
Brakk
Keira membanting pintu. Hendra bergeming. Dia tak tahu harus bagaimana menghadapi Keira. Apa benar dia salah membiarkannya ikut?
"Bro, kau tidak berniat menahannya?" tanya Ralph yang merasa ngeri dengan amarah Keira.
Hendra menghela nafas dengan kasar.
"Bos, coba cek cctv yang baru istri anda pasang" seru suara salah satu anggota tim.
Hendra menghidupkan ponsel lain lalu men sinkron kan dengan perangkat baru yang otomatis terinstal saat ada perangkat cctv yang baru terpasang.
Matanya membeliak saat melihat Keira tengah dikepung beberapa orang dan berusaha melawannya.
Tanpa menunggu adegan selanjutnya, Hendra langsung berlari keluar menuju kamar presidential suite nya diikuti beberapa anggota Ralph yang di beri instruksi mengawasi dari luar berjaga jaga agar tak terjadi kekerasan jika membawa bala bantuan.
"FLO.."seru Hendra saat membuka pintu dengan tergesa.
Keira tengah diikat di kursi oleh Leona yang entah dari mana datangnya. Sebab anggotanya yang memantau tak mengabarkan apapun.
"Halo, sayang.. Apa kau merindukanku?" sapa Leona sambil melangkah mengelilingi Keira.
"Aku tak percaya seleramu masih sama seperti dulu. Menyedihkan" sarkasnya mengejek Hendra.
"Apa yang kau mau Leona?"
__ADS_1
"Apa mauku? baiklah, sangat tidak sabaran. Apa karena ja lang ini?" Leona menarik paksa rambut Keira sehingga kepalanya menengadah.
"Jauhkan tangan kotormu. Aku tak ada hubungannya dengan masalah rumah tangga kalian" desis Keira yang muak dengan permainan suami istri ini.
"Hahaha... lihatlah sayang, wanita kecilmu ini ternyata cukup bernyali. Bagaimana jika... kita membayar malam malam yang kita lewatkan"
"Ambilah dia sesukamu. Aku muak dengan drama kalian. Aku bahkan tak peduli jika kau menghancurkan perusahaannya. Bukankah dia membangunnya untukmu? maka nikmatilah dan jangan libatkan aku"
"Flo.. apa yang kau bicarakan?" Hendra tergagap dengan pernyataan Keira yang diluar dugaannya. Apa dia berniat berpisah darinya?
"Apa kau tak dengar apa yang ku katakan barusan? Tinggalkan aku, menjauhlah dariku. Aku muak denganmu dan segala tentangmu, kau dengar?" Keira berteriak frustasi.
"Aku benar benar muak.."
brakk
Bugghh..
Tanpa diduga ikatan tangan Keira terlepas lalu ia bangkit dan mengangkat kursi kayu yang diikat pada tangannya lalu melayangkan kursi itu pada tubuh bagian samping Leona yang berdiri membelakanginya. Untung saja kakinya tak diikat jadi dia bebas berdiri dan bergerak. Lalu saat kursi yang menghantam tubuh Leona hancur dia melempar potongan kayu pada anak buah Leona yang hendak melawannya. Hendra reflek ikut melawan beberapa orang yang tubuhnya lebih kecil darinya.
Pasukan Ralph pun merangsek masuk saat terlihat pada layar apa yang terjadi di dalam untuk membantu mereka berdua karena jumlah lawan tak sepadan.
Lawan akhirnya bisa dilumpuhkan.
Keira menghempas potongan kayu dengan asal ke lantai dan masuk ke kamar.
__ADS_1
Keira benar benar emosi. Namun emosi itu menguntungkan baginya dan dia bisa meluapkan pada orang yang tepat.
Ralph lagi lagi bergidik ngeri dengan kemarahan Keira.
"Sayang, apa kau baik baik saja?" tanya Hendra saat masuk ke kamar dan mendapati pelipis Keira berdarah.
Keira menepis tangan Hendra yang akan menyentuh wajahnya untuk melihat luka itu.
"Sayang.."
"Tinggalkan aku sendiri" ucap datar Keira.
"Sayang, kamu gak serius kan ngomong kek tadi?" Hendra mulai panik. Istrinya merajuk lagi.
"Aku gak pernah main main dengan apapun yang aku bilang"
"Tapi kenapa-"
"Karena dia kembali. Dan hatimu goyah. Kamu bahkan sempat membohongiku jika aku tak merajuk. Aku lelah berjuang sendiri. Aku lelah menduga duga. Kamu bahkan terlihat terluka melihatnya bercumbu dengan orang lain"
"Sayang, tolong mengerti aku.. aku.. aku baru mengetahui kenyataan kalau dia masih hidup dan dia bersama orang lain dan.."
"Seolah kamu dikhianati.. ya aku mengerti. Sayangnya tak ada yang mengerti posisiku. Maaf kalo aku egois. Hatiku gak sekuat itu"
Keira menyeret kopernya yang entah sejak kapan ia siapkan.
__ADS_1
"Sayang ... tolong jangan seperti ini" Hendra menahan lengannya sambil menangis.
"Beri aku waktu" Keira berkata mantap.