
Hendra lebih tenang setelah Keira bersusah payah membujuknya dan menghiburnya. Mereka tak langsung pulang karena kondisi psikis Hendra yang sedang down bisa membahayakan nyawa mereka diperjalanan.
Keira memutuskan mengajaknya makan di restoran dekat rumah sakit. Agar Hendra bisa langsung minum obat yang sudah dokter resepkan.
Setelah makan, Keira tak mau untuk pulang dulu. Dia mengajak Hendra untuk jalan jalan hanya sekedar me refresh otak dan hati.
Mereka pergi ke sebuah danau dimana terdapat bangku untuk duduk.
Dengan telaten Keira membersihkan debu dan daun kering yang ada di bangku itu lalu mendudukan Hendra kemudian dirinya.
"Seharusnya aku yang melakukan itu" ucap Hendra.
"Sekali kali wanita melakukan apa yang laki laki lakukan gak masalah kan?"
Keira menyandarkan kepalanya pada pundak Hendra, tangannya merangkul lengan Hendra dengan erat.
"Apapun yang terjadi, kita akan tetap seperti ini" ucap Keira. Lalu mendongak.
"Hingga maut memisahkan kita"
Hendra menatap manik matanya dalam. Lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Apa kamu secinta itu padaku?" tanya Hendra berkaca kaca. Penyakit yang dideritanya ini membuatnya lemah.
"Sangat. Aku sangat mencintaimu. Kalau perlu aku ingin merasakan penderitaanmu" jawab Keira sambil mendusel pada dada Hendra.
Hendra menjapit dagu Keira agar menatapnya.
"Aku gak akan membiarkanmu ikut menderita. Aku akan sembuh. Demi kamu. Demi kita"
Mereka menghabiskan sore itu disana lalu pulang karena cuaca tampak kurang bersahabat. Titik titik air mulai membasahi bumi.
Tiba di rumah, Keira segera membersihkan diri. Dia ingat dengan saran dokter untuk menangani luka infeksi pada batang milik Hendra.
Dia ingat menyimpan baking soda di dapur.
"Ha, ketemu"
Keira lantas kembali ke kamar.
"Kamu sudah selesai sayang?" tanya Keira yang melihat Hendra baru keluar dari kamar mandi mengenakan handuk dan tangannya sibuk mengeringkan rambut.
__ADS_1
"Sini, duduk sini" Keira menggiring Hendra agar duduk di bibir ranjang. Lantas mengambil alih handuk kecil yang digunakan Hendra untuk mengeringkan rambutnya.
"Kamu diem ya"
Keira mengambil kapas yang masih bersih lalu membubuhkan soda kue diatasnya dan mengoleskannya perlahan pada bagian luka infeksi.
Keira melakukannya dengan telaten. Senyum selalu mengembang diwajahnya .
Hendra mengecup puncak kepalanya.
"Terimakasih, sayang. Aku gak tau apa jadinya aku tanpa kamu"
"Jangan berandai andai yang tidak mungkin. Kita udah ditakdirkan berjodoh. Bagaimanapun caranya kita tetep akan dipersatukan. Dan untuk inilah kita dipersatukan. Untuk saling melengkapi, dan saling menguatkan. Udah, jan sedih sedihan terus. Kita bikin makan malem yuk" ajak Keira sambil menyempatkan mengecup bibirnya.
"Tapi kalo kamu lagi mau gimana?" Hendra menarik tangan Keira dan menanyakan apa yang menjadi kehawatirannya.
"Aku akan tunggu sampe lukanya sembuh. Dan sesuai permintaan kamu. Mungkin aku gak akan hamil lagi, karena mulai sekarang kamu harus pake helm biar aman" Keira mengedipkan sebelah matanya genit.
mereka tertawa dan berjalan menuju dapur bersama. Tak ada yang lebih penting daripada keikhlasan pasangan. Sekedar hidup bersama namun penuh keterpaksaan bukanlah sesuatu yang membahagiakan meski harta berlimpah.
ting
tong
"Bentar sayang" Hendra lantas melangkah menuju pintu utama karena bel tak kunjung berhenti dibunyikan.
"Pak Kimung?.."
"Pak maaf, saya sudah we a dari tadi tapi bapak gak jawab. Itu.. mobil yang kemaren bawa neng gila keliatan nongkrong di ujung jalan" ucap satpam rumah dengan terengah dan terlihat panik.
"Apa?"
Satpam pun mengajak Hendra untuk melihat monitor cctv yang Hendra pasang sedikit lebih jauh agar terlihat kedatangan orang dari arah manapun karena tanah Hendra yang sangat luas.
"Dari jam berapa mereka mulai nongkrong disitu pak?"
"Sekitar 20 menit yang lalu pak. Lalu ini, dari setelah kejadian itu mobil ini memang gak keliatan lagi daerah sini, tapi mobil lain beberapa kali mondar mandir, sampe mobil ini lagi yang balik kesini. Untung bapa masang sisitipi nya yang kecil jadi mereka gak nyadar lagi diawasin. Coba liat titik yang pake sisitipi gede, mereka gak mau tuh buka jendela" panjang kali lebar kali tinggi satpam menceritakan pengamatannya. Dia tak mau kena amukan singa betina lagi. Selama ini majikannya ini tak pernah marah. Baru kemarin dia kena semprot majikan perempuan yang kengeriannya melebihi digerebeg satpol ****.
"Bagus, pak. Awasin terus. Nanti saya pasang interkom aja biar bapa bisa ngasih info waktu saya lagi gak pegang hape"
"Siap, pak"
__ADS_1
'alamat dapet bonus nih, aseeek'
Hendra kembali ke rumah dan menceritakan apa yang disampaikan satpam padanya.
Keira berfikir, bagaimana caranya memancing wanita gila itu agar mereka bisa menangkapnya.
Keira menelpon Beno agar mengambil motor trail nya di aparteman Arga dan menjemputnya di rumah. Tapi Keira memintanya memakai jaket ojol dan berhenti tepat didepan gerbang masuk.
Tanpa banyak bertanya, Beno melaksanakan perintah nyonya majikannya.
Keira sedikit memberi info pada Beno dan datang dari arah berlawanan mobil itu berada agar bisa mengintai berapa orang yang ada dimobil itu, dan apakan Nirmala juga ada didalamnya.
Beno mengerti. Dia sangat mengenal Nirmala.
"Saya sudah didepan gerbang, bu" lapor Beno melalui chat aplikasi berwarna hijau.
Keira segera berlari mendekati Beno dan naik ke motor. Seolah olah Keira memesan ojol untuk pergi ke suatu tempat.
Tepat seperti dugaannya. Keira berhenti di belokan jalan yang tak terpantau mobil itu, lalu mengawasi layar ponselnya dimana sudah disambungkan dengan cctv. Ternyata wanita itu bernyali besar. Dia masuk melewati celah sempit pada kawat pembatas jauh dari gerbang masuk. Dia bahkan sedikit menggali tanah agar tubuhnya bisa melewati pagar kawat itu.
Ingatkan dia untuk memberi arus listrik pada pagar.
Keira yang membawa pemotong kawat pada kantong besar yang dia bawa. Dia meminta Beno memotong pagar kawat yang letaknya cukup jauh dari rumah dan gerbang utama cukup agar motor dan dirinya masuk. Hendra belum sempat memagari sekeliling tanahnya dengan pagar permanen karena tanah yang luasnya 1 ha itu memang direncanakan untuk dibuat track berkuda. Jadi sementara dipasangi pagar kawat yang lumayan tinggi.
Keira meminta Beno membukakan kawat yang sudah dipotong lalu Keira memacu motor trailnya agar sampai lebih cepat sebelum langkah kecil Nirmala mencapai rumah.
Keira terus berusaha mengendalikan emosinya kala mengingat apa yang dilakukan Nirmala terakhir kali.
Hendra bersiap didalam rumah seperti yang mereka rencanakan dengan gugup.
Hendra masuk kedalam selimut dan menyalakan ponsel untuk melihat siapa yang masuk ke kamarnya.
Wanita itu, benar benar tidak waras.
Entah dimana dia menanggalkan pakaiannya sehingga memasuki kamarnya lagi lagi sudah dalam keadaan polos.
ceklek
Terdengar suara pintu dikunci dari dalam. Lalu terlihat mengendap mendekati ranjang.
JENG JEEEEENG
__ADS_1
TARIK NAFAS DULU SIST
😗💨