
Seminggu sudah Hendra menggantikan Arga dan Aretha menjadi kurir dadakan.
Seminggu itu pula mereka menjadi dekat.
Meski dekat dalam artian saling mengejek dan saling menggoda, namun mereka menikmati masa masa itu.
Hendra larut dalam pekerjaannya yang menumpuk. Itu membantunya melupakan sejenak tentang rasa rindunya pada besan imut nya.
Arga pun hari ini mulai bekerja. Pasangan suami istri yang baru pulang bulan madu itu memilih tinggal bersama Keira sementara.
Mereka sedang memikirkan masalah tempat tinggal. Dan sementara mereka memutuskan untuk tinggal dengan salah satunya bergantian.
tok
tok
"Masuk"
"Maaf pak, pesanan bunga anda sudah datang"
Sekertaris Hendra membawa bunga pesanannya dan menaruhnya di tempat biasa.
Hendra menghentikan aktifitasnya sementara dan mengalihkan perhatiannya pada bunga itu.
Ahh dia jadi teringat kegiatannya seminggu kemarin.
"Siapa yang kirim?" tanya Hendra yang baru tersadar. Karena setahu dia selama ini Arga yang akan mengantarkan sekalian masuk kantor. Dan Arga pasti akan menatanya dengan cantik.
"Katanya pemiliknya"
"Trus sekarang kemana?"
"Sudah pergi lagi nganter pesenan lain"
Hendra langsung bangkit dan hendak menyusulnya. Namun tanggung jawabnya menahannya.
Dia mengurungkan niat itu. Tak mungkin dia mengabaikan tanggung jawab terhadap ratusan karyawan.
Akhirnya Hendra melanjutkan pekerjaan meski sedikit kurang fokus. Entah kenapa bayangan keakraban mereka selalu terlintas di benaknya. Hendra bahkan beberapa kali gagal mengeksekusi program yang dia buat.
Padahal hanya kurang tanda koma (,).
Tiba waktu makan siang Hendra masih berkutat dengan komputernya.
Beno sudah mengingatkannya untuk istirahat makan siang, namun Hendra menyuruhnya untuk makan duluan.
Dia tidak tenang jika belum berhasil mengeksekusi program.
tok
tok
"Masuk" titah Hendra tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.
Berulang kali Hendra memeriksa apa yang kurang dengan kode nya. Kenapa masih gak bisa di running? dahi nya berkerut dalam.
"Kurang koma tuh" celetuk Keira yang entah sejak kapan berada di belakangnya dan membungkuk untuk memperhatikan deretan kode yang pointernya sedari tadi hanya di scroll naik turun oleh Hendra.
Hendra tersentak karena terkejut dan reflek memutar kepalanya kebelakang.
cup
__ADS_1
Nahas tanpa sengaja bibir mereka bertemu.
Sontak Keira menegakkan badannya dan melipat bibirnya sambil menyentuhnya.
Pun dengan Hendra yang langsung menghadap kembali ke komputer.
dug
dug
dug
Detak jantung mereka berlomba.
"Ekhem. Kamu belum makan, kan?" Keira mencoba mencairkan situasi awkward dan berjalan kearah sofa tamu, mengeluarkan beberapa kotak makanan dari kantong plastik dan sudah dia bagi pada Arga dan Aretha terlebih dahulu sebelum naik ke lantai dimana ruangan Hendra berada.
"Ekhem, belum" jawab singkat Hendra yang kemudian teringat dengan analisa Keira jika kode nya kekurangan tanda koma. Dia mencari lagi dari atas, dan akhirnya menemukannya. Dan
Voila..
Program berhasil di running.
Hendra merasa lega lalu mendekat. Sedari tadi otaknya serasa buntu, nafas terasa sesak jika belum berhasil me-running program.
Hendra mendekat ke sofa dimana meja itu sudah penuh dengan makanan yang dibawa Keira.
"Kamu.. tau dari mana kalau tadi hanya kurang tanda koma?" tanya Hendra yang menerima kotak bekal berisi makanan buatan Keira.
"Nebak. Hehe.." jawab asal Keira yang dibarengi dengan cengirannya.
Gigi ginsul itu yang menambah kadar manisnya Keira. Membuat Hendra selalu membayangkan tawanya yang menampilkan gigi manisnya.
trek
trek
"Woi.. sadar.. makan tuh malah bengong" Keira menjentikkan jari dan menyadarkan Hendra dari lamunannya.
Mereka melanjutkan makan siang mereka dalam diam. Sesekali Hendra melirik Keira. Pun sebaliknya.
"Aku suka merhatiin Arga kalo dia lagi stuck bikin program. Gak ngerti sih, cuma suka denger aja dia ngedumel, gara gara cuma ketinggalan tanda koma aja ribet" celetuk Keira disela sela makan mereka yang hampir habis.
Akhirnya Hendra bisa mendengar suaranya lagi. Suara yang dia rindukan, suara yang membuatnya merasa hangat.
"Tanda dalam pemrograman itu hal kecil, tapi berpengaruh besar. Ibarat kendaraan tanpa bensin, atau sayur tanpa garam, atau.."
"????"
"Aku tanpa kamu"
".........."
"Ah bapack bisa aja becandanya" Keira tertawa ringan sembari menepuk bahu Hendra menanggapi candaan besannya ini.
"Sialan ni orang, becanda bikin baper" gerutu Keira dalam hati.
Hendra hanya tersenyum. Dia terus menatap Keira yang terlihat mengibaskan tangannya kearah wajahnya.
"AC nya mati ya? kok panas?" tanya nya kemudian.
Hendra kembali tersenyum.
__ADS_1
"Yang tadii..." Hendra mencoba membahas mengenai insiden yang membuat jantung keduanya bertalu talu.
"Ah udah lupain aja, gak sengaja kan?" potong Keira yang merasa malu diingatkan tentang kejadian yang membuatnya seolah menjadi remaja yang baru merasakan ciuman pertama.
"Boleh kita ulang?" tanya Hendra kemudian, membuat Keira tercengang.
"Hah?.. eee.... a-aku.. harus kembali" Keira gugup dan langsung membereskan kotak kotak bekal makan siang mereka.
grepp
Hendra menahan tangan Keira dan menariknya hingga Keira kembali terduduk.
Sebelah tangan Hendra meraih pipi Keira. Matanya menatap teduh mata Keira, dan perlahan mendekatkan kepalanya.
Sudah lama Hendra tak merasakan kelembutan mendarat di bibirnya. Kelembutan yang membuatnya hilang akal. Seperti saat ini. Dia menjadi serakah dan ingin mencicipinya lebih lama. Tanpa mengindahkan status mereka.
"Upsie, maaf nanti kesini lagi"
Aretha tiba tiba merangsek masuk setelah mengetuk namun tak mendengar sahutan dari dalam ruangan.
Dia cukup terkejut dengan perkembangan hubungan papa dan mertuanya.
Dia segera menutup kembali pintu itu dan berpesan pada sekertaris papanya untuk melarang siapapun masuk, sebelum bos nya keluar.
Keira langsung mendorong Hendra yang hampir menempelkan bibirnya lagi dengan sengaja.
Hendra mendengus kesal.
Usahanya gagal.
Keira terlihat salah tingkah. Lalu mengambil kantung plastik berisi kotak bekal yang sudah kosong itu dan melangkah pergi dengan wajah memerah.
Hendra hanya menunduk. Mungkin dia terlalu gegabah. Mungkin dia terlalu terburu buru. Apa Keira akan marah padanya dan tak mau bertemu dengannya lagi?
Pikiran itu berkecamuk dalam kepalanya. Dia tak cukup keberanian untuk mengangkat kepalanya dan menatap Keira.
Dia takut Keira membencinya dan tak mau bertemu dengannya lagi.
Sebelah tangan Keira menarik pipi Hendra dan satu tangan lain menyusul menangkup pipi sebelahnya. Lalu
Cupp
Keira mengecup dalam bibir Hendra dalam keterkejutannya.
Keira yang sudah melangkah hingga ke pintu tiba tiba mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Dia segera berbalik dan melakukan hal yang tak Hendra duga saat Hendra terlihat menunduk dan murung.
Keira pun sama penasarannya dengan Hendra. Sesuatu yang sudah sangat lama tak dia rasakan kini seolah mendapat kesempatan untuk kembali merasakan perasaan aneh namun mencandu.
Hendra terkejut dengan aksi Keira yang tiba tiba. Dia segera menahan kepala Keira yang hendak melepas ciumannya, sehingga dia bisa *****4* bibir manis itu, merasakan apa yang membuatnya penasaran lebih lama, dan meyakinkan hatinya.
Keira menjatuhkan kantong plastik yang dia tenteng, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Hendra.
TAHAAAN....😆
MAAP BARU BISA UP, BEIBZ
BODY OTHOR LAGI KURANG BUMBU NIH🤢
SEMANGATIN OTHOR TERUS YAK
JAGA KESEHATAN KALIAN JUGA😘
__ADS_1