
"Bulan madu?"
"Iya, pernikahannya sih udah seminggu yang lalu. Apa bapak kenalannya pak Kevin?"
"Hah, Kevin?"
"Atau mungkin saudara jauhnya mbak Florentina?"
"Apa sudah ganti nama?"
"Ah mungkin bapak nyari pemilik sebelumnya ya pak. Unit ini sudah terjual 2 minggu lalu. Pembelinya pak Kevin, karyawan perusahaan retail"
"Ah, begitu. Iya sepertinya saya salah. Saya memang mencari pemilik sebelumnya. Apa dia tidak pernah datang lagi?"
"Ibu Key kemarin datang kesini untuk mengambil sisa uang penjualan unit. Beliau bahkan pamitan sama saya. Katanya sekarang dia tinggal di tengah kota buat buka toko bunga yang lebih besar. Bahkan toko yang dibawah merupakan toko franchise dari usaha florist nya. Saya salut dengan ibu itu, seandainya-"
"Saya permisi dulu"
Hendra segera pergi sebelum mendengar ocehan omong kosong berandai andai tentang istrinya.
"Kemana aja tu orang, hari gini belom tau siapa saya" gerutu Hendra dengan geram karena tetangga Keira tidak mengenalnya sebagai suami Keira. Memang mereka menikah tak mengundang siapapun dari pihak Keira. Juga saat itu Keira langsung diculik jadi belum sempat mengadakan syukuran karena berbagai drama bermunculan silih berganti.
"Loh, pak Hendra. Sama ibu pak?"
"Eh Nis. Kamu yang kelola toko ini?"
"Hehe.. iya pak. Kebetulan saya ada yang ngasih modal. Dari pada kerja di tempat orang dimarahin mulu. Oh iya pak, nanti tolong sampaikan sama ibu, persediaan pupuk udah menipis. Saya minta dikirim 1 kol besok" ucap Anis mantan karyawan Keira yang kini melanjutkan usaha toko Keira atas seizin Keira dengan perjanjian franchise karena nama 'Flo-wers florist' sudah dikenal di seluruh penjuru kota, jadi sama sama menguntungkan.
"Kenapa gak kamu telpon aja?"
"Bapak juga gak bisa nelpon kan? dari kemaren saya gak bisa nelpon. Kalo saya gak sibuk pasti udah saya samperin ke tokonya pak"
"Toko yang dimana?" pancing Hendra seolah Keira punya beberapa cabang.
"Yang pusat lah pak. Deket kantor bapak itu"
"Hah? deket kantor?" batin Hendra.
"Ok Nis. Saya masih ada kerjaan. Sukses ya"
Hendra langsung tancap gas menuju arah kantornya.
__ADS_1
'Harga sewa didekat kantornya kan mahal per tahunnya. Apa dia menghabiskan semua uang penjualan unit buat sewa disitu ya?'
Hendra membuka ponsel lalu melihat notifikasi yang sempat dia abaikan.
Terdapat pemberitahuan transaksi senilai 1,3M seminggu yang lalu. Dan keterangannya menyebutkan pembelian ruko atas nama Keira Florencia.
"1,3M? bukankah harga ruko sekitar situ lebih dari segitu?" gumam Hendra.
Tanpa banyak berpikir Hendra segera mengarahkan mobilnya.
"Sejak kapan dia menyiapkan ini semua?" gumam Hendra yang terperangah dengan tampilan florist milik Keira yang baru.
"Florist cafe? tapi.. bagaimana mungkin dia menyiapkan ini sementara selama ini kita selalu menempel" monolognya yang menatap tampilan toko bunga Keira yang baru dibuka beberapa hari itu.
"Aretha?" Hendra terkejut karena melihat penampakan Aretha dengan perut bulatnya sedang melayani pesanan pengunjung cafe.
"Dasar anak nakal. Bisa bisanya bolos kerja melipir kesini"
Hendra menyebrang dan hendak menghampiri Aretha dan menanyakan semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
Seseorang yang sangat dirindukannya dan sudah dilukai tanpa ia sadari.
"Flo.. I miss you so much.." lirihnya.
Keira tengah menyiapkan beberapa rangkaian bunga pesanan dan menatanya sedemikian rupa agar bisa terbawa dalam sepedanya yang terparkir apik bersandar didepan toko. Bahkan sepeda itu sudah berganti warna sesuai warna toko.
"Ekhem.. ada yang bisa ku bantu?" tanya Hendra dengan langkah perlahan mendekat dengan tatapan mengunci dan berkaca kaca.
Keira terkesiap dengan suara baritone yang ia kenal lalu menoleh kearah suara itu.
Keira hanya menyunggingkan senyum tipis lalu naik ke sepeda dan mengayuhnya seolah tak menghiraukan sapaan merindu dari Hendra.
'Sialan' batin Keira mengumpat karena merasa jantungnya tak bisa diajak kompromi untuk tak bertingkah kala berhadapan kembali dengan sang suami setelah...
2 hari
🤦🏻♀️
__ADS_1
🤦🏻♀️
🤦🏻♀️
Keira selesai dengan mengirim pesanannya yang tak jauh dari lokasi toko.
Namun dia dikejutkan dengan kericuhan yang terjadi didepan tokonya.
Ada apa ini. Batinnya sambil terus berusaha menerobos lautan wanita berbagai genre.
"Mamiiii.... cepet sini tolongin papaa.." teriak Aretha dari jendela cafe. Dia tak bisa keluar karena terhalang oleh kericuhan para wanita berbagai genre itu.
Keira punya firasat buruk tentang hal ini. Dia lantas pergi ke gudang di pintu samping untuk masuk ke dalam melalui gudang.
Keira menatap nanar kondisi memprihatinkan Hendra yang kewalahan dikerubungi lalat bermake-up
Dia lantas mengambil sesuatu lalu merangsek mengoleskan apa yang ada di genggamannya pada kedua pipi Hendra yang jadi incaran para belatung.
"Ayo, ada yang mau lagi? siapa yang belum bayar?" sergah Keira menghadang para lalat dan belatung yang berlomba mencium pipi Hendra.
Sontak mereka mundur karena Keira mengoleskan lumpur pada pipi Hendra.
"Sayang..." rengek Hendra menghiba pada Keira.
"Gatau ah.." Keira cemberut karena Hendra lagi lagi membuat para wanita tak bisa menahan diri.
"Bubar bubarr.. disini banyak anak kecil.." tukas Aretha saat melihat Hendra terus memepet Keira dan mengecupi punggung tangannya.
UDAH MAU END BEIBZ
BUAT YANG MERASA TERHIBUR DAN SUKA HARAP TINGGALKAN BINTANG 5
⭐⭐⭐⭐⭐
LANJUT KARYA OTHOR SELANJUTNYA
'THE SEVENTH SECRETARY'
MOGA SYUKAA
😘😘😘
__ADS_1