Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Ungkapan Terima Kasih


__ADS_3

Masih POV Hendra


Kami menikmati makanan yang kami pesan. Setelah drama panjang yang menyiksa jiwa duda ku.


Mungkin yang dia lihat adalah kawanan hyena yang tengah mengincarku, namun yang kuperhatikan adalah sekumpulan serigala yang siap menyergap dari segala arah, menungguku lengah untuk merampasnya dari dekapanku.


Ya, aku membalas pelukannya. Membuat iri semesta.



Mana ada yang mau melewatkan mahluk manis sepertinya. Untuk itulah aku memberanikan diri membalas pelukannya. Menyingkirkan rasa gerogiku yang sudah 20 tahun tak merasakan hangatnya pelukan seorang wanita dewasa.


Seandainya kehangatan itu berlanjut di tempat lain😬


Berkali kali aku mengambil kesempatan mengecup puncak kepalanya.


Dia memang diam saja. Tapi rasa was was menghantuiku.


Apa yang akan terjadi setelah ini, ya terjadilah.


Yang penting kesempatan ini tak mungkin ku lewatkan.


Benar saja.


"Bapak menikmati perannya?"


Dia berbicara dengan nada ancaman tersirat.


Namun ekspresinya tak sesuai dengan ancamannya.


Dia hanya membuka sedikit mulutnya dan melebarkan senyum saat melakukan itu.


Kengerian merambat di bulu kuduk ku.


Ternyata sekitar kami masih memperhatikan kami.


My God.


Betapa ahlinya dia memainkan peran ini.


Aku yang sudah berkeringat mencoba mengikuti alurnya.


"Tentu saja, sayang. Aku sangat menikmatinya" ujarku. Namun tak ku sembunyikan suaraku. Biar mereka tambah panas.


Meski aku juga semakin panas karena auranya bertambah sengit mengancamku.


Bibir mungilnya terlihat komat kamit.


Sepertinya dia sedang mengumpatiku.


Aku merasa semakin gemas ingin menggodanya.


"Makanlah yang banyak. Butuh banyak tenaga nanti malam"


uhuk


uhuk

__ADS_1


Haha, dia terbatuk karena ucapan absurd ku.


Sudah ku perkirakan apa yang akan terjadi nanti dirumah.


Emm.. seandainya kami satu rumah...


Ah.. sudah lah. Aku tak mau berandai andai terlalu jauh. Aku tak mau anak didik ku ngelunjak.


Kutenangkan anak didik ku yang berada di dalam celana.


"Sialan lo" desisnya setelah meredakan batuk nya.


Tak cukup hanya disitu. Aku tak tahan jika tak menggodanya. Sesuatu hal baru yang menjadi favoritku kini.


Ku seka bibir mungil yang tengah mengumpatiku itu dengan serbet tisu yang berada di meja makan.


Jika orang lain yang memperhatikan, pastilah kami terlihat bagaikan pasangan serasi nan romantis.


Pastilah serasi.


Aku yang ganteng gak ada obat, dan dia yang cantik dan imut di usianya pasti serasi denganku.


Jiahahaha....


"Pelan pelan makannya sayang. Gak sabaran amat mau cepet cepet makan aku ya" tukasku menambah daftar susunan acara menghajarku versi nya.


Orang orang di sekitar kami mulai panas dan sedikit menjauh.


Aku berusaha se acuh mungkin.


Aku melipat mulutku dan memejamkan mata erat kala terasa ngilu di selangkanganku.


Sialan.


Dia menendang anak didik ku, telak.


Duduk berhadapan seperti ini ada sisi buruknya ternyata.


Dia terlihat menyunggingkan senyum miringnya sembari menatap jahat padaku.


Gila.


Ancamannya gak main main.


Masa depan dede gemoyku... aaaaaa....


Dia punya cara untuk membungkamku yang terlalu berimprovisasi.


Kami pun makan dengan tenang. Aku tak berani menggodanya lagi. Aku harus mencari cara untuk menyelamatkan masa depan dede gemoy.


Kami masih tetap ber akting sebagai pasangan. Sebenarnya cukup efektif, karena para mata liar jantan dan betina disekitar kami tak lagi melirik kami yang berangkulan sepanjang jalan.


Rasa gatal kutahan kala ingin mengecupnya lagi.


Kesempatan oooh kesempatan.


Kapan kau akan muncul lagi.

__ADS_1


Kami pulang setelah perut kami terisi dan aku berhasil membelikannya beberapa pakaian.


Ternyata seleraku pas dengan seleranya.


Dia sempat menolak dengan tegas. Namun saat aku mengacungkan stelan yang menurutku pas dengan karakternya, dia berhenti menolak.


Dia melirik dan mendekat setelah menjauhiku dan mengancam akan meninggalkanku.


Setelah dia menilik nya sembari mendumel, bibir mungil itu berkata.


"Kemahalan. Tapi.."


Dia tampak membolak balikan pakaian itu dan mengepaskannya di tubuh mungilnya.


Setelah itu dia hanya menyimpannya diatas rak gantungan setinggi bahunya. Sedikit merapikannya, lalu pergi.


Ada gurat keinginan untuk memiliki namun pasti dilema karena harganya yang mungkin bisa jadi 10 potong baju jika beli di pasar.


Aku tersenyum dan memberikan kode pada karyawan toko itu untuk membungkusnya.


Dengan cepat aku membayar dan langsung mengejar langkah nya yang sesekali menoleh kebelakang.


Dasar besan sok gengsi. Ingin rasanya kugigit seluruh tubuhnya saking gemasnya tingkah dia.


Selama perjalanan, dia hanya diam. Mungkin menyesali keputusannya menolak pemberianku.


Aku hanya tersenyum. Tunggu sampai dia turun.


Dia memintaku menurunkannya di toko.


"Kenapa disini?" tanyaku heran. Bagaimana tak heran, semua bunga sudah habis terjual. Apa lagi?


"Rumahku di belakang sana. Males kalo lewat satpam banyak nanya nanti. Ribet" jawabnya masih melipat wajahnya.


Sudah kuduga dia kecewa karena gak bisa memiliki stelan itu.


Dia membuka pintu lalu turun dan menutupnya kembali.


Aku membuka jendela dan memanggilnya.


"Flo" aku memberikan beberapa bungkusan tas dari toko itu padanya melalui jendela.


"Apa ini?" tanyanya terheran. Dia sepertinya tak sadar jika tadi aku membawa cukup banyak belanjaan. Dan kini semua berpindah ke tangannya.


"Ucapan terima kasihku karena sudah mentraktirku makan" jawabku sembari memberikan senyuman terbaik ku.


"AKU PULANG DULU SAYAAANG" teriakku berpamitan sembari menggodanya.


Aku melajukan mobilku perlahan sembari tertawa puas karena melihatnya kesal dan melempar sebelah sepatu flat shoes nya ke mobilku.


Bisa kulihat dari spion saat dia merogoh kantong kecil yang berisi linggerie berwarna merah dan mengangkatnya diudara sembari membelalakan mata dengan mulut menganga.


Setelah itu dia kembali melayangkan ancaman kearah mobilku dengan mengacungkan kepalan tangannya dengan mulut yang tak berhenti komat kamit.


Hahahaha...


Puas hatiku menggodanya.

__ADS_1


__ADS_2