Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Jangan Mimpi


__ADS_3

Hendra menitipkan perusahaannya pada Arga dan Aretha.


Karena Beno diberi jatah libur selama 3 hari, seluruh jadwal meeting ditunda 3 hari kedepan. Biasanya jika Hendra berhalangan hadir maka Beno lah yang mewakilinya untuk melakukan meeting.


Untung saja Aretha selalu diberikan bekal wawasan tentang perusahaan Hendra, jadi dia tak terlalu kewalahan dalam menggantikan sang papa dalam menjalankan perusahaan.


Dia hanya perlu mempelajari tentang perjanjian kontrak dan beberapa proposal permintaan kerjasama.


Untuk masalah saham dan sebagainya, sudah langsung terhubung dengan Hendra.


Sedangkan Arga yang menjadi tameng perusahaan secara cyber. Hendra percaya Arga bisa menangani dan menghadapi segala bentuk pembobolan sistem keamanan komputer.


Aretha yang sedang melakukan perjalanan dinas ke Semarang bersama tim marketing memaksa untuk pulang lebih dulu saat mendengar Keira dilarikan ke rumah sakit.


Untunglah head of division mengijinkan dan Aretha pun langsung kembali meninggalkan tim demi menemui sang mami tercinta. Yaa walaupun sedikit banyak berharap bisa bertemu dengan sang pujaan hati.


......................


Hendra mengajak Keira berbelanja ke supermarket.


Setelah drama sarapan telur yang tak kunjung selesai, Hendra ingin menghabiskan waktunya untuk menjaga dan memasak untuk sang istri.


Hari hari yang membosankan kini terasa lebih berwarna baginya. Bagaimana tidak, Keira yang cerewet dan selalu berkomentar mengenai segala sesuatu membuat Hendra selalu menerbitkan senyumnya karena menertawakan tingkah absurd sang istri.


"Kenapa kamu simpenin lagi?" tanya Hendra pada Keira yang mengembalikan beberapa bungkus tissue, shampo dan odol pada rak tempat sebelumnya.


"Kamu mau ngerampok ya? ngapain ngambil banyak banyak?"


"Ya buat stok dong sayang"


"Tapi gak usah banyak gini. Penghamburan tau. Mentang mentang rumahnya gede. Kenapa gak bikin supermarket sendiri aja kalo gitu"


"Nanti kalo abis kamu sendiri yang repot"


"Kalo abis ya tinggal beli lagi"


"Dimana belinya?"


"Ya di-"


"Warung? emang deket rumah ada warung? tetangga aja gak punya"


Keira bergeming, tampak terfikir akan ucapan Hendra.


"O iya, bapack bener" Keira lantas mengambil dan memasukan kembali barang barang yang sudah dia kembalikan tadi. Dia bahkan mengambil lebih banyak.


"Flo.. apa kamu mau ngerampok?" tanya Hendra membalas saat melihat Keira memenuhi troli dengan beberapa bal tissue. Keira menanggapi dengan tawa.

__ADS_1


30 menit berkeliling, namun troli tak kunjung penuh. Keira dengan penuh pertimbangannya selalu memilih yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan.


"Sayang, kamu mau apa buat diri kamu sendiri. Ini masa masih kosong gini. Sayuran sama daging kan bisa disimpen di kulkas. Ambil lagi yok"


"Aku gak perlu apa apa. Kalo sayuran paling cuma tahan 3 hari di kulkas. Mubazir lah. Paling stok telur aja agak banyakan. Retha suka kue" Keira fokus memilih barang untuk kebutuhan rumah. Sedangkan Hendra melipir ke koridor lain. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Hendra? kamu beneran Hendra kan?"


"Weni. Iya ini saya" senyum Hendra saat menatap barang yang menarik perhatiannya tetiba menghilang. Ekspresinya kembali datar.


"Ya ampuun, kamu gak berubah ya. Masih ganteng" ucap wanita bertubuh sintal yang tiba tiba menempelkan pipi kirinya ke pipi Hendra yang tak sempat mengelak.


Wanita ini memang sok akrab sedari dulu.


"Kamu belanja mingguan ya, sama Aretha?" Weni terlihat celingukan.


"Saya sama-"


"Ah yaudah, kita ngobrol dulu yuk di cafe sebelah. Aretha pasti nelfon lah, biasanya juga gitu"


"Tapi saya-"


"Gak pa pa, trolinya simpen sini aja. Aku perlu ngomong sesuatu sama kamu. Bentar aja"


"Ya kalo mau ngomong, tinggal ngomong aja disini. Ngapain ke cafe?"


"Sebentar aja. Masa ngobrolnya berdiri, kan pegel. Kita udah lama gak ketemu. Pasti banyak yang perlu diobrolin"


"Masa gitu sih sama temen lama. Ayo dong Hen, bentar aja"


Weni terus menarik lengan Hendra meski Hendra sudah menepis dan berusaha melepaskan diri.


"Ekhem"


Deheman keras Keira menghentikan tarikan Weni. Hendra tentu saja mulai berkeringat melihat tatapan Keira.


"Gawat. Bisa babak belur ini" gumamnya dalam hati. Hendra yakin jika Keira tengah salah paham.


Bagaikan mendapat pertolongan di tengah hutan, Hendra segera menghempas kasar tangan Weni yang menggondeli lengannya.


"Maaf, bukan maksud kami membuat keributan. Maklum, masalah rumah tangga" celetuk Weni yang membuat Hendra membulatkan mulut, sedangkan Keira tetap terlihat tenang, meski rahangnya mengetat.


"Kamu apa apaan-"


"Silahkan lanjutkan belanjanya. Ayo Hen, bentar aja. Tuh kalo enggak kita duduk di sana aja" Weni terus memaksa menarik tangan Hendra yang berusaha menepisnya. Hendra tak mau kasar pada wanita. Tapi kalau wanitanya modelan begini kesel juga dia.


"Wen-"

__ADS_1


"Sepertinya mas nya gak mau ngikut, mbak. Keliatannya dia enek sama mba. Yakin ini masalah rumah tangga?"


"Gak usah ikut campur ya. Ini masalah saya sama suami saya"


"Hah?"


Hendra dan Keira terkejut bersamaan.


"Suami, ya?" Keira mendekat perlahan dengan menyingsingkan lengan baju yang sebenarnya tak berlengan.


Hendra menggeleng cepet sembari menatap ngeri pada Keira. Dia tahu akan se barbar apa istrinya ini kala memperjuangkan kebenaran.


"Iya. Dia suami saya. Kamu mau apa? jangan bilang kalo kamu mau ngaku ngaku pacarnya dia, iya?" Weni berkata lantang sambil berkacak pinggang.


"Pacar? hmmm boleh juga. Emang mbak gak keberatan kalo saya jadi pacarnya dia?" Keira mengusap rahang Hendra yang gelagapan.


"Ya keberatan lah. Istri mana yang rela suaminya direbut pelakor" jawab Weni sembari menepis tangan Keira yang mengusap rahang Hendra.


"Istri? kamu? istrinya dia?"


"Iya, aku istrinya. Mau apa kamu?"


"Wen-"


"Istri yang ke-berapa?"


"Sembarangan. Ya satu satunya lah" Weni tetap nyolot dengan percaya dirinya.


"Weni apaan sih? siapa yang suami situ. Ngarang kamu. Ayo sayang, jangan percaya omongan orang gak waras" sarkas Hendra sambil menarik lembut tangan Keira, membuat mulut Weni menganga tak percaya. Namun langkah Keira berhenti tepat bersisian dengan Weni.


Plukk


Telapak tangan Keira mendarat di pipi Weni. Bukan menampar, tapi menepuk dengan tekanan. Cukup bikin pegel sih.


"Bangun, mbak.


Udah siang.


Jangan mimpi terus"


Hendra lantas menarik Keira, tak mau berlama lama berada satu atmosphere dengan Weni.


Wanita itu memang teman dekat Leona waktu kuliah. Teman yang terus mendekati Leona tepatnya karena ingin berdekatan terus dengan Hendra meskipun dia tahu kalau Hendra adalah kekasih temannya sendiri.


Setelah dirasa cukup mengambil barang kebutuhan rumah, mereka membayarnya di kasir.


Hendra benar benar menempel pada Keira. Dia bahkan berdiri tepat dibelakang Keira dan menumpukan dagunya di kepala Keira saat sang kasir tengah menghitung belanjaan mereka, membuat para pengantri saling berbisik iri atas keuwuan mereka.

__ADS_1


"Sayang, ada yang kelupaan. Kamu tunggu ya" Hendra membimbing Keira agar duduk di kursi tunggu tak jauh dari kasir dan mengikat plastik belanjaan mereka.


"Kamu jangan kemana mana. Aku gak lama"


__ADS_2