
"Lo pikir lo siapa, hah? kita sama sama numpang sementara di dunia ini. Jangan mentang mentang lo bisa pake mobil mewah, pakaian mahal, jabatan tinggi, trus lo bisa seenaknya sama orang lain?"
"Kamu berani padaku?"
"Kenapa enggak? bungkus lo aja yang mengkilap. Taunya formalin semua. Daleman lo busuk"
"Kamu bilang apa? busuk? sepeda busuk mu yang menghalangi jalanku"
"Jalan mu? siapa yang bangun jalan ini kalo bukan orang orang seperti kami, rakyat jelata. Kalian para pemungut materi hanya bisa mengumpulkan harta dengan otak busuk kalian"
"Cih, omongan orang orang seperti kalian terdengar seperti goresan kuku pada kaca. Sangat mengganggu" pria itu lantas melangkahkan kaki berbalik dan memasuki pintu lobby.
Ngiiiiiiik
Belum sempat memasuki pintu lobby, suara yang memekakkan telinga yang berasal dari kukunya pada kaca membuat orang orang seketika menutup telinganya.
"Apa kau gila?" tukas si pria setelah dirasa suara itu telah berhenti.
Kegaduhan mereka disaksikan banyak orang sehingga kabar itu sampai pada sang pimpinan perusahaan.
"Bos, ada ribut ribut dibawah. Tampaknya melibatkan direktur pemasaran" Beno memberi informasi terkini dari lantai dasar.
"Dia lagi" Hendra merasa jengah dengan tingkah arogan bawahannya. Jika saja dia tak mempunyai relasi kakap, sudah lama Hendra menendangnya.
"Kemana para security?"
"Mereka.. mmm.."
"Ck.. dasar tidak kompeten" Hendra bangkit dan mengancingkan jas nya.
Dia ingin menyaksikan secara langsung cara si arogan menghadapi orang lain yang berani melawannya.
Hendra jadi penasaran. Orang seperti apa yang berani melawan orang seperti Alex.
"Kamu yang gila. Ngehalangin jalan dari mana? makanya liat pake mata. Bukan pake *****"
"Bicara lebih jauh akan aku pastikan kamu-"
"Aku apa? apa yang bisa kamu lakukan dengan uangmu hah? menguburku hidup hidup? maka aku akan menyeretmu ke neraka sekaligus"
__ADS_1
grepp
Hendra menangkap tangan Alex yang hampir mendarat di pipi Keira.
"Begini caramu menjaga nama baik perusahaan?" tukas Hendra sembari menyorot tajam pada Alex yang terlihat emosi.
"Kamu berani menamparku?" teriak Keira tak percaya dengan sikap pengecut laki laki didepannya ini. Lalu dia balik menamparnya.
plakk
Hendra cukup terkejut dengan aksi balasan dari sang wanita.
"Dasar pengecut......."
Keira terus menyerang Alex dengan kata kata dan tindakan bar bar nya.
Terlihat salah satu security tengah memegangi pot dengan bunga yang dirangkai dengan cantik.
Lalu seorang lagi tengah mengaduh kesakitan sembari memegangi bagian vitalnya.
Tampaknya Keira berhasil melepaskan diri dari cengkraman sang security.
Apalagi Keira terus bergerak maju dan Hendra menariknya mundur. Membuat orang orang yang menonton menyembunyikan senyum mereka dibalik tangan.
"Ah sh*itt. Kenapa jadi seperti ini?" tanya Hendra dalam hati kala merasakan pusakanya bangkit akibat gesekan tak disengaja itu.
"Hentikan. Nona" Hendra sedikit membentak agar menyadarkan Keira yang tak bisa berhenti jika tak membuat Alex babak belur.
Keira langsung terdiam mendapat bentakan seperti itu.
" Tolong hentikan, nona. Anda sedang mempermalukan diri anda sendiri" Hendra kembali menegurnya dengan suara lembut. Namun posisinya tengah memeluk erat Keira dari belakang.
"ekhem.. bisa.. bisa lepaskan saya? saya.. saya ada paket yang harus diantarkan.." Keira berkata dengan terbata karena baru menyadari jika dia sedari tadi dipeluk seorang pria asing.
Hendra yang sedang menahan diri pun melepaskannya. Dan langsung berbalik kembali ke ruangannya sambil berkeringat.
"Sialan"
Selama bertahun tahun Hendra selalu menghindari kontak komunikasi dengan lawan jenis terlalu lama, apalagi kontak fisik.
__ADS_1
Dia tak mau lepas kendali. Apa lagi dia sadar jika dia tak mempunyai pelampiasan.
Dia bukanlah tipe laki laki yang sembarang berhubungan dengan lawan jenis.
Hendra jadi tak bisa berkonsentrasi. Pusakanya yang telah lama hibernasi, kini mulai menggeliat mencari kehangatan.
tok
tok
"Masuk"
"Maaf pa kiriman- apa bapak baik baik saja? apa perlu-" Sari sang sekertaris terkejut dengan keadaan atasannya yang terlihat pucat dan berkeringat. Dia lantas reflek hendak menempelkan punggung tangannya di dahi Hendra sang atasan. Namun Hendra reflek menangkisnya.
"Singkirkan tangan mu. Aku baik baik saja. Taruh bunga itu disana"
Ketidak pedulian Hendra terhenti kala melihat karangan bunga yang tampak tak asing.
Sepertinya baru baru ini dia melihatnya.
"Tunggu. Siapa yang mengantar bunga ini?"
"Oh, ini katanya bapak yang pesan" jawab Sari.
"Maksudku apakah kurir yang biasa mengantar?"
"Oh bukan pak. Tadi yang mengantar adalah pemilik toko nya. Katanya kurir kurirnya sedang ada keperluan. Jadi beliau yang mengantar" lanjut Sari.
"Apa dia wanita?" tebak Hendra yang mengingat wanita yang telah berhasil membangkitkan petapa tua nya.
"Iya benar pak. Kalau tidak ada yang diperlukan lagi, saya permisi"
Hendra tak menggubris Sari yang berpamitan. Dia terus bergelut dengan pemikirannya.
"Pemilik? Apa dia yang bernama mami Flo? heh.. baik dari mana nya?"
Hendra mendecih kala mengingat tingkah bar bar Keira. Namun bersamaan dengan bayangan gesekan tak sengaja yang membuatnya merindukan kehangatan seorang wanita.
"Ah sialan. Aku gak bisa kalo gini terus" Hendra menelungkupkan kepalanya diantara kedua lengannya diatas meja.
__ADS_1