Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Ayang


__ADS_3

Berhubung hujan lebat turun tanpa kompromi, akhirnya Arga dan sang mama dipaksa makan malam di rumah besar itu.


Sebelumnya Keira diberitahu Arga jika mama Aretha sudah lama meninggal, jadi Keira bisa berhati hati dalam membahas pribadi. Pantas saja anak itu lengket padanya seolah kurang kasih sayang seorang ibu.


Karena ini adalah moment istimewa anak gadisnya, maka Hendra dengan spesial memasak untuk mereka berempat, salah satu bentuk penghormatannya pada tamu yang sebentar lagi menjadi keluarga.


Ada sedikit perdebatan dengan sang anak kala memutuskan menu yang akan disajikan. Akhirnya dalam perang dingin Hendra memasak di dapur utama dan Aretha memasak di dapur belakang, dapur terbuka yang mengarah langsung ke kolam renang.


"Aduuuh kok kita ditinggal gini sih? Aretha juga kemana lagi, mama kok gak diajak masak, kan bisa bantu lebih cepet" gerutu Keira yang celingukan di ruang tamu.


"E eh mama.. mau kemana?" cegah Arga saat sang mama bangkit dan melihat lihat ruangan.


"Diem ih, mama mau ke kamar mandi, pen pipis. Dimana sih kamar mandinya?"


Keira mencium aroma wangi masakan dari arah yang dia tuju.


"Aha.. disini toh kamar mandinya" Keira menemukan kamar mandi dan menuntaskan apa yang ditahannya sedari tadi.


Saat keluar kamar mandi, wangi masakan kembali menggelitik hidungnya. Keira penasaran meneruskan langkahnya lebih kedalam lagi.


"Waah.. kenapa gak ngajakin saya kalo masak, saya bisa bantu bantu kan?" Keira melihat beberapa hidangan sudah siap, namun Hendra masih berkutat dengan hidangan lain.


"Eh, gak masalah bu-"


"Panggil Key aja, tampaknya kita seumuran" potong Keira saat Hendra memanggilnya ibu.


"Baiklah. Kamu juga bisa panggil Hendra saja. Ah iya, Flo, apa itu nama panggilan juga?" lanjut Hendra penasaran.


"Itu sebenarnya nama belakangku. Keira Florencia" jawab Keira sambil membalik daging yang tengah dipanggang Hendra.


"Bagaimana kalau aku panggil Flo saja?"


"Boleh"


"Nama yang cantik. Sesuai dengan usaha yang kamu geluti" Keira tersenyum atas sanjungan yang dilayangkan Hendra. Membuat Hendra tertegun dengan senyum manisnya.


"Saosnya awas hangus" Keira memperingatkan Hendra yang tertegun.


"Makanan sebanyak ini, memang mau ada tamu penting ya?" tanya Keira yang menata masakan yang sudah siap di meja makan.


"Ah seandainya saya bawa bunga, pasti terlihat lebih segar"


"Kamu benar, bunga bungamu selalu membuat suasana terlihat lebih segar. Semoga kalian tak keberatan dengan menu seadanya kami"


"Seadanya apaan? ini malah terlalu berlebihan. Perut kami tak akan muat menampung semua makanan lezat ini" binar bahagia terpancar di mata belo nya.

__ADS_1


"Mamiiiii ... masakan buatan Retha sudah siaaaap..." teriak Aretha dari arah belakang.


Aretha membawa sepanci sayur asem dan semangkuk sambal terasi. Dan Arga membawa sepiring besar gurame goreng.


"Ya ampun Retha, ini kebanyakan" ujar Keira yang hampir meneteskan air liurnya kala melihat gurame goreng.


"Tenang aja mi. Kita punya waktu semalaman buat ngabisin semua makanan ini"


"Bisa gendut mami kalo makan kek ginian"


Semua tergelak dengan penuturan Keira.


Hendra tanpa sadar terus memperhatikan Keira yang tak canggung berinteraksi dengan sang anak. Dia bahkan terlihat seperti seorang teman disela sela candaan mereka. Namun saat Aretha terlihat mengantuk, dia layaknya seorang ibu yang me-nina bobo kan anaknya. Benarkah mereka sedekat itu?


Keira bahkan tak canggung mengajaknya serta dalam gurauan mereka. Sungguh pribadi yang hangat.


"Yang.." panggil Keira pada Arga.


"Hah?" Hendra yang terperanjat dari lamunan seolah menjawab panggilan Keira.


"Papa mau aja dipanggil ayang" Aretha yang tengah mengantuk dipangkuan Keira terkikik kala Hendra salah tingkah.


Wajahnya memerah. Keakraban mereka membuatnya lupa akan status mereka.


"Iya ma. Mana Arga gak bawa jas hujan lagi"


"Mau kemana? nginep aja lah mi. Besok kan libur" ujar Aretha sambil mengetatkan rangkulannya pada pinggang Keira. Kepalanya yang berbaring di pangkuan Keira dan menghadap perut ratanya dengan nyaman menghembuskan nafas hangatnya ke perut Keira.


"Kamu ini kalo ngomong suka seenaknya. Apa kata tetangga kalo calon udah nginep aja"


"Mana ada tetangga disini. Emang mami liat rumah lain disekitar sini?"


"Iya ya? emang pada kemana tetangga nya?"


pppfft


Hendra reflek menahan semburan tawanya.


"Tau tuh papa. Bikin rumah kok jauh kemana mana" gerutu Aretha.


"Iya saya dulu bikin rumah ini dari nol. Awalnya saya beli tanah nya saja seluas 1 hektar-"


"1 hektar? rumah apaan 1 hektar. Bisa tepar ngepel rumah 1 hektar" sontak semua tergelak kembali dengan penuturan polos Keira.


"Ya ampun mama. Mikirnya rumah sepetak ngepel sendiri" gelak Arga tak percaya sang mama sepolos ini.

__ADS_1


"Maksud saya, saya beli tanah 1 hektar, saya bangun rumahnya cuma sepetak ini, sisanya saya berencana bikin pacuan kuda. Tapi Aretha menolak. Katanya bau.


"Iya lah, bikin kandang kuda tapi papa aja gak pernah nemenin Retha kalo dirumah. Masa Retha harus sama pengurus istal?" gerutu Aretha.


"Mending bikin kebon aja, bener kata mami" Aretha bangkit dari tidurannya.


"Nih ya terserah mami mau ditanemin bunga apa, bebas semau mami. Pasti lahan nya lebih indah kalo penuh bunga, kan?" seru Aretha antusias.


"Kan Retha sama Arga bisa main india india an kalo ada taman bunga. Jadi romantis kan mi" Aretha tergelak sendiri dengan penuturannya.


"Ya ampun ni anak gadis otaknya geser ya" kilah Keira.


"Kamu itu jadi anak cewek gak ada jaim jaimnya" celetuk Hendra yang tak mengerti dengan tingkah anak gadisnya yang tanpa malu menunjukan kepribadiannya.


"Yee papa mah gak tau ya kalo mami Flo ini anti jaim. Mami malahan sebel sama yang jaim. Makanya Retha nyaman kalo deket mami" Aretha merangkul lengan Keira erat dan meletakkan kepalanya di bahu Keira.


Hendra hanya bisa menggelengkan kepala.


Hingga larut malam, hujan besar masih saja mengguyur bumi. Dengan terpaksa mereka menginap di rumah besar itu.


Hendra menempatkan Arga di kamar tamu yang berada di lantai 1. Sedangkan Keira dipaksa Aretha untuk tidur dikamarnya yang bersebelahan dengan kamar Hendra.


Semalaman, Aretha terus memeluk Keira dalam tidurnya.


Keira tak bisa menolak. Merasa kasihan dengan anak yang sangat membutuhkan perhatian seorang ibu.


Pagi menjelang. Keira yang terbiasa bangun lebih awal untuk melaksanakan sholat shubuh pun sudah terlihat segar saat keluar kamar.


Semalam mereka larut dalam obrolan yang ngalor ngidul hingga tak terasa sudah lewat tengah malam.


Oleh karena itu Keira merasa masih mengantuk, namun dia harus menyiapkan sarapan seperti biasa.


Keira keluar kamar sembari terus menguap.


Tanpa sadar kakinya melangkah ke tangga saat matanya terpejam karena menguap.


grepp


Hendra dengan sigap meraih pinggang ramping Keira dan menariknya agar tak terjatuh.


brukk


Namun tarikannya terlalu kuat sehingga tubuh Keira jatuh menimpanya.


"Ou.. my.. God... pagi pagi dah mesum aja"

__ADS_1


__ADS_2