Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Balada Fiesta


__ADS_3

"Kalian sudah bisa melakukannya sejak 2 hari lalu asalkan aman"


"Bukannya ngomong dari tadi" kesal Keira yang langsung menarik Hendra keluar tanpa basa basi. Sedangkan sang dokter tertawa karena berhasil mengerjai pasangan lucu itu.


"Sayang, berhenti didepan dulu" tunjuk Keira pada sebuah apotik 24 jam.


"Mau beli apa?" tanya Hendra terheran, namun memarkirkannya juga sesuai permintaan Keira.


"Beli helm lah, biar aman" jawab singkat Keira.


"Kenapa beli di apotek? lagian pake mobil ini, kenapa harus pake helm?"


"Adeudeuuuuh.. dah mulai aki aki nih. Helm buat ini laah" Keira meremat jagoan Hendra sebelum turun.


"Astaga, Flo.. aku mana bisa turun kalo gini" ucap Hendra yang terus memperhatikan tenda yang terus meninggi.


Tapi kemudian Keira kembali masuk.


"Sayang, kamu aja deh yang beli. Aku malu"


"Hah.. tapi.. tapi ini gimana?" tanya Hendra sambil mengarahkan pandangannya pada tenda yang berdiri kokoh.


"Hhhh..." mereka menghela nafas bersamaan. Setelah dirasa sudah tenang Hendra pun turun. Dia sedikit gugup karena tak pernah membeli barang seperti itu.


Apotik terlihat cukup ramai, Hendra ragu harus menanyakan hal yang bersifat pribadi pada pegawai apotek tersebut. Jadi dia memilih mempersilahkan yang lain dahulu, bahkan yang baru datang pun ia persilahkan dilayani terlebih dahulu.


Keira yang melihat dari kaca luar merasa gemas karena Hendra tampak tak kunjung menyampaikan keinginannya.


Keira akhirnya turun dan masuk.


"Dasar lakik. Belanja aja gak bisa" gerutunya saat memutuskan untuk mengambil alih. Terpaksa dia harus mengesampingkan rasa malunya. Karena yang dibawah sana sudah nyut nyutan sedari tadi.


"Silahkan, ada yang bisa dibantu" tanya sang pegawai setelah selesai melayani konsumen terakhir.


Keira masuk dengan mendelikan matanya pada Hendra.


"Lama" desisnya.


"Iya mba, mau beli pengaman" pinta Keira yang tak kuasa menyebut kata ******.


"Oh, iya sebentar" sang pegawai mengerti arah permintaan Keira. Sambil tersenyum dia mengeluarkan beberapa bungkus dari beberapa merek ternama.

__ADS_1


Keira bingung, Hendra lantas mendekat. Ada satu merek yang menarik perhatiannya.


"Kok mirip merek nuget?" gumam Keira.


Sang pegawai tersenyum.


"Kalo yang itu bisa nyala, bu" jelasnya.


"Hah? nyala?"


"Perlu dicoba tuh. Pasti asik" sergah Hendra menyela percakapan antara Keira dan pegawai apotek.


"Aku mau 2 bungkus" Keira mengernyit menatap Hendra. Masih belum terfikir bagaimana bisa menyala.


Sang pegawai sedikit bingung karena dia sedang melayani pembeli perempuan ,namun laki laki yang sedari tadi hanya berdiri membiarkan antrian lain menyerobotnya malah sekarang menyerobot. Apa wanita ini tidak akan marah? pikirnya.


"Yuk kita coba" ajak Hendra setelah membayar.


"Hah?" sang pegawai terperangah.


"Kamu yakin?" tanya Keira.


"Aduuuh.. tau gitu tadi gua ajak kenalan aja. Lumayan kan masih gagah" cebik sang pegawai menggigit bibirnya menyesal.


Di dalam mobil Keira terus menilik bungkus luar pengaman itu. Membacanya berkali kali, lalu membuka segel dan mengeluarkan isinya yang berisi 3 buah dengan warna berbeda.


"Sayang, kamu bisa pake nya?" tanya Keira pada Hendra namun matanya masih fokus pada benda berbentuk lingkaran yang masih dibungkus plastik bening.


"Aku mana pernah beli kek gituan. Apalagi pake. Udah, sayang. Jan dulu bahas itu, kita masih di mobil ini. Nanti aku gagal fokus ini" tukas Hendra sambil menyeka bulir bulir keringat.


Setiap hal yang menyangkut kegiatan ples ples membuatnya gugup dan tak bisa berkonsentrasi.


Tapi Keira seolah tak mendengar ucapan Hendra. Dia terus membulak balikan bungkus bening yang bisa dia lihat isinya.


"Gimana caranya?" gumamnya.


Hendra lantas menginjak dalam pedal gas, membuat Keira seketika terkesiap dan berpegangan pada pinggir jok.


"Hendra, jangan ngebut sih, kan bahaya. Lagian malem masih lama juga" protes Keira. Namun Hendra tak membalas perkataannya karena buntutnya pasti dia yang jadi korban.


"Jangan jangan kamu mau langsung tancap gas ya?" pancing Keira.

__ADS_1


Nah kan? Mo diem atau gak diem, tetep aja Keira selalu bikin Hendra tak bisa berkutik. Seandainya dia bisa langsung menerkamnya saat itu juga di mobil.


Hendra tetap bergeming. Rahangnya mengetat menahan sesuatu itu sangat tidak nyaman.


"Adududuuuh... sampe keringetan gini..." sebelah tangan Keira menyeka pelipis hingga rahang Hendra dengan lembut.


Sentuhan itu menciptakan sengatan listrik yang membuat rudalnya mengejang.


"Tancep lagi bang yang dalem. Biar tambah kenceng" Keira kembali melontarkan kata kata absurd yang membuat kepala Hendra serasa mau meledak.


'Sialan kamu Flo, akan ku pastikan kamu gak bisa jalan abis ini' geram Hendra dalam hati. Dia tak berani menyuarakan kembali isi kepalanya. Pastilah membuat Keira lebih membuatnya gila.


Tiba di depan gerbang, Hendra menekan klakson berkali kali agar sekuriti segera membuka gerbang.


"Ahh.. sayang.. pelan pelaan..." Keira kembali bersuara membuat Hendra langsung turun dari mobil dan berjalan cepat mengitarinya, membuka pintu mobil Keira, mengambil bungkusan sialan yang berada dipangkuan Keira lantas meraih tubuh mungil sang istri lalu membopongnya di pundak kekarnya.


"Hendra apa apaan sih kamu.. turunin.. Hendraaa.."


Hendra berjalan mantap melewati gerbang sambil memelototi para sekuriti yang terbengong mendorong pintu gerbang.


"Lo bisa nyetir mobil ginian gak?" tanya Kimung pada rekannya"


"Katanya sih gampang kek main bombomkar. Tapi gamau ah, elu aja"


"Gue sih emoh, tar lecet dikit ginjal gue jadi jaminannya" dialog kedua sekuriti yang saling sikut. Mereka bahkan tak berani menyentuh seujung jari pun Aston Martin milik sang majikan.


Hendra berjalan dengan mantap dan gagahnya. Belalainya menjadi penunjuk jalan. Sesekali satu tangannya memukul bokong Keira yang berada tepat dipundaknya.


"Sialan kamu Hendra. Aku pen muntah ini, turunin gak?"


"Kalo mo muntah ya muntah aja. Nanti juga aku yang muntahin kamu. Salah sendiri nakal. Sekarang terima akibatnya" seringai jahat terbit di wajah Hendra.


"Yang, kok jauh ya. Kapan kita mulainya?" tanya Keira yang ternyata jalan dari gerbang ke rumah tak kunjung habis.


Terdengar suara gemeletuk gigi Hendra menahan kesal. Merasa pendapat sang istri ternyata benar. Kenapa tadi gak nunggu satpam bukain pagernya ya, jadi lebih cepet nyampe.


"Mana panas, berat, keringetan deh.


Betapa...


Malang nasibku.."

__ADS_1


__ADS_2