Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Skak Mat


__ADS_3

Hendra tersenyum puas saat menerima telpon dari perusahaan advertising.


Dia ingin memberikan kejutan pada Keira, istrinya.


Ah Hendra jadi rindu dengan istri mungilnya itu. Waktu serasa merangkak lambat mengejeknya. Berulang kali Hendra melirik jam yang melingkar di tangannya.


Dia bahkan memerintahkan jarum itu untuk bergerak lebih cepat, bahkan menatapnya dengan tatapan menghunus.


Namun jarum jam itu seolah enggan untuk patuh padanya.


"Kenapa gak maju maju" rengeknya pada jarum jam yang tak kunjung mengerti akan kegundahannya.


"Pengen cepet pulang ketemu ayang" Hendra bahkan seolah merajuk pada orang tuanya.


"Beno" panggilnya melalui sambungan telfon.


"Ya bos"


"Sekarang jam berapa?"


Beno mengernyitkan dahi. Dia bingung apa bos nya ini sedang menanyakan jadwal meeting?


"Masih 4 jam lagi meeting nya bos" jawab Beno penuh perhatian.


"Bukan meetingnya. Sekarang jam berapa? kenapa jam di hape sama di jam tangan saya gak maju maju"


"Lah mana saya tau, mungkin dia lelah dengan bos" ingin rasanya Beno menjawab seperti itu.


"Sekarang masih jam 10 bos. Apa saya perlu panggilkan tukang urut?" hanya itu yang bisa Beno ucapkan. Namun sejurus kemudian dia menampar mulutnya sendiri.


"Tukang urut buat siapa?"


"Buat ngurut jam nya lah bos. Kali aja pegel gak mau gerak" batinnya lagi.


"Ah eng..enggak, bos. maaf barusan mang ihin keseleo kakinya" alasan yang bisa dia buat untuk berimprovisasi.


"Kamu yakin sekarang masih jam 10?"


"Iya bos. Saya yakin. Saya juga sudah mengecek buku primbon kalau bos tidak boleh pulang sebelum waktunya, atau hal buruk akan terjadi"


"Apa?"


"I-itu kata primbon jawa bos, bukan kata saya" satu lagi improvisasi Beno agar bos nya tak meninggalkan atau menunda rapat lagi karena dia yang akan kerepotan dengan berondongan pertanyaan dari para dewan direksi.


"Ck. Sejak kapan kamu percaya begituan. Dari sini ke rumah butuh waktu berapa lama?" Hendra masih tak mau menyerah.

__ADS_1


"45 menit bos. Kalau pulang pergi 1jam 30 menit. Waktu istirahat hanya 1 jam" Beno dengan cepat menjawab. Dia tahu arah pembicaraan bos nya yang sedang dilanda kasmaran dengan istri barunya.


Hendra langsung menjatuhkan kepalanya pada meja. Dia merasa dipermainkan.


"Flo.. apa yang harus aku lakukan.. aku rindu.." Hendra menghentakan kepalanya pada meja berkali kali. Yang dia rasakan hanya sakitnya menahan rindu.


Dia lantas membuka galeri pada ponselnya. Memandangi foto ijab kabul dadakan mereka yang ia rasa tak adil untuk permaisuri nya.


Hendra menggeser layar yang kemudian menampakan konsep desain kartu undangan resepsi pernikahan mereka.



"Flo... I miss you so bad" keluh Hendra pada layar ponselnya.


Hendra tak mengerti dengan dirinya sendiri. Dia bahkan tak segila ini pada mendiang istrinya.


tok


tok


"Ga ada orang" jawab Hendra saat mendengar ketukan di pintu.


Sang sekertaris yang berdiri dibalik pintu bersama Arga yang ingin menemuinya saling melempar tanya melalui tatapan heran.


Lalu Arga terkejut kala ponselnya bergetar.


Arga lantas melirik pada Sarah yang juga bertanya melalui lirikannya pada ponsel Arga.


Entahlah, kenapa mereka melakukan komunikasi melalui isyarat mata. Padahal tak ada yang memperhatikan.


"Halo, pak" jawab Arga setelah menggeser tombol hijau pada ponselnya yang terus bergetar dari sang papa sekaligus bos nya.


"Arga, apa kamu sedang bersama mamamu?" tanya Hendra diseberang telfon.


"Apa? mama- mama kan di rumah. Ini Arga ada di- yah malah dimatiin" Arga bertanya pada ponselnya kala Hendra langsung memutuskan sambungan telpon secara sepihak.


"Bos kamu kenapa sih?" Arga bertanya pada Sarah.


"Lah, itu kan bapak mertua kamu. Aku yang harusnya nanya. Dari pagi cuma rebahan di meja sambil liatin hape" ketus Sarah sambil berlalu kembali ke mejanya.


"Gak tau apa lagi ada situasi genting?" gumam Arga lagi.


Dia lantas kembali mencoba mengetuk pintu kokoh itu lagi.


tok

__ADS_1


tok


Tak ada sahutan dari penghuni ruangan eksklusif itu.


Arga sampai menempelkan telinganya di daun pintu.


"Pa, ini Arga. Apa boleh masuk?"


Arga memberanikan diri sedikit berteriak meminta ijin sang penghuni.


"Apa kamu bersama mamamu?" jawab Hendra dari dalam.


"Ah mama, i-ini.. mama.."


"Masuk"


Akhirnya ijin pun meluncur. Arga segera memutar kenop pintu dan membukanya.


"Pa-"


"Mana mamamu?" sergah Hendra sumringah sembari celingukan kearah belakang Arga.


"Mama.. eee.. ah iya kata mama papa jangan pulang terlambat"


"Benarkah? kalau begitu papa pulang sekarang sebelum terlambat" ucap sumringah Hendra sambil merapikan mejanya dan memakai jas nya untuk pulang.


"what? ini bahkan belum setengah hari" batin Arga.


"Tapi pa, perusahaan-"


"Papa serahin perusahaan sama kamu" Hendra menepuk sebelah pundak Arga sambil mengayunkan langkahnya menuju pintu sambil menampakan senyum lebarnya.


"Tapi perusahaan sedang diserang, pa"


"Apa? kamu serius?"


Arga mengangguk.


"Biarlah mereka mengambilnya" ucap Hendra dengan acuhnya.


"Nanti Arga gimana bisa nafkahin Aretha?"


"Ya kamu kan pintar. Orang pintar-"


"Minum tolak angin. Ya ya ya.. berarti papa siap siap aja digugat cerai mama, karena mama gak mau hidup sama laki laki gak bertanggung jawab" sarkas Arga terpaksa karena papa mertuanya terus bersikap kekanakan.

__ADS_1


"Siapa... ekhem.. siapa yang berani menyerang perusahaan?" Hendra akhirnya kembali duduk di kursi kebesarannya sambil membuka kancing jas yang sudah dia sematkan.


"Sialan anak ini" geram Hendra dalam hati merasa di skak mat oleh sang menantu.


__ADS_2