Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Pamit


__ADS_3

Perlahan Nirmala naik ke tempat tidur.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Hendra serak. Pura pura tentunya.


Saat melihat di layar jika Nirmala masuk kedalam selimut melalui arah kaki Hendra, Hendra langsung keluar melorot dari selimut dan langsung membungkus tubuh polos Nirmala dengan selimut itu. Jika saja dia bisa langsung membakarnya dia tak akan menunggu lama.


Hendra langsung melesat keluar kamar dan menguncinya dari luar.


Keira tiba di halaman belakang rumah dan membiarkan motor trail itu tergeletak.


Keira tak mau kecolongan lagi. Meski tenaga Hendra lebih kuat, tapi tenaga orang tak waras pastilah lebih besar dan lebih brutal dari tenaga wanita biasa.


Keira masuk melalui dapur belakang yang terdapat kolam renang dengan cara menaiki benteng setinggi 3 meter.


Karena kesulitan, Keira menggunakan motor trailnya sebagai pijakan dan dengan susah payah dia berhasil menaikinya.


"Sialan gue turunnya gimana" monolog Keira yang merasa bodoh, bisa naik gak bisa turun.


Akhirnya dia memutuskan melompat langsung ke kolam karena benteng itu tepat berada diujung kolam renang.


byurr


Meski dingin, dia harus bertahan.


Keira keluar dari kolam dan mendapati Hendra tengah bolak balik di ruang tengah sambil menempelkan ponsel ditelinganya.


Terdengar gedoran dan teriakan kencang dari lantai 2.


"Sayang.."


Hendra terperanjat mendengar panggilan Keira dari arah dapur.


"Sayang.. kamu.. kamu kok dateng dari situ?" Hendra lantas berlari kearah kamar mandi dekat dapur dan mengambil handuk besar untuk membungkus tubuh Keira agar tak kedinginan karena tubuhnya basah kuyup.


"Gimana?" tanya Keira mengabaikan pertanyaan Hendra namun langsung mengetatkan handuk yang menyelubungi tubuhnya.


"Tinggal tunggu bantuan tambahan polisi. Yang berada di mobil sudah diamankan kata pak Kimung"


"HENDRAAA... KELUARKAN AKUU.. BUKA PINTUNYA.." suara teriakan Nirmala masih terdengar.


Prangg..


Sejurus kemudian terdengar suara pecahan kaca.


Hendra dan Keira saling berpandangan.


"Beno, coba soroti lahan belakang. Sepertinya Nirmala loncat dari balkon kamar" titahnya pada sang asisten melalui voice note atau pesan suara.


Hendra melangkahkan kaki ke lantai 2 diikuti Keira.


Seingat dia jarak dari tanah ke benteng saja cukup tinggi. Sedangkan Nirmala tak mungkin loncat dari balkon lantai 2.


"Sayang, tunggu sebentar" tahan Keira saat berada ditengah tengah tangga.


Keira lantas kembali turun dan mengambil tongkat base ball yang ada di ruang kerja Hendra. Dia pernah melihatnya dipajang karena tongkat itu merupakan merchandise dari atlet baseball internasional Shohei Ohtani yang didapat Hendra april kemarin.


"Sayang.. itu.." Hendra miris dengan keadaan tongkat itu nantinya. Tapi apalah daya, pelototan istrinya lebih membuat miris masa depannya.

__ADS_1


glekk


Dengan berbesar hati dia merelakan tongkat bertanda tangan atlet dunia itu untuk melindungi mereka.


Keira memposisikan diri dengan tongkat pemukulnya di belakang Hendra.


ceklek


Pintu ia buka perlahan hingga lebar. Hendra melangkah masuk dengan perlahan, namun segera ditarik Keira kala mendengar suara pijakan kaki dari arah dalam.


Tiba tiba...


"AAAAAAA........."


bugghh..


Pukulan itu tepat mengenai perut.


Keira tak sesadis itu untuk memukul kepalanya yang mungkin akan langsung pecah.


Kecuali kasus Isabel tempo hari yang benar benar mengancam nyawanya.


Nirmala tersungkur menahan sakit di ulu hati nya.


"Cepat ambil selimutnya" titahnya pada Hendra sedangkan dia tetap bersiaga jika Nirmala kembali bangkit dan nekat.


Hendra kembali membungkus tubuh polos Nirmala dan mengikatnya dengan ikat pinggang nya yang tergantung dibelakang pintu.


Polisi datang setelahnya dan mengamankan Nirmala.


Akhirnya mereka merasa lega setelah musibah yang datang secara beruntutan.


Semoga tidak ada hal buruk lain yang akan menimpa mereka.


"Beno, kamu urus motorku di belakang benteng" titah Keira pada Beno yang juga merasa lega sekaligus takjub dengan aksi kedua bosnya.


Keira merangkul Hendra dengan gemetar.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Hendra.


"Dingiiin..." jawab Keira manja.


Hendra tersenyum lantas memeluk istrinya erat dan membawanya ke kamar tamu.


Mereka menyerahkan semuanya pada Beno dan sekuriti untuk memberikan penjelasan pada pihak kepolisian.


Mereka saat ini hanya ingin mengistirahatkan tubuh dan hati.


Keesokan hari Hendra tak menyiakan waktu. Dia langsung membangun benteng juga rumah untuk anak cucu mereka di lahan itu.


Hendra juga merealisasikan niatnya membangun istal dan track berkuda.


Seminggu kemudian


ting


tong

__ADS_1


"Sayaaang.. tolong bukain pintuu.." teriak Keira dari dapur. Dia sedang membuat adonan isian dim sum.


Hendra bergegas menuju pintu dari ruang gym.


Dengan peluh bercucuran dia menghela nafas melihat orang yang bertamu di pagi hari yang cerah ini.


ceklek


"Halo, Hendra.."


"Ada perlu apa?" tanyanya dingin.


"Saya.. saya mau minta maaf soal tempo hari. Saya baru sadar kalo saya memang bodoh melakukan hal picik seperti itu untuk memisahkan kalian.


Kalau saja saya tau kronologi kamu bisa terjangkit virus itu.."


"Tetap saja mata hatimu akan kau buta kan. Meskipun tau dari awal asal muasal aku terjangkit virus itu, kamu akan tetap mencari celah untuk memisahkan kami.


Bukankah begitu, dokter Adam?"


"Yah, mungkin kau benar. Saya dibutakan perasaan saya sendiri. Tapi.. entah kau menerima atau tidak, saya minta maaf atas semua yang telah saya katakan yang menyakiti hati kalian.


Hanya itu yang ingin saya sampaikan.


Baiklah... saya pergi"


"Apa kamu gak mau menemui Flo dulu?" Hendra menawarkan kesempatan. Meskipun pernah sakit hati, tapi Hendra tak mungkin menghilangkan jasa Adam yang telah menjadi wali nikah Keira tempo hari.


"Saya tak cukup keberanian untuk menemuinya. Saya takut.. saya takut tak bisa menahan diri lagi...


Wanita itu... telah sukses mengacak acak hati saya.


Tolong sampaikan permintaan maaf saya. Saya pamit"


Adam berbalik dan pergi.


Adam mengundurkan diri dari rumah sakit tempat terakhir dia bekerja. Dia berniat melanjutkan studi kedokterannya mengambil spesialis anak.


Hendra menghela nafas dan menutup pintu. Dia hendak kembali ke ruangan gym, namun terkejut kala melihat Keira tengah berdiri tertegun sambil menitikan air mata.


Dia telah kehilangan kedua sahabatnya.


Sungguh dia sangat menyesalinya. Kenapa persahabatan mereka tak bisa abadi? kenapa harus rusak gara gara perasaan yang tak seharusnya tumbuh.


Hendra mendekatinya dan memeluk Keira.


Keira langsung terisak dan tergugu. Sungguh dia tak punya maksud untuk menyakiti hatinya juga. Dia ingin berbaikan dengan sahabatnya itu. Tapi pernyataan terakhir Adam membuatnya mengurungkan niat.


Mungkin jika dia menemuinya tadi, dia akan lebih menyakiti Adam karena perasaan laki laki itu yang tak bisa dikontrol.


Keira berharap Adam menemukan wanita yang benar benar bisa mengalihkan dunianya.


NT LAGI ERROR NIH BEIBZ


2 BAB INI UDAH AKU UP DARI SORE LOH YA


JAN SALAHIN OTHOR👌🏻

__ADS_1


__ADS_2