Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Anak Baru


__ADS_3

"Retha.. "


Arga tak mau menyia nyiakan kesempatan ini. Gadis itu harus tahu isi hatinya.


Aretha menoleh, takut salah mengira jika Arga memanggilnya. Harapannya selama ini karena tak pernah sekalipun Arga memanggil namanya.


"I Love You"


Ucap Arga tiba tiba, namun langsung menarik gas motornya dan melaju kencang. Menyelamatkan wajahnya yang memerah.


Aretha membelalakan mata dan membuka mulutnya. Tapi mulut itu tak tahu harus berkata apa. Sehingga terus menganga.


Masih tak percaya dengan pendengarannya.


Apa jangan jangan tadi itu hanya halusinasinya saja?


"aaaaa......" suaranya tercekat.


"Ciye ciyeeee.... yang dapet pernyataan tiba tiba.. dayung bersambut nih. Eh dayung apa gayung ya? ah bodo amat yang pasti.. ciyeeee..."


Keira terus menggoda Aretha yang masih mematung. Saat Keira menyenggol lengan Aretha, tiba tiba air matanya jatuh.


"Loh loh loh.. lah kok malah nangis? kamu gak suka sama Arga? kamu.. jangan jangan kamu udah punya.."


"Akhirnya dia ngomong sama Retha lagi, mi... trus tadi dia bilang apa?"


Tangisnya semakin menjadi.


"Ya ampun.. sssshhhh.... udah ya..."


"Tadi Arga bilang apa sama Retha mi?" Aretha masih menangis tersedu.


"I love you"


"Love you too. Aaaaaaaa... akhirnya Arga nembak Retha aaaaa...." Aretha kini berteriak kegirangan.


Keira terheran. Kemana tangisnya lari tadi?


Aretha memeluk Keira erat dan berjingkrak jingkrak. Dia tak peduli dengan tatapan orang orang yang berlalu lalang menatapnya terheran, berjingkrak dengan jejak air mata.


Setelah lelah berjingkrak, dia kembali menangis. Masih memeluk erat Keira.


"Dia cinta Retha, mi. Ternyata dia cinta Retha.. huhuuuu...."


Keira mengelus rambut belakang Aretha dengan lembut.


"Iya, sayang. Mami tau" ucapnya lembut, menenangkan.


"Hah? mami tau? kenapa gak bilang sama Retha?" Aretha sontak melepas pelukan dan memegang bahu wanita matang yang tingginya sepantar itu. Jika dilihat sekilas, mereka bagaikan kakak beradik.

__ADS_1


"Ya tau dong. Masa gelagat anak sendiri gak tau" tangan Keira menghapus jejak air mata di pipi Aretha.


"Kenapa mami gak bilang? Retha kan jadi harap harap cemas gitu. Mana tambah kesini Arga tambah ganteng gitu. Hati siapa yang gak ketar ketir coba mi"



Yang bikin hati Aretha ketar ketir neh😍


"ck. Kamu itu ya. Bawelnya ngelebihin emak emak berdaster yang tiap hari sanggulan. Kalo mami kasih tau, mami gak akan liat perjuangan kamu buat bersabar nunggu Arga. Mami juga gak akan yakinin hati mami kalo kamu memang cocok buat ngedampingin Arga. Dia itu butuh cewek yang mandiri sekaligus manja, ceria, sabar, penyayang, pintar, dan satu lagi, pintar masak. Dan dia kagum sama perjuangan dan perkembangan kamu" Keira menoel ujung hidung Aretha yang malu malu atas pujian yang dilontarkan Keira.


Arga memasuki lobby gedung kantor itu dengan perasaan berbunga bunga setelah menyatakan perasaannya. Sepanjang jalan senyumnya tak pernah hilang dari wajah tampannya.


Dia sedikit membungkuk dan terus mengembangkan senyum kala berpapasan dengan beberapa karyawan lain. Membuat beberapa karyawati salah tingkah dan terpesona dengan si pemagang naik tingkat.


Hingga menunggu pintu lift terbuka walau berdesakan pun senyumnya tak surut.


"Udah gak usah tebar pesona terus. Kamu bikin karyawati disini gak bisa kerja tau gak?" tukas salah satu karyawan yang ikut menunggu lift.


"Ah. Maaf bukan maksud saya tebar pesona. Saya lagi seneng aja" sergah Arga yang tidak enak karena perasaannya yang tidak bisa disembunyikan.


" Aku Tommy. IT Analyst. Baru 3 bulan bergabung di perusahaan" karyawan yang bernama Tommy itu menyodorkan tangannya. Arga menyambutnya.


"Saya Arga. Spesialis keamanan IT. Baru begabung di perusahaan"


"Kamu si anak baru?"


"Hah?"


Terlihat para karyawan lain yang tengah sama sama menunggu pintu lift terbuka melirik padanya dan saling berbisik.


ting


Pintu lift terbuka.


Semua berlomba masuk agar tak terlambat tiba di divisi masing masing.


Namun karena Arga tengah memegangi karangan bunga untuk sang bos besar, dia memilih menunggu lift selanjutnya dari pada resiko bunganya rusak.


"Arga ayo masuk. Masih muat" ajak Tommy yang sedikit terhimpit di belakang sana.


Arga menggeleng. Tiba tiba terdengar suara heels dari kejauhan yang tampaknya berlari mengejar lift.


"Apa masih muat?" tanya karyawati yang terengah karena berlari dari pintu lobby.


"Ya silahkan, duluan saja. Saya nunggu selanjutnya" jawab Arga sopan. Dia sadar diri karena baru diangkat.


"Terima kasih. Saya berhutang padamu makan siang. muach" si karyawati dengan genitnya melakukan cium jarak jauh pada Arga. Membuat Arga menyurutkan senyumnya karena terkejut.


ting

__ADS_1


Pintu lift tertutup.


"Fuhhh... apa apaan tadi?" Arga mengelus dadanya.


"Kenapa masih disini?" tanya Hendra yang baru datang dan hendak memasuki lift pribadi nya.


"Ah.. Selamat pagi, tuan- pak" Arga meralat panggilannya pada Hendra.


"Ini nunggu lift"


"Kamu tadi dapat kesempatan, kenapa gak masuk?"


Arga mengangkat karangan bunga.


"Dan mempertaruhkan bunga ini? tidak mungkin pak. Bunga ini juga butuh perlakuan khusus. Meski usianya tak lama karena telah di panen. Setidaknya keindahannya masih bisa dinikmati jika kita menghargainya" jelas Arga yang tak disangka oleh Hendra akan semelow ini.


"Apa itu bunga untuk di ruanganku?"


"Benar pak"


"Ikut saya"


Hendra mengajaknya menaiki lift pribadinya.


"Tapi pak-"


"Saya tak mau bunga itu sampai diruangan saya dalam keadaan layu"


Arga tertegun.


"Gak mungkin saya bawa sendiri kan? tugas kurirmu berakhir jika bunga itu sampai di meja saya dengan selamat, bukan?"


"Ah, i-iya" Arga lantas mengikuti langkah bos besarnya menaiki lift khusus"


Mereka sampai di lantai 10. Lantai tempat ruangan Hendra berada.


Seperti biasa, Arga dengan cekatan namun ahli kembali memindahkan dan merangkai bunga yang sebelumnya ia potong dari pot tembikar untuk dimasukan kedalam vas.


Hendra masih tak percaya. Seorang IT yang mempunyai tangan kaku yang hanya mengenal keyboard, bisa merangkai bunga. Setelah itu Arga pamit untuk turun ke ruangannya yang berada di lantai 6.


"Hei, bro. Mau kemana? sini makan disini" Tommy yang melihat Arga selesai mengambil makan siangnya dan hendak keluar dari cafetaria mengajaknya untuk bergabung disalah satu meja.


"Next time, bro. Aku masih banyak tugas" Arga tersenyum ramah dan langsung berlalu. Bukannya tak ingin bergabung, namun karena statusnya yang masih mahasiswa, dia tetap harus mengejar dead line tugas kampus.


Untung saja pihak kampus memberikan dispensasi untuk mengikuti kelas secara online karena Arga berhasil dikontrak perusahaan.


"Pantas saja dia langsung direkrut, orangnya terlalu rajin" ucap salah satu karyawan yang bergabung dalam meja bersama Tommy.


"Halah, kita kita juga pertama masuk mah rajin. Kesin kesini pada santuy. Ntar kalo ditegor baru aja kelabakan" salah satunya menimpali.

__ADS_1


"Eh kalian liat si anak baru gak?" tanya Hesty yang celingukan mencari keberadaan Arga.


"Noh, balik ke kandang" jawab Tommy yang merasa jijik dengan sikap Hesty yang selalu mencari mangsa baru.


__ADS_2