
Keira menenangkan tenggorokannya setelah terbatuk hebat karena tersedak roti lapis yang belum halus dikunyah.
Karena Keira lupa belanja mingguan dan tak menyangka akan kedatangan besan, jadilah dia hanya membuat roti isi daging asap untuk makan malam.
Kalau masih belum kenyang palingan pesan online. Pikirnya.
"Pelan pelan dong kalo makan. Sampe merah gitu mukanya" Hendra menyeka mulut dan dahi Keira.
Alisnya bertaut karena khawatir jika Keira kehabisan nafas saat terbatuk.
Namun seketika senyum tipis terlihat di bibirnya kala terfikir akan sesuatu.
'Gak papa deng abis nafas juga. Kan bisa dibantu nafas buatan' batinnya yang ingin mengulang kegiatan dikantor bersamanya sebelum terinterupsi oleh Arga dan peretas sialan itu.
"Kamu sih.. pake kuda kudaan segala" gerutu Keira yang wajahnya masih merah.
Hendra merebahkan setengah tubuhnya di meja makan, menyangga kepalanya dengan sebelah tangan menghadap Keira.
Menatapnya lekat, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
Sebelah tangannya yang bebas menyelipkan surai rambut yang menjuntai di dekat telinganya.
"Apa liat liat" ketus Keira yang seketika menyurutkan senyum tipis Hendra.
Dia lantas mencubit pipi Keira dengan gemas.
"Iih juteknyaa adek abang"
"Aduduh sakit ihh. Siapa adek, siapa abang. Geli dengernya juga tau"
Keira bergidik lalu menumpuk piring bekas pakai dan membawanya ke wastafel. Mencucinya hingga bersih dan menaruhnya di rak piring.
Saat berbalik, besannya sudah tak ditempat.
"Lah, malah ngilang tuh orang"
Keira lalu membereskan dan membersihkan meja makan dan dapur lalu lanjut ke ruang tengah. Dia bingung akan menempatkan besannya di mana karena kamar di apartemen sederhananya hanya ada 2.
Akhirnya Keira mengeluarkan selimut tebal yang bersih dari lemari beserta bantal yang diganti sarungnya terlebih dahulu, lalu menaruhnya di sofa ruang tengah.
Yah.. mau gimana lagi, beginilah kondisi nya. Suruh siapa menginap tapi gak persiapan.
Tak lupa Keira mengeluarkan 1 stel pakaian rumah mendiang suaminya untuk ganti besannya. Keira menebak laki laki tua itu pastilah rak membawa pakaian ganti.
Setelah dirasa beres diapun melangkah ke kamar mandi untuk menyikat gigi. Suatu kebiasaannya sedari kecil.
ceklek
Keira masuk ke kamar mandi dan menguncinya.
"WAAAAAAAAA........."
Keira tertegun sebelum berteriak dengan temuan nya di kamar mandi, dimana dia melihat sang besan tengah mengutak atik torpedo nya dengan kesusahan. Namun segera tersadar karena terkejut kala sang torpedo menembakan misil nya kearahnya.
"Ahhhh....." Hendra mendesah lega setelah berhasil mengeluarkan misil nya.
"Dasar besan mesum, cabul...." bukannya keluar dari kamar mandi, Keira malah mendekat dan memukuli Hendra sambil mengusapkan semburan misil yang tak sengaja menembak padanya ke kemeja Hendra.
Hendra menghindari pukulan Keira yang bertubi tubi, melindungi kepalanya dari serangan besan bar bar nya.
Tapi dia lupa satu hal.
__ADS_1
Torpedonya belum sempat dia masukan kembali ke sarang karena belum dicuci.
"Mamiii.. kita pulaaaang" teriak Aretha dari luar kamar mandi. Tampaknya anak dan menantu mereka sudah kembali dari shoping singkatnya.
"Miii... MAMIII.." teriak Aretha yang tampaknya mencari keberadaan Keira.
Keira dan Hendra bingung harus bagaimana dan hanya saling tatap dalam jarak yang sangat dekat. Karena Hendra membekap mulut bebek nya Keira yang tak bisa berhenti mengoceh.
Keira tersadar dengan tangan Hendra yang menutup mulutnya segera menepis dan menggerutu lirih.
"Lepas ih jorok tangan kamu bekas itu kamu" dumel Keira berbisik.
tok
tok
"Siapa di dalem?" Aretha lanjut mengetuk pintu kamar mandi karena orang yang sedari tadi dia cari tak kunjung menyahut.
"Ini papa" teriak Hendra akhirnya yang kembali membekap mulut bebek Keira karena terlihat hendak protes.
"Oh, papa. Mami mana, pa?" tanya Aretha lagi.
"Tadi di dapur" singkat Hendra yang ingin segera menyudahi dramanya. Tapi setelah ini dia harus memikirkan bagaimana cara keluar dari sini.
Hendra menajamkan pendengarannya. Tampaknya Aretha sudah beranjak dari depan pintu.
Tapi entah berada dimana dia dan suaminya berada.
Hendra perlahan terus memperhatikan pintu sambil menajamkan pendengarannya.
Keira yang sudah tak sabar dengan kerutan dalam di dahi nya menepuk tangan Hendra yang bertengger di mulutnya.
Hendra sontak mengalihkan pandangannya dan melepas tangannya dari mulut Keira.
"Jorok" sarkas Keira masih berbisik.
Dia juga tak mau sampai kepergok anak anaknya tengah berduaan di kamar mandi.
Keira segera menyikat gigi dan mencuci mukanya. Matanya tetap menampakan aura permusuhan pada Hendra.
Hendra segera mencuci torpedonya dengan selang yang menggantung di pinggir closet membelakangi Keira.
"Ga da niat mo mandi gitu abis begituan?" gerutu Keira lirih, namun masih bisa didengar Hendra karena hanya ada mereka berdua didalam sana.
"Oke, aku mandi" balas Hendra yang sebenarnya malu kedapatan berbuat tak pantas.
Tapi bukan salahnya jika sang besan harus melihat aksinya.
Kesalahannya hanya lupa mengunci pintu kamar mandi.
Hendra berniat buang air kecil. Namun karena torpedonya sedang tegang dan terisi penuh, dia tak bisa mengeluarkan air seni nya. Cara satu satunya ya harus mengeluarkan misilnya dulu.
Hendra membuka kemeja nya sambil sengaja menghadap Keira yang sedang memunggunginya.
Tapi Keira yang tengah menggosok gigi di wastafel itu bisa melihatnya melalui pantulan cermin.
Hingga Hendra membuka sabuk celananya.
uhuk
uhuk
__ADS_1
Keira tersedak busa odol yang memenuhi mulutnya.
Hendra tak peduli.
Dia lanjut membuka celana panjangnya dan menyisakan celana kolor sebelum ****** ********.
Keira segera menuntaskan acara sikat giginya. Lalu berbalik menyemprotkan umpatan pada Hendra.
"Besan gila" desis Keira dan dibalas Hendra.
Cupp
Hendra mengecup sekilas bibir Keira yang menari didepan wajahnya mengeluarkan umpatan menggemaskan.
"Wangi" Hendra membalas umpatan Keira dengan cengiran.
Kepala Keira sampai terdorong kebelakang karena kecupan mendadak dan kilat yang dilayangkan besan sengkleknya.
Lagi lagi Keira tak bisa berkata apa apa.
Dia hanya bisa menggembungkan pipinya menahan kesal. Lalu mengendap menempelkan telinga di pintu.
Keira sedikit membuka daun pintu, memastikan jika keadaan di luar kamar mandi aman dari pantauan anak dan menantunya.
"Aman" gumamnya. Lalu menyembulkan kepala mengintai sekitar yang ternyata benar benar aman.
"Aku keluar dulu. Kalo perlu baju ganti, udah aku siapin di kursi" bisiknya sebelum meninggalkan kamar mandi.
"Iya, sayang" balas Hendra berbisik.
Keira hanya mendelikan matanya dan segera keluar kamar mandi, lanjut keluar unit.
Dia harus mencari alibi agar tak diketahui anak anaknya tengah berduaan di kamar mandi.
Bukan salahnya yang nyelonong masuk. Suruh siapa pintunya gak dikunci.
Sambil komat kamit Keira akhirnya memutuskan untuk belanja ke supermarket dekat apartemennya yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Keira tiba kembali di unit apartemennya. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk belanja dan berjalan bolak balik ke supermarket.
"Mami dari mana? Retha cari cari kok mami gak ada?"
"Belanja buat besok lah. Papa kamu mau dikasih makan apa besok coba"
"Kan bisa telpon Retha, mi, mami perlu apa. Retha bisa sekalian beli kan tadi" tukas Aretha yang ikut membantu Keira memasukan belanjaan ke lemari es.
"Gak pa pa. Sekalian mami juga mau beli ini, kamu pasti gak kan nemu" ucap Keira yang memperlihatkan toples bumbu yang memang Aretha tidak tahu apa namanya.
Hendra salut dengan alibi Keira.
Dia benar benar ahli.
Puji Hendra dalam hati.
JEMPOL MANA JEMPOOL😆😆😆
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
🤧🤧🤧🤧
__ADS_1