Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Pulang ke Cottage


__ADS_3

Kaki Keira ditangani tim medis yang datang dengan ambulans sementara dirinya tengah memberikan keterangan perihal penculikan dan bela dirinya pada tim penyidik.


Untunglah Hendra merekam video call yang dilakukan Isabel untuk membuatnya marah, sehingga itu menjadi bukti kuat jika Isabel adalah benar benar dalang dari penculikan dan kekerasan seksual. Selain itu pembelaan diri yang dilakukan Keira pun terlihat dalam rekaman itu. Tentu saja Hendra meminta penyidik wanita yang melihat dan menyelidiki bukti video itu karena menyangkut tereksposenya tubuh Keira meski masih mengenakan dalaman.


Dan selanjutnya Hendra memintanya untuk menyamarkan Keira.


Bukan hanya mereka berdua yang dimintai keterangan, para pemburu itu pun dimintai keterangan satu per satu karena status hubungan mereka mengenal Isabel yang mana adalah teman kuliah mereka di universitas luar negri. Namun mereka tidak mengetahui perihal aksi Isabel dalam penculikan dan penyekapan. Mereka bahkan sudah tak bertemu selama bertahun tahun lamanya.


Isabel mengetahui lokasi reuni mereka melalui obrolan grup alumni yang sebenarnya mengajak para laki lakinya saja.


Keterangan mereka semua akan diminta kembali sebagai bentuk kesaksian di pengadilan nanti.


Isabel dibawa oleh tim medis untuk dilakukan pencabutan belati yang masih menancap. Jika saja belati itu dicabut sebelumnya, sudah dipastikan dia akan mati kehabisan darah sedari tadi.


Ralph menghampiri Keira yang masih memberikan keterangan sambil duduk di kursi depan mobil Hendra dengan pintu yang dibuka, berselimut dan menangkup cangkir berisi coklat panas.


Ralph menyalami Hendra saat Keira baru selesai.


"Hei, gadis barbar" sapa Ralph.


Keira tertawa ringan, tak asing dengan julukan itu.


"Maaf, aku tak tau Isabel yang kau ceritakan adalah Isabel yang sama dengan temanku"


"Gak pa pa. Ah iya kenalkan, ini Hendra, suamiku"


"Halo"


"Halo, terima kasih karena telah menolong istri saya" ucap Hendra tulus.


"Aku tak melakukan apapun, dia yang mendatangi kami" Ralph mengangkat kedua tangannya.


"Aku bahkan tak percaya kalau dia keluar dari hutan mengerikan itu. Beberapa dari kami bahkan tak berani memasukinya"

__ADS_1


"Aku tau, dia memang wanita yang luar biasa" Hendra mengecup kepalanya.


Ralph memperhatikan cinta diantara mereka.


"Baiklah, aku harus pergi. Jaga dirimu baik baik. Senang berkenalan dengan kalian" pamitnya.


Hendra dan Keira pun akhirnya pulang. Mereka yang duduk di kursi belakang dengan Keira yang terus dipangku Hendra tengah melakukan video call dengan Aretha.


Tepatnya menonton Aretha yang terus menerus menangis.


Beno memarkirkan mobil di kawasan cottage yang sudah Hendra sewa.


Baru saja turun dari mobil tampak dari kejauhan Aretha tengah berlari kearah mereka sambil berderai air mata.


"MAMIII...mami mamiii.. huuuhuuu...."


bruk


Aretha menabrakkan dirinya pada tubuh Keira, memeluknya erat dengan tangisan yang masih setia mengiringi.


"Apa? apa kamu bilang? kamu lagi hamil?"


Aretha memundurkan tubuhnya agar bisa menatap wajah ibunya yang terdapat beberapa luka. Wajah basah itu kemudian menampilkan senyum lebar dan mengangguk cepat, lalu memeluknya lagi.


"Mamiii .... Retha pikir gak kan ketemu mami lagi huuhuuu..."


"Sayang.. maaf mami lama.. kamu jangan khawatir" Keira memundurkan tubuhnya dan mengapit wajah sembab Aretha lalu mengusap lelehan air mata yang tak mau berhenti itu.


"Mami gak mungkin ngelewatin kamu lahirin cucu cucu mami" Keira lantas menjapit hidungnya gemas.


"Apa mereka kembar?" tanyanya kemudian sambil melangkah masuk kedalam cottage.


__ADS_1


Dengan telaten Hendra memandikan Keira di dalam bath tube. Hendra tak ikut masuk karena tak tega mengingat penderitaan sang istri selama penyekapan. Secara perlahan Hendra membersihkan setiap inchi tubuhnya yang sebelumnya dilumuri darah yang mengering. Terdapat beberapa lebam dan luka lecet pada wajahnya membuat hati Hendra serasa remuk. Karena sikap Hendra yang tegas pada wanita biadab itu membuat istrinya harus membayarnya.


Keira menikmati dimanjakan seperti ini. Dia terus mendusel pada leher Hendra saat Hendra menyabuninya.


Keira lantas merangkul leher Hendra kemudian terisak.


"Maafkan aku, sayang.. maafkan aku.." ucap Hendra membalas pelukannya sambil menitikan air mata.


Keira menggeleng.


"Bukan salahmu. Aku hanya tak menyangka bisa bertemu lagi denganmu. Yang kupikirkan saat itu adalah aku harus selamat dan kembali ke sisimu"


Mereka berdua mencurahkan rasa rindu dalam haru. Hendra bahkan berniat meninggalkan perusahaan demi menyalamatkan Keira. Kalaupun dia harus mati dalam usaha menyelamatkannya, dia rela. Karena hidupnya kini untuk Keira.


Hendra membungkus Keira dengan handuk besar agar Keira tak kedinginan dan membopongnya ke ranjang dalam posisi duduk menghadap cermin.


Tangan Hendra bergerak perlahan untuk mengeringkan rambut Keira yang basah, sesekali mengecup kepalanya. Setelah kering dan rapi, Hendra membaringkannya dan menyelimutinya lagi. Handuk itu belum ia lepas. Keira tampak seperti kepompong sekarang.


"Sayang.. apa kamu gak niat lepasin anduknya?" tanya Keira yang bergerak sedikit meronta karena Hendra benar benar membungkusnya.


Yang pake karet merah yang gak pedes ya😅


"Diamlah. Kamu sudah terlalu banyak bergerak kemarin kemarin" jawab Hendra dengan tenang sembari membolak balikan bubur agar panasnya sedikit berkurang.


"Iya tapi gak dibedong juga kali. Kamu gak niat apa apain aku gitu?" cerocos Keira yang Hendra rindukan membuat Hendra tersenyum ringan.


"Mau wae diapa apain" Hendra lantas kembali mendudukan Keira bersandar pada sandaran ranjang, menyendok bubur yang sudah tak terlalu panas lalu menyuapinya.


Meski masih memajukan bibirnya, namun Keira menurut dengan membuka mulutnya dan menghabiskan 1 mangkok bubur tanpa sisa. Setelah itu Hendra mengajaknya tidur. Benar benar tidur.


"Sayang" bisik Keira ditelinga Hendra saat Hendra mencoba memejamkan mata.


"Hn?" jawabnya singkat. Dia pikir Keira akan kelelahan dan langsung tertidur.

__ADS_1


"Kamu beneran gak mau apa apain aku?"


__ADS_2