Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Ungkapan Hati Arga


__ADS_3

Hendra sangat puas dengan kinerja Arga. Sebagai seorang pemagang, Arga tampak lebih pantas menjadi karyawan tetap karena keseriusannya dalam bekerja.


"Karyawan tetap? hmm.. ide bagus. Aku jadi bisa mengikatnya. Dan kuharap aku juga bisa mengikatnya untuk menjadi menantuku" gumam Hendra dalam hati sembari memperhatikan Arga yang tengah serius menatap layar komputernya.


"Arga"


Hendra berseru memanggil Arga yang tengah merenggangkan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk didepan layar monitor.


"Iya, tuan?"


"ck. Berhentilah memanggilku tuan"


"hehe.. maaf, sudah kebiasaan"


"Kenapa masih jadi kurir bunga?"


"Ah itu. Saya menyukainya tuan" jawab Arga sambil tersenyum menunduk.


"Bukankah itu menyita waktumu? kamu bahkan harus mengantar kemari pagi pagi sekali"


"Karena dengan begitu, saya bisa bertemu dengan gadis pujaanku. Meski hanya sebentar, tapi setidaknya aku melihatnya setiap hari" Arga kembali menjawab malu malu.


Hendra merasa tak suka dengan penuturan Arga.


"Gadis mana yang berhasil mengambil hati pemuda baik ini?"


"Apa jangan jangan wanita itu?"


tebak Hendra.


"Kupikir dia adalah sugar boy nya. Tapi ternyata pemuda ini jatuh hati padanya"


Hendra kembali bergumul dengan benaknya sendiri.


"Apa kamu benar benar menyukainya?" Hendra bertanya langsung. Tak mau menebak.


"Menyukai? haha.. aku bahkan mungkin mencintainya" tawa itu menandakan jika Arga benar benar sedang jatuh cinta. Tawa dengan mata menerawang membayangkan sang pujaan hati.


"Apa kamu yakin dia wanita baik baik?"


Ketidak sukaan Hendra menular pada raut wajahnya yang menjadi dingin dengan sorot mata tajam mengarah pada Arga sambil melipat kedua tangan didada.


Namun Arga tak menyadari tatapan maut sang bos besarnya.


Arga terus tersenyum simpul membayangkan kelincahan dan keceriaan sang gadis.


"Tentu saja saya yakin. Saya sudah lama mengenalnya. Dia sebenarnya anak dari keluarga yang mampu jika melihat mobilnya. Tapi dia berusaha agar aku tak mengetahui identitasnya.


Dia bahkan mau berpanas panasan dan berkeringat demi mengurus bunga di toko. Terkadang dia tak malu mengantarkan pesanan dengan sepeda butut"


Hendra mengetatkan rahangnya.

__ADS_1


Pupus sudah rencananya menjodohkannya dengan putri semata wayangnya.


Bisa dipastikan siapapun yang disukainya, pastilah wanita beruntung.


Dimana lagi dia bisa menemukan pemuda sepertinya untuk sang putri.


"Jika aku mengangkatmu menjadi karyawan tetap, apa kamu akan meninggalkan pekerjaan sampinganmu?"


"Apa? k-karyawan tetap?" Arga tak percaya dengan pendengarannya.


"he em.. tenang saja. Aku bersikap profesional. Jika kemampuanmu pas pasan mungkin aku tak akan menawarkan posisi ini. Saat ini aku tak puas dengan para lulusan IT dengan IPK diatas 3, tapi kemampuannya nihil. Aku heran darimana dia dapat IPK sebesar itu"


"Tapi saya belum lulus, tuan. Masih 2 tahunan lagi" tukas Arga yang masih tak percaya secepat ini dia mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan tetap.


"Anggap saja kamu kuliah sambil kerja. Perusahaan mentolelir jika karyawannya kuliah lagi. Hanya pekerjaan lain perusahaan tidak mentolelir. Bukan apa apa. Takut kamu jadi tidak fokus dalam bekerja, atau kamu kelelahan dan mengganggu kualitas pekerjaan"


"Tapi saya tidak bisa meninggalkan mami" jawab sendu Arga.


Hendra memperhatikan ekspresi sendu Arga. Dia yakin jika Arga sedih karena tidak bisa melihat pujaan hatinya.


Ada rasa iri karena Arga tidak mengenal putrinya lebih dulu. Tapi melihat ekspresi Arga, Hendra merasa menjadi orang jahat yang memisahkannya dari orang yang disayang.


"hhhh... ya sudah, kamu boleh mengantarkan bunga tapi pagi saja sambil berangkat ke kantor"


"Ah.. yang benar tuan, boleh?"


"cih"


Arga ke bagian HRD untuk menandatangani kontrak. Dengan wajah sumringah dia berjalan cepat kearah lobby. Tak sabar ingin segera sampai di toko dan memberitahu sang mama perihal pekerjaan tetapnya.


Mama pasti bangga padanya.


Arga melajukan motor trail-nya dengan mantap. Senyuman di wajahnya terus terukir hingga sampai di toko sang mama.


"Mamiii..."


Jika ada yang heran kenapa Arga kadang memanggil mami kadang mama. Jawabannya adalah peraturan Keira yang mengharuskan siapapun yang bekerja di tokonya memanggilnya 'mami flo'


"Huss berisik, tereak tereak kek di hutan aja"


Arga lantas memeluk Keira erat lalu sedikit mengangkatnya dan berputar putar. Membuat Keira memekik.


"Arga apa apaan sih?"


"Mami, Arga diangkat jadi karyawan tetap, mi. Arga udah resmi jadi karyawan. Huhuy.."


"Apa?"


Arga kembali membawa mami kedalam pelukannya dan memutar badan mereka bersama sama. Membuat Keira memekik dan tertawa kegirangan.


"Anak mami memang hebat. Syukurlaaah..."

__ADS_1


Keira memiting leher Arga dan menggasak rambutnya gemas.


Euphoria itu disaksikan Hendra yang iri sekaligus senang dari dalam mobilnya.


"Jalan, Ben" titah Hendra pada Beno yang sebelumnya menyuruhnya berhenti diseberang toko karena kebetulan melihat Arga.


Arga menatap kontrak kerja yang sudah ditanda tangani nya sembari tidur terlentang diatas kasur nya. Mengangkatnya seolah menempel pada langit langit kamar, dengan senyum yang tak surut dari wajahnya.


Surat kontrak yang sudah di laminating itu kini ia peluk.


"Papa, Arga berhasil pa. Bahkan saat perjuangan Arga belum selesai, hasil nya seolah estafet menyambut Arga. Terima kasih atas do'a nya selama ini.


Arga janji, Arga akan membahagiakan mama dan selalu membahagiakannya.


Arga hanya minta, jika ada laki laki yang ingin membahagiakannya juga, tolong do'akan kebahagiaan mama. Arga tahu jika selama ini, papa sama mama hanya saling menemani. Arga tahu jika hati papa milik wanita lain.


Jadi, relakan mama untuk bahagia, pa"


Monolog Arga seolah berdialog dengan sang papa, membuatnya menitikan air mata. Mengingat pengorbanan sang mama yang merelakan dirinya mengesampingkan perasaannya.


Keesokan hari, seperti biasa. Arga akan ke toko untuk sarapan dan sedikit membantu sang mama merangkai bunga pesanan kantornya. Dia bangga menyebutnya 'kantornya'. Karena Arga masih harus bolak balik ke kampus dan kantor karena harus absen, jadi Arga berangkat lebih pagi.


Sedikit menyayangkan karena dia tak bisa bertemu dan melihat wajah cantik gadis yang beberapa tahun ini selalu berlari lari mengelilinginya dan pikirannya.


Aretha semakin terlihat cantik diusianya yang sudah tak remaja lagi.


Arga selalu merasa was was jika intensitas pertemuan mereka berkurang, maka lelaki lain akan merubah perasaan Aretha berpaling darinya.


Arga mencintainya dalam diam.


Kini dia bertekad dalam hati, jika dia dipertemukan secara tak sengaja, maka dia akan mengungkapkan isi hatinya.


Waktu sudah mepet. Namun gadis itu belum kunjung datang. Bukan karena terlambat, namun dia yang kepagian.


"Mii.. Arga berangkat ya" Arga mendekati sang mama dan mengambil tangannya untuk ia cium dengan takzim.


Lalu mengecup kening sang mama setelah pipinya dicium sang mama.


"Hati hati, sayang" do'a Keira sang mama selalu terucap. Bukan hanya di bibir, tapi juga dihati sepanjang harinya.


"Mamiiii... Retha dataaang... Retha belum sarapan mi, mami bikin lebih ga?"


Seperti biasa kedatangan Aretha membawa keceriaan. Namun kini Aretha bersikap acuh tak acuh pada Arga.


Bukan apa apa. Dia sedang menyiapkan hatinya untuk patah hati sewaktu waktu.


"Retha.. I Love You"


Ucap Arga tiba tiba, namun langsung menarik gas motornya dan melaju kencang.


Ciye ciyeeee

__ADS_1


__ADS_2