
Hendra mengangsurkan ponselnya dan membuka galeri. Memilih salah satu foto dan memperlihatkannya pada Keira.
"Apa kamu suka, sayang?" tanya nya saat Keira melihat foto undangan pernikahan mereka itu dengan takjub dan mulut menganga.
"Kamu.. ini.. " mata Keira berkaca kaca. Lalu terkesiap kala Hendra menarik sebelah tangannya dan memasangkan cincin berlian di jari manisnya lalu mengecupnya lembut.
"Maaf aku menikahimu dengan cara seperti itu. Aku ingin memberikan seluruh duniaku padamu. Aku ingin mereka tahu dimana posisimu di duniaku. Tolong jangan tolak ungkapan hatiku ini. Kalau kamu menghitungnya, ini bahkan tak sebesar upil yang tersangkut di hidungmu"
Keira sontak memegangi hidungnya, namun seketika tersadar jika Hendra tengah mengerjainya karena kekehan Hendra.
plak
Telapak tangan itu mendarat di paha Hendra yang terus terkekeh.
"Kamu niat gak sih romantis nya. Sia sia aku nangis terharu" Keira mengerucutkan bibirnya sambil menyeka air yang berhasi lolos dari matanya.
Hendra merengkuh Keira dalam dekapannya lalu mengecup kepalanya.
"Romantisnya nanti dirumah aja ya"
Perasaannya ini sungguh sangat berlebihan bagi Keira.
Dia merasakan ketulusan dan cinta yang mendalam dari Hendra.
Keira mengangkat jari yang telah tersemat cincin cantik itu keudara lalu menengadah memandang Hendra yang tengah memeluknya hangat.
"Terima kasih karena telah memilihku"
Hendra menunduk dan melihat pancaran cinta dimatanya.
"Aku yang harusnya berterima kasih karena kalian hadir di hidupku. Aku gak tau akan sesuram apa hidup yang kujalani kalau tak ada kalian yang hadir. Retha mungkin bersama yang lain, tapi entah denganku. Tak ada yang bisa membuka hatiku dan menariknya keluar dari kegelapan selain kamu" Hendra menarik dagu Keira dan memagut bibirnya lembut penuh perasaan.
"Kamu yakin akan mengenalkanku pada semua kenalanmu?"
"Tentu saja. Kamu istri sah ku. Semua orang harus tahu kalau kamu milikku sekarang, juga agar tak ada yang berani mengganggu mu"
Keira bangkit dari bersandarnya dan kembali bertanya.
"Kamu gak takut dinilai buruk karena bersanding dengan wanita sepertiku?"
"Wanita sepertimu? maksudnya?"
__ADS_1
"Yaa aku bukan wanita berkelas yang berasal dari kalangan atas seperti relasi relasimu"
"Kamu pikir aku dari kalangan atas? mereka semua tau asal usulku yang seorang yatim piatu, aku bahkan memulai semua ini dari nol. Aku pernah berjualan koran, menyemir sepatu, menjadi joki payung, untuk bertahan hidup. Apa hak mereka menilaimu tak pantas untukku? Apa mereka membiayai pernikahan kita? Atau apakah gedung perusahaan ini mengambil tanah warisan mereka? Jangan terpancing omongan rendah yang mereka lontarkan. Dan jangan rendahkan dirimu dihadapan mereka.
Kamu, hanya kamu yang pantas untuk mendampingiku. Karena kamu adalah Keira Florencia, wanita tangguh dan sederhana apa adanya yang bisa mengobrak abrik duniaku tanpa kehadiranmu.
Abaikan omongan sampah orang orang yang merendahkanmu. Karena sampah tetaplah sampah meski berasal dari istana negara sekalipun"
"Aaaaaw... so sweeet omongan ayangku ini" goda Keira menghalau tangis haru nya lagi.
Hendra terkekeh dan mengecup hidungnya.
"Seandainya aku bisa pulang sekarang, aku ingin selalu bersamamu"
"Jika suatu saat aku mengecewakanmu, apa kamu akan membenciku?"
"Tak ada manusia yang sempurna. Semua harus dibicarakan dengan tenang. Suatu saat pasti badai akan datang membawa kesalah-pahaman diantara kita, berjanjilah untuk saling berbicara dan saling mendengarkan"
'Tuhan, tolong jangan pisahkan kami hingga hingga akhirat nanti. Jangan pula cemburu karena aku begitu mencintai mahlukMu ini' do'a Keira dalam hati.
Hendra kembali bekerja setelah mendapat asupan nutrisi perut dan hatinya.
Keira keluar ruangan dengan hati yang berbunga bunga karena dihujani cinta dan kata manis dari mulut suaminya.
Menuruni 10 lantai bukanlah hal yang sulit bagi orang yang sedang jatuh cinta.
"Sialan.. virus yang berbeda. Gunakan otakmu, bodoh. Untuk apa aku membayarmu mahal kalau tak bisa menembus firewall nya?"
prakk
"ups, sorry. Kupikir tak ada orang disini"
Keira tak sengaja menyenggol laptop seseorang yang tengah duduk di titian tangga hingga terjatuh.
Keira mengambil laptop itu dan memindai jika ada kecacatan pada laptopnya.
"Apa ada kerusakan? atau mau aku ganti sekalian?" tanya nya khawatir pada laki laki yang mendecak kesal karena kecerobohan Keira.
Laki laki itu merebut kasar laptopnya dari tangan Keira.
"Makanya kalo jalan pake mata" sarkasnya yang langsung pergi.
__ADS_1
"Maaf kalo mata kaki saya gak bisa liat" Keira kembali meminta maaf setengah berteriak karena laki laki itu telah pergi keluar dari jalur evakuasi darurat ini.
"Emang orang aneh atasan Retha itu. Punya masalah hidup apa sih tuh orang, bawaannya nyolot terus. Lagian gaya nya aja selangit sok eksekutip, ngerjain pe er di tangga. Cih"
Keira terus menggerutu sepanjang ia menuruni tangga. Namu langkahnya terhenti kala menemukan benda pipih berbentuk persegi panjang yang mana dia tahu kalau itu adalah flash disk.
"Apa ini punya orang itu ya?"
Keira lantas mengedikkan bahu tanda acuh.
"Nanti kasiin Aretha aja deh. Males kalo harus ngejar orang kek gitu. Bisa besar kepala tuh orang dikira aku mau modusin dia lagi"
Tiba di rumah Keira langsung menghubungi Arga melalui pesan chat.
"Kita perlu bicara" send Arga.
Tak lama pesan itu berubah centang biru tanda sudah terbaca. Namun tak ada balasan. Yah setidaknya dia sudah memberinya petunjuk jika dia menunggu penjelasannya.
Arga pun sadar jika sang mama mengetahui tentang masalah papanya ada sangkut pautnya dengan keluarga Aretha karena sang mama tak mencecarnya dengan pertanyaan sewaktu tadi di kantor.
Dia ingat betul jika dia dan mamanya mengetahui tentang keberadaan kotak rahasia milik Jodi.
Keira memilih mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan di rumah ini untuk mengusir rasa bosannya.
Niatnya kembali membuka toko bunga ia urungkan karena misteri itu.
"Sayaaaang aku pulaaang..." teriak Hendra saat memasuki pintu utama rumah itu.
Matahari bahkan belum berubah jingga, tapi Hendra yang seorang workaholic kini berubah menjadi Floraholic.
Hendra tak mendengar sahutan dari istri candunya. Dia bahkan membuka dan melempar tas kerjanya secara sembarang dan bergegas mencari keberadaan sang istri.
Kaki jenjangnya ia ayunkan menaiki tangga menuju kamar utama di lantai 2.
Namun Keira tak ia temukan didalam sana, bahkan di kamar mandi.
Dia kembali turun dan membuka setiap kamar, namun tetap tak menemukannya.
Hendra lantas melangkah ke dapur, mungkin saja istrinya itu tengah menyiangi sayuran untuk dimasak.
"Sa- yang.." seruannya terpotong kala kembali tak menemukannya.
__ADS_1
Hendra panik. Kemana istrinya itu? Setahu Hendra, Keira sudah dari siang tiba di rumah karena wanita cantik itu memberinya kabar jika sudah tiba di rumah.
"Sayang, kamu kemana?"