinya sang tiran tadi?
cih, ngomong doang sok berkuasa, nyali tetep ciut kalo ngomongin begituan.
"Hehe.." Hendra tak bisa membalas pertanyaan usil Keira karena kini jantungnya kembali bermasalah.
Waktu menunjukan pukul 10 malam waktu setempat.
__ADS_1
"Bos, maaf saya baru dapet penghulunya di pelosok"
Beno datang dengan nafas yang terengah.
"Ada apa ini?" tanya Adam yang kebetulan lewat sehabis menangani pasien gawat darurat.
"Kebetulan. Dokter Jon, saya minta kamu jadi wali nikah Flo" Hendra menarik Adam untuk duduk di seberangnya. Sedangkan Beno menjadi saksi nya.
"Apa? kamu serius nikah sekarang?" tanya Adam yang keberatan dengan keputusan mereka untuk menikah saat ini juga di rumah sakit pula.
"Ya iya lah. Kan biar bisa ngurusin Flo dengan leluasa. Gak ada sangkaan atau fitnah. Betul pak penghulu?" Hendra meminta pembenaran dari penghulu yang mana adalah seorang ustadz.
"Betul pak. Sebaiknya disegerakan agar terhindar dari fitnah" tentu saja jawaban pak ustadz memihak pada Hendra yang membuat hati Adam mencelos. Dia pikir dia masih punya kesempatan untuk mengambil hati Keira setelah sekian lama menunggu.
"Gak usah nunggu aku jadi janda lagi, Jon. Kamu cari janda yang lain aja, kalo enggak dengan profesi kamu sekarang pasti banyak gadis baik baik yang mau sama kamu"
"Ck, ngomong mah gampang. Jalaninnya yang susah. Orang maunya sama kamu" gerutu Adam yang kemudian mendudukan diri di sebrang brankar Keira.
Pak penghulu kemudian memberi arahan pada Hendra dan Adam untuk saling menjabat tangan dan mengikuti arahan selanjutnya hingga proses akad dadakan itu dinyatakan sah secara agama dan negara.
Beno benar benar cekatan, dia dengan kemampuannya bisa mendapatkan kartu keluarga Keira, sehingga pernikahan mereka bisa langsung didaftarkan meski harus memohon dan mendramatisir pada pak penghulu.
Beno memberikan amplop yang cukup tebal pada pak penghulu karena telah memberikan waktu ekstra demi menjalankan amanah yang sedang diembannya. Dan selanjutnya Hendra membawa Keira pulang ke kediamannya setelah Keira menghabiskan 1 labu infus.
"Kamu boleh ambil libur 3 hari Ben" Hendra memberikan bonus yang cukup besar pada Beno selain libur bekerja selama 3 hari.
Libur 1 hari tanpa diganggu oleh panggilan sang bos saja Beno merasa berada di surga.
Ini 3 hari, bro.
Nikmat manakah yang Kau dustakan.
Hendra membopong Keira ala bridal style.
Keira merangkulkan kedua tangannya di leher sang besan yang kini menjadi suaminya.
Dia menatapnya lekat sembari tersenyum. Membuat wajah Hendra memerah karena tatapan Keira yang mampu membuat jantung Hendra kumat melompat lompat.
"Kamu mau mandi atau diseka aja?" tanya Hendra saat melangkah masuk ke dalam rumah.
"Dimandiin" goda Keira dengan manja.
"E eh.. kita makan dulu aja ya. Biar aku yang masukin.. eh masakin" gugup Hendra yang sudah membayangkan apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
"Iya sayang" bisik Keira di telinga Hendra yang tengah berkeringat hebat.
Hendra menempatkan Keira di kursi makan. Dia lantas memakai apron dan mencuci tangan.
Hendra mencari bahan yang bisa ia masak. Namun dia lupa jika dia belum sempat belanja sayur.
"Aku cuma punya telur, Flo. Apa kau tak masalah?"
"Gak pa pa. Apapun aku makan"
"Baiklah. Apa kau mau yang di ceplok atau di dadar?" lanjutnya bertanya sembari mencuci kedua telur itu.
"Aku maunya di kocok.
__ADS_1
Yang kenceng" jawab Keira nyeleneh.