
"Sarah, pindahkan jadwal meeting hari ini untuk besok. Kamu rapatkan jadwalnya. Aku harus mengurus sesuatu"
Hendra memakai jas nya sambil berjalan terburu buru.
"Baik pak. Hadeeeh... alamat kena semprot klien lagi. Untung gajinya gede" keluh Sarah.
"Kamu buat surat pembatalan kontrak dan kesediaan membayarkan penalty pada PT. Tan Group" Hendra tiba tiba berbalik dan menyampaikan apa yang hampir dia lupakan.
"Astaga, ya ampun. Kaget. I iya pak. Segera saya kerjakan" jantung Sarah berdegup kencang karena terkejut dengan pesan tiba tiba bosnya. Untung saja dia sedang tak mengumpat.
......................
Keira melangkah gontai menuju apartemen yang Arga tinggali. Rasa lapar sedari malam ia lupakan karena sudah berganti menjadi rasa sakit didada.
Tiba tiba perut bagian bawahnya terasa nyeri bagai dicubit. Dengan lelehan air mata dia meringkuk di sofa sambil mencengkeram perutnya.
Bagai diberi jalan, dia menangis meraung.
"Perut sialan, kenapa ikut ikutan sakit" marahnya sambil meraung terus meluapkan emosinya.
"Jon.. hik.. perut gue.. perut gue sakit"
"......."
"Apartemen My Dream.. lantai 5.. unit 19.. cepetan.."
Keira menghubungi Adam yang tengah bersantai karena ini adalah hari liburnya menggantikan hari minggu yang padat pasien.
Jika dia bisa menahannya mungkin tak akan memanggil siapapun. Berhubung sahabatnya itu sudah kembali dan menjadi dokter, apa salahnya sedikit merepotkannya. Dia hanya sedang tak bisa sekedar bangkit apalagi pergi ke rumah sakit.
30 menit berlalu, rasa sakit itu sedikit berkurang, namun bila dia bangun, rasa nyelekit itu mencubit perut ratanya.
Tak mungkin hamil kan? baru juga periksa beberapa hari yang lalu, masa secepat ini. Batinnya.
ting
tong
"Ah sialan. Aku harus membuka pintu" Keira lantas meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
"Pin xxxxxx buka aja, aku gak bisa bangun" pesannya melalui chat yang memberitahukan nomor pin kunci pintu.
Akhirnya dia harus merubahnya juga, mengingat pin itu sudah diketahui orang lain selain keluarga selain itu nomor pin nya merupakan gabungan tanggal ulang tahunnya, Jodi dan Arga.
tinit
Suara kunci pintu yang terbuka.
__ADS_1
"Key.. apa yang terjadi?" Adam sedikit khawatir saat melihat Keira meringkuk di sofa. Ditambah lelehan air mata mengiringi rintihannya.
Adam lantas menyelipkan tangannya ke perut Keira tang tengah dicengkeram.
"Hhh.. ini sih kram perut" Adam lantas mengambil sesuatu seperti kantung kompres dari tas kerjanya dan mengisinya dengan air hangat, lalu meminta Keira untuk mengompreskannya di perutnya.
Keira menurut dan memeluk kompresan hangat itu diperutnya.
"Kamu keknya dehidrasi" tukas Adam yang melihat bibir Keira pecah pecah. Dia lantas kembali ke dapur untuk membuat teh chamomile dengan daun mint juga air putih hangat.
Keira teringat jika dia memang melupakan minum dari semalam karena memikirkan Hendra. Ditambah tak jadi sarapan gara gara wewe gombel.
Setelah merasa baikan, Keira bisa bangkit dan duduk lalu menyeruput air hangat dan teh chamomile yang Adam buat.
"Makasih" dia lantas beranjak kearah pintu dan terlihat mengutak atik pintu.
Tampaknya Keira benar benar mengubah pin nya.
"Lo tinggal di apartemen kek gini sama laki borju elo?" tanya Adam dengan sarkas. Dia ingin mengejek laki laki songong itu habis habisan. Apartemen ini bahkan hanya separuh luas rumah pribadinya yang dia beli dari hasil menjalani profesinya. Meskipun masih menyicil.
"Enak aja. Ini apartemen gue ma Jodi. Sementara sama Arga dulu. Kalo gue sih tinggal di rumah dia lah"
"Ck, halah. Alesan. Sok kaya tuh orang. Emang kerjanya apa sih, sok sokan ngasih mas kawin kartu item segala. Punya gue juga bisa kali di cat item"
ting
tong
Keira mengintip lubang pintu untuk memastikan siapa yang datang.
"Hah.. Hendra? ngapain kesini?" gumamnya yang tak menyangka akan kedatangan sang suami yang dirindukannya. Tapi dia kesal karena pemandangan yang dia temukan di kantor.
Keira lantas terpikir akan sesuatu. Dia memindai pakaiannya yang hanya memakai kemeja kebesaran dan celana jins. Dia lantas membuka celana panjangnya membuat Adam membelalakan mata.
"Gila lu, mo ngapain? jangan perkosa gue sekarang-"
ctaakk
"aww.. sialan lo sentil sentil- aww.." Adam mengaduh kala Keira menyentil bibirnya kencang dengan jarinya 2 kali.
"Gantian" Keira memerintahnya untuk melakukan hal yang sama padanya.
"Pake bibir gue aja- anjirr.. sakit tau"
ctakk
Adam membalasnya dengan tenaga full.
__ADS_1
"Sialan lo. Kekencengan ashu" umpat Keira yang kemudian membuka 2 buah kancing kemeja Adam dan miliknya lalu mengacak rambutnya bergantian dengan rambut milik Adam.
Sungguh Adam tak mengerti dengan kelakuan sahabat somplaknya.
Keira mendekati pintu dan sedikit menurunkan kemeja putih kebesarannya menuruni bahu mulusnya.
clekk
Keira membuka pintu. Hendra tertegun dengan penampilan Keira yang..
Seksi..
Tapi..
Rambut acak acakan, bibir bengkak, baju dengan kancing yang terbuka dan sedikit melorot di bahunya, ditambah tak memakai celana luaran.
Apa dia sedang bermain gila? batin Hendra dengan alis mengkerut.
Apa Keira sedang membalasnya dengan cara bermain gila dengan laki laki lain?
Dia lantas membuka lebar pintu itu karena ingin melihat pasangan gila nya.
"Dokter Jon?" lirihnya sambil memindai kondisi Adam yang sama acak acakannya dengan Keira.
Tatapan Hendra kembali menilik Keira yang tengah acuh melirik keatas karena tak mau menatapnya. Dia tak mau ketahuan bohong lagi.
Yang pasti Keira sedang merajuk. Dia kesal diperlakukan seperti itu oleh Hendra dikantor.
"Kalian.."
grepp
Ucapannya menggantung kala dia mencengkeram pipi Keira dengan sebelah tangannya. Lalu memepetnya di tembok dekat pintu.
"Hei bung.." sergah Adam yang melihat sikap Hendra yang hendak melakukan tindakan kasar pada sahabatnya. Namun ia urungkan kala Hendra menyambar bibir Keira dan menciumnya membabi buta. Pun dengan Keira yang membalas serangan tiba tiba Hendra.
Mereka bahkan berguling guling menyusuri tembok. Lalu Hendra mengangkat kedua kaki Keira dan melingkarkannya di pinggangnya. Membawanya ke kamar tamu tanpa melepas pagutan mereka yang brutal dan liar.
"Sialan"
"KEY.. NASIB GUE GIMANA..."
Teriaknya kala melihat pasangan absurd itu telah menutup pintunya dengan kasar. Sudah dipastikan rudal Hendra kembali menghujani lembah Keira bertubi tubi. Memborbardirnya tanpa henti dan meluluh lantakkan pertahanan Keira.
"Sialan lu, habis manis sepah dibuang gue. Aww.. mana sakit lagi ni bibir"
Adam lantas memilih pergi dari apartemen sederhana itu sebelum mendengar teriakan meminta ampun dari salah satunya.
__ADS_1