
Dengan perasaan dongkol, Keira berniat pergi ke restoran sebrang gedung ini untuk membeli makanan pengganti.
Alex kembali mencekal tangannya.
"Eh jangan kabur kamu. Siniin barang aku" Alex menengadahkan sebelah tangan yang lain.
Keira berbalik karena tarikan di tangannya. Dia langsung mengibaskan untuk membebaskan diri.
"Kamu bilang impas, bukan?"
"Tapi itu gak sebanding dengan harga laptop"
"Kata siapa? makanan itu saya buat pake rasa cinta. Bisa kamu beli cinta? Kamu mau laptop kamu yang kemaren jatoh digenti? ok aku genti sekarang juga. Tapi aku juga minta kamu ganti makanan yang aku buat dengan rasa yang sama, sekarang juga" Keira kembali melipat kedua tangannya.
Solihin hanya menonton drama picisan yang dia tebak bakal menjadi jodoh seperti cerita di telenovela yang sering ibunya tonton.
"Mana saya tau rasa makanan itu-"
"Ya cicipin" Keira memotong kilahan Alex dengan menantangnya.
"Kalau enggak, seperti katamu. Kita impas" Keira berbalik namun lagi lagi di cekal Alex.
"Iya iya. Aku minta maaf. Aku ganti tapi beli di restoran aja ya. Tapi barangnya kamu bawa kan?"
"Nih. Paling juga isinya pilem bokep semua" Keira merogoh tas nya dan memperlihatkan flash disk nya lalu langsung menariknya kembali kala Alex hendak merebutnya.
"Ganti dulu. Baru aku kembaliin"
"ck. Gak percaya modelan begini istrinya bos"
Hendra yang mendapat kabar dari Beno jika istrinya tengah bersitegang kembali dengan Alex segera turun dan memperhatikannya dari dalam lobby.
Ada rasa tidak suka kala istrinya lama berinteraksi dengan pria lain, meskipun mereka tengah bersitegang.
Seperti Solihin, Hendra khawatir Alex jatuh cinta pada sosok wanita tak biasa itu.
Orang orang kantor memang belum semua tahu mengenai hubungan Hendra sang bos besar dengan Keira yang kini adalah sepasang suami istri.
Yang mereka ketahui adalah mereka berbesan.
Alex kembali dari restoran membawa 5 bungkus nasi padang, dengan isi persis seperti yang Keira bawa.
"Kok 5?" tanya Keira.
"Apa ini bunganya?" lanjutnya.
"Bukan lah. 1 lagi buat saya" tukas Alex yang memisahkan 1 bungkus untuk dirinya.
__ADS_1
"Lah, buat dia mana?" tunjuk Keira pada Solihin.
"Gak ada hubungannya sama dia kan?"
"Kata siapa gak ada?" Keira merebut bungkusan yang sudah dipisahkan lalu mengembalikan flash disk itu dan menyerahkan bungkusan nasi padang itu pada Solihin.
"Nih, pak. Lumayan dapet rejeki siang siang. Abisin ya" Keira dengan cuek langsung melenggang masuk kedalam lobby.
"Aduuh.. si ibu bener bener deh calon surga. Makasih ya bu. Moga moga ibu berjodoh sama pak-"
plak
Sepatu flat nya mendarat di kepala Solihin.
"Ngomong kek gitu lagi saya jamin pala kamu ilang. Balikin" sungut Keira sambil menatapnya tajam. Lalu meminta kembali sepatu flat nya.
"I iya bu.. aduh salah nge do'a in. Makasih ya bu"
Benar saja. Sepeninggal Keira kedalam gedung, Alex hanya berdiri tertegun dengan sikap Keira yang berbeda dengan wanita lain.
Tak ada yang bisa menolak pesonanya. Dia sebenarnya sudah tertarik dengan Keira setelah insiden tabrak sepeda tempo hari, mengingat gaya wanita itu, dia yakin tak mudah menaklukannya. Jadi dia memilih cara dengan selalu mencari masalah dengannya.
Hendra melihat senyum itu dari dalam gedung.
Benar tebakannya. Wanita itu tak biasa. Apalagi Keira terlihat menggemaskan saat sedang marah sekalipun.
"Hai sayang. Ngapain diem disini?" tanya Keira yang langsung berlari kecil dan merangkul pinggang Hendra saat melihatnya tengah berdiri menyambutnya.
Sikap mesra mereka mengundang tanya para karyawan yang berada di lantai dasar itu. Hingga rumor menyebar.
Hendra tak peduli. Toh mereka sudah sah, hanya menunggu 2 bulan lagi untuk mengumumkan secara resmi melalui resepsi.
"Arga, bersiaplah" titah Hendra melalui sambungan bluetooth.
Agar tak mencurigakan, mereka bekerja di ruangan masing masing. Tentu saja alasan lainnya adalah agar Hendra bisa leluasa mencumbu Keira.
Seperti biasa Keira akan menyuapi Hendra kala Hendra berkutat dengan laptopnya. Namun bedanya karena mereka hanya berdua saja maka Keira menyeka bumbu rendang yang celemotan di bibir Hendra dengan lidahnya.
"Sayang, jangan bangunkan harimau"
"Hehe.. biar kena hukuman"
"Aku gak bisa kerja kalo gini" Hendra merangsek hendak menerkam Keira, namun Keira menahannya.
"Kerja pak, Kerja, jangan macem macem di kantor"
Hendra geram karena ini memang sedang gawat gawatnya. Dia kembali duduk dan fokus pada komputernya dan Keira kembali menyuapinya dengan senyum puas terkembang.
__ADS_1
Keira gemas dengan ekspresi dingin dan datar Hendra kala sedang bekerja, dia lantas mengambil tissue dan mengusap celana Hendra dibagian bawah perutnya.
"Aduuuh sampe netes netes gini pak"
Namun usapannya kembali membuat konsentrasi Hendra ambyar.
"Flo..."
Hendra hendak bangkit untuk memberinya pelajaran, namun Keira segera menjauhkan diri dengan tawanya.
Wanita mungil itu benar benar membuatnya hilang akal.
Keira akhirnya selesai dengan makan siangnya. Diapun membereskan bekas makan mereka lalu pulang.
Hendra pun berhasil masuk ke sistem pengamanan lawan dengan bantuan Arga.
"Bos, kita kehilangan jejak lagi. Sejumlah nominal besar baru masuk ke rekening dengan identitas palsu, namun langsung menghilang tanpa ada proses kliring"
"Identitas palsu?"
"Ya bos. Jika saja kita bisa menembus firewall di server utama, kita bisa melacak aliran dana itu"
Itu adalah suara percakapan 2 orang yang disadap melalui alat yang diselipkan Hendra pada tutup flash disk.
"Apa ini?" gumam Hendra bermonolog.
"Sayangnya mereka menggunakan perusahaan ini untuk menjadi benteng pertahanannya. Jika saja mereka melakukannya sendiri sudah pasti bisa kita tembus"
"Laporkan setiap perkembangan. Bagaimana dengan pemancing?"
"Aman bos. Mereka memang melakukan pertahanan berlapis. Tapi kita juga berhasil mengecoh mereka mengenai posisi kita"
"Bagus. Laporkan padaku setiap ada perkembangan"
"Baik bos"
"Dewan sialan. Jika saja aku bisa mendapatkan bukti korupsimu, aku tak akan terbuang seperti ini"
Sambungan terputus, itu pertanda perangkat telah dicabut dan ditutup. Tapi dia tak sadar jika komputernya telah ditanam virus dan semua data akan hilang kala log in kembali.
"Apa maksud semua ini?" Hendra tak berani mengambil kesimpulan dahulu sebelum semuanya jelas. Dia lantas kembali menghubungi Arga.
"Arga tolong cek tim intelejen. Apakah mereka menemukan sesuatu di lokasi?"
"Baik pa"
'Apa Alex ada hubungannya dengan lembaga keuangan itu? jika kutarik kesimpulan sampai sini, dia tak bermaksud untuk merampok, tapi membuktikan adanya korupsi. Dan apa maksudnya dengan terbuang? Ah, konflik dunia kelas atas memang penuh intrik' batin Hendra.
__ADS_1
"Halo pa. Tim intelejen tidak menemukan apapun di lokasi. Itu adalah toko pengolah daging" Arga memberikan laporan.
"Hmmm, menarik"