Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Belum Nikah Lagi


__ADS_3

"Of course, I will" Aretha mengangguk cepat dan menyodorkan jari kirinya. Arga selalu membuat kejutan tak terduga. Pada pertemuan kali ini, setelah sekian lama mereka dipisahkan, Arga lagi lagi membuatnya tak berdaya.


Aretha tak mau lagi membuang kesempatan dan mempertaruhkan kebersamaan mereka lagi. Dia tak mau kembali berpisah.


Aretha akhirnya membuka identitas sebenarnya tentang siapa orang tuanya, dan alasan kenapa dia tak menceritakan tentang identitasnya yang adalah anak pemilik perusahaan IT ini.


"Apa? kamu.. anak pak Hendra?"


"He em. Gak percaya? Retha telfon ya. Harusnya sih udah ada di kantor" ucap polos Aretha.


"Kantor? ya ampun.. aku harus masuk. Udah dulu ya. Cari aku di lantai 6" tukas Arga yang langsung melesat meninggalkan Aretha yang terbengong karena tiba tiba ditinggalkan. Namun Arga kembali dan


cup


Dia mengecup sekilas bibir Aretha dan kembali melesat.


"iiiiii.... Arga..." teriak Aretha yang terkejut namun malu karena perlakuan Arga yang tiba tiba. Dia sendiri tak sadar sudah berinisiatif mencium Arga lebih dulu.


Arga menuruni tangga darurat menuju lantai 6. Dengan langkah pasti dan semangat yang baru, Arga kini kembali menampakan senyum hangatnya. Bahkan sepanjang menuruni tangga dia tak hentinya bersenandung lagu Bruno Mars.


...It's a beautiful night,...


...we're looking for something dumb to do...


...Hey baby, I think I wanna marry you...


...Is it the look in your eyes...


...or is it this dancing juice?...


...Who cares, baby,...


...I think I wanna marry you...


......................


Waktu istirahat tiba.


tok


tok


"Bro, lu bikin kebaikan apa sampe primadona kita nyariin elu?"


"Apaan sih? gak jelas banget nanyanya"


"Apa disini ruangannya?" tanya lembut suara wanita yang Arga hafal.

__ADS_1


"Sayang, akhirnya aku menemukanmu" Aretha langsung memeluk Arga kala menemukannya. Dan Arga membalasnya sambil tersenyum.


"Sa.. sayang? kalian.."


"Kita cabut dulu ya" Arga dan Aretha melenggang pergi meninggalkan sang jomblo dengan mulut menganga.


Arga mengajak Aretha makan siang di sebuah cafe dekat kantor.


"Kenapa disini? kan bisa di kantin kantor" tanya Aretha sedikit menggerutu. Aretha sebenarnya kurang suka dengan menu kebarat baratan. Katanya kurang kenyang kalo tanpa nasi.


"Aku cuma pengen bawa kamu ke tempat yang lebih baik. Aku pengen kamu nyaman sama suasananya bukan cuma makanannya" jawab lembut Arga.


"Jangan jangan kamu malu sama temen temen kantor kamu kalo aku tunangan kamu ya? atau kamu udah punya cewek rese terus takut dipergokin kalo bawa aku ke kantin?" gerutu Aretha membuat Arga terkekeh karena mimik mukanya yang menggemaskan.


"Mana ada kek gitu. Justru aku gak mau membagi kecantikan kamu sama temen temen somplak aku"


"Ck, ngegombalnya bisa aja" Aretha tampak malu malu.


"Lagian kamu tambah mirip mami sih kalo ngedumel. Bikin gemesh tau gak" Arga mencubit tebal pipi Aretha.


"Arga ii sakit.. Lagian makan ditempat kek begini mana kenyang aku. Masa siang siang makan emih. Mending indomi bisa pake telor pake cengek, nah ini emih nya aja tebel tapi saos semua. Mana dagingnya kecil kecil. Mi ayam dagingnya gede gede"


"Ya ampun ya ampun.. yang anak mami siapa sih, kalo udah ngerengek ga pake rem. Sayaaaang.. jangan pura pura udik yaa.. sekarang abisin dulu spageti nya, udah gitu kita makan di kantin. Kita borong semua kalo perlu. Papa kamu yang bayar ini kan?"


"Dasar pelit"


"Nah tuh tau"


"Yaelah, belom juga jadi istri udah sok sok an ngirit. Namanya juga pacaran bebeeep.. jaim dikit napa biar ga dikatain pelit sama pacar" lagi Arga mencubit kedua pipi Aretha dengan gemas.


"Jadi mo batalin ngelamarnya nih?" ucap Aretha dengan pipi yang masih dicubit Arga.


"Justru pengen cepet cepet nikah biar keuangan aku ada yang atur" cup.


Arga mengecup bibir bebek Aretha yang dibalas tamparan di lengan.


...****************...


"Kamu siap?" tanya Aretha didepan pintu ruangan Hendra sang papa, yang membuat Arga gugup.


Merekapun memasuki ruangan Hendra dan menunggu di sofa.


Hendra saat ini sedang ada keperluan, bahkan sedari pagi belum datang.


"Kamu keringetan, sayang. Apa semenakutkan itu kah papa ku?" tanya Aretha sembari menyeka keringat di dahi Arga dengan tissue.


"Papa kamu baik. Cuma tetep aja kalo masalah ginian aku takut salah ngomong. Trus papa kamu jadi ilfeel deh. Lagian kamu kenapa gak bilang dari dulu sih papa kamu siapa. Tau gitu aku gak akan ambil perusahaan ini buat bahan PKL aku"

__ADS_1


"Eumm yang gugup masih bisa nyerocos. Itu namanya J O D O H"


ceklek


Pintu kokoh itu dibuka seseorang dari luar. Lalu munculah sosok yang mereka tunggu. Namun Arga masih mengumpulkan keberaniannya.


"Papaaa....." Aretha segera berlari memeluk ayahnya.


"Lihat?" Aretha mengangkat kelima jari kirinya yang terselip sebuah cincin cantik di jari tengahnya. Lalu merangkul lengan ayahnya agar mendekat ke sofa.


"Papa, kenalkan. Ini Arga Prasetya, tunangan Aretha. Arga kenalkan ini papaku, Hendra Sastradijaya"


"Kamu?" Hendra terpaku dengan pemuda didepannya yang tersenyum ramah padanya.


"Halo, saya Arga. Senang bertemu anda lagi, tuan- pak"


"Ya ampun yang gugup. Bukannya kalian emang sering ketemu ya" tukas Aretha yang memecah kecanggungan.


"Sejak kapan kamu kenal anak saya?" tanya Hendra setelah mereka duduk berhadapan di sofa.


Aretha sengaja duduk disebelah Hendra jaga jaga jika sang ayang menghardiknya.


"Sejak saya masih SMA pak. Waktu itu Aretha baru masuk ke sekolah yang sama"


"Jadi.. selama ini kalian sudah dekat?"


Aretha mengangguk cepat disebelahnya.


"Iya papa, Aretha itu udah lama suka sama Arga si ketos dingin. Sampe sampe Aretha rela ikut part time job di toko mami Flo biar bisa deket sama Arga" Hendra mengernyitkan dahi mendengar penuturan sang anak.


'Putriku yang mengejar? yang benar saja? saat bapanya yang ganteng gak ketulungan mati matian jaga image, ni anak malah ngejar ngejar cowok. Mo ditaro dimana reputasiku?' batin Hendra.


"Lalu... yang kamu maksud dengan 'kembali bertemu dan akan langsung melamar' maksudnya Aretha?" tanya Hendra dengan sedikit mengutip perkataan Arga tempo hari.


"I-iya t-pak"


"Apa yang terjadi waktu itu sampe kalian masuk rumah sakit?" Hendra melipat kedua tangannya didada. Sembari menyorot tajam. Meskipun batinnya senang karena yang tadinya berniat untuk menjodohkan mereka ternyata mereka sudah saling menemukan. Bahkan Hendra tak perlu bersusah payah menumbuhkan cinta pada diri mereka.


"Jadi gini papa sayang. Jangan marah marah mulu. Belum nikah lagi. Rugi nanti"


TAHAAAAAAN


PART SELANJUTNYA KETEMU NEH


AGAK MALEMAN YAK


DUKOOOONG

__ADS_1


__ADS_2