
"Mi.."
"Hm?"
"Retha boleh nanya sesuatu gak?"
"Enggak" jawab langsung Keira meski belum tahu hal apa yang akan disampaikan menantunya ini.
Mereka tengah berada di meja makan sembari mengupas dan memotong buah buahan untuk camilan para lelaki yang tengah kompak menonton pertandingan sepak bola yang menampilkan kesebelasan favoritnya. Arsenal.
Padahal mereka besok masih harus bekerja, tapi demi kesebelasan fave nya itu mereka rela begadang.
"iii.. mamii... belum juga tau Retha mo nanya apa" Aretha memajukan bibir tipisnya. Sedari dulu, Aretha sudah merasa nyaman berinteraksi dengan Keira.
Seolah seperti pada ibunya sendiri, Aretha tak segan menceritakan apapun pada Keira.
"Mami udah tau kamu mau nanya apa" tanpa mengalihkan pandangannya pada buah apel yang sedang dikupas, Keira mencoba menebak apa yang ingin ditanyakan menantu cantiknya ini.
"Apa coba?" Aretha bertanya menantangnya.
"Tentang mami sama papa kamu kan?" Keira menebak dan di jawab anggukan oleh Aretha.
"Hhh... gak ada apa apa Retha" Keira sedikit mendesah saat menjawabnya.
Dia sedikit bingung harus menjelaskan apa tentang kedekatannya dengan besan sengkleknya itu.
"Gak ada apa apa kok deket gitu?"
Anggapan Aretha yang sedikit bergumam itu membuat lipatan di dahi Keira.
"Terus yang di kantor apa dong namanya" lanjut Aretha bertanya dengan lesu.
Namun pertanyaannya mampu membuat Keira mengiris tangannya sedikit. Tapi Keira tak menunjukannya. Dia hanya mengambil serbet dan menyeka nya sekilas.
"Kamu liat apa di kantor emang?" Keira melanjutkan mengupas apel.
Aretha tak menjawab dengan ucapan.
Dia hanya memonyongkan bibirnya dan menggerakannya seperti mengejek Keira.
Keira yang merasa ketahuan melempar serbet yang sedang dipegangnya dan dibalas gelak tawa Aretha.
"Hah, mami berdarah?" teriak Aretha reflek kala memungut serbet yang dilempar Keira ternyata terdapat noda darah.
"Hah, berdarah?" Hendra yang tengah asik menonton tiba tiba melompat dari duduknya dan berlari mendekati Keira, lalu menilik bagian tubuh mana yang berdarah.
Setelah mendapati telunjuk Keira yang masih mengeluarkan sedikit darah itu, Hendra segera menariknya ke wastafel dan mencucinya.
__ADS_1
Dengan wajah datar, Keira hanya membiarkan besannya melakukan apa yang ingin dia lakukan. Menolakpun pastilah membutuhkan tenaga.
Sedangkan dibelakang sana, Arga berdiri di sebelah Aretha yang pecicilan sambil mengunyah buah yang sudah Keira kupas dan potong.
Arga melipat kedua tangannya di depan dada dengan sorot mata yang menuntut penjelasan pada sang mami.
Keira memutar bola matanya malas jika harus menjelaskan apa yang tidak harus dijelaskan.
"Mulai sekarang harus terbiasa sama sikap posesif papa, mi. Dari dulu papa gak kan ngebiarin Retha luka sedikitpun" Aretha berusaha membela papa nya. Entah mempromosikannya?
"Apa kalian ingin menjelaskan sesuatu pada kami?"
Akhirnya Arga menyuarakan apa yang mengganjal hati dan pikirannya.
"Apa yang harus kami jelaskan?" Keira bertanya balik dengan tegas. Namun Hendra tampak ragu ingin bersuara.
"Mama.." Arga protes melalui intonasi suaranya.
"Engga ada apa apa, Ga. Kita cuma temenan. Kamu tau kan mama orangnya easy going. Kamu jangan mikir sejauh itu lah" sanggah Keira. Namun Arga melihat mimik berbeda dari sang mertua.
Kecewa.
"Temenan kayak sama papa Arga? seenggaknya kalian temenan dalam ikatan pernikahan, dan gak akan masalah kalo suatu saat kalian khilaf. Tapi ini..." Arga menggantung perkataannya, tak ingin menyakiti hati sang mama tapi dia harus membicarakannya.
"Kamu tau kan kita gak pernah khilaf?"
"Lalu kenapa kalau memang kita memang punya rasa satu sama lain, apa kamu keberatan?" Hendra akhirnya bersuara.
"It-hh.." Arga tak tahu harus menjawab apa.
"Ma, bukannya Arga gak mau mama bahagia. Apa mama yakin dengan perasaan mama?" Arga beralih dan tampak mendesak sang mama.
"Kamu jangan khawatir, Ga. Mama gak akan main perasaan lagi" ucap Keira meyakinkan sang anak dengan sendu. Dia lantas berjalan meninggalkan mereka ke kamar.
"Ma, bukan gitu, ma.." Arga mengejar Keira hingga ke kamar.
"Siap siap cewek yang papa suka direbut orang" Aretha memperingatkan sang papa dengan nanar. Ada rasa perih di hatinya mengetahui kenyataan jika sang suami memiliki perasaan lebih terhadap mamanya sendiri.
"Iya. Dan itu suami kamu" tukas Hendra yang juga bisa membaca gelagat menantunya.
"Ma.." Arga duduk disebelah Keira yang tengah menunduk di bibir ranjang.
Tangannya mengusap lengan sang mama dengan sayang.
"Kamu jangan khawatir ,Ga. Mama gak akan jatuh cinta lagi" Keira memaksakan senyum. Namun air di pelupuk matanya menumpuk.
Arga tahu kalau di hati mamanya mulai tumbuh perasaan lain. Pun dengan Hendra, sang mertua. Mereka mempunyai perasaan yang sama, yang seharusnya Keira dapatkan dari sang papa dahulu.
__ADS_1
Tapi kenapa Arga tak bisa menerima kenyataan kalau ternyata hati sang mama masih bisa menerima kehangatan hati yang lain.
Ya, Arga merasa kehilangan.
Ya, Arga merasa hampa.
Ya, Arga merasa cemburu.
Namun air mata yang menggenang itu mampu melunakkan hati Arga.
"Asalkan mama bahagia, Arga rela melepas mama" kini Arga yang berucap sendu.
"Kenapa mama kayak lagi minta restu sama ayah mama ya?" kelakar Keira membuyarkan suasana serius diantara mereka.
"Kamu tenang aja, Ga. Selama ini mama bisa menahan perasaan mama, pun dengan sekarang. Kalau kamu gak suka, mama gak akan menjerumus lebih dalam" lagi, ungkapan Keira sang mama menyayat hati Arga.
"Bukan gitu maksud Arga, ma-" belum selesai mengungkapkan maksudnya, Keira langsung berdiri dan keluar dari kamar. Dia ingin menghindar dari pembahasan tentang hatinya.
Arga menghela nafas berat. Kenapa otaknya jadi dongo sih. Geram Arga pada diri sendiri.
Arga keluar kamar Keira dan menemukan jika mertua dan sang istri telah membubarkan diri.
Arga masuk kedalam kamarnya dan mendapati sang istri telah memejamkan matanya.
Arga ikut merebahkan diri dibelakang sang istri menghadapnya.
Tangannya hendak memeluk pinggangnya, namun dia urungkan.
Apa yang dia lakukan pada sang mama tadi pastilah membuat lubang dihati sang istri.
...****************...
"Flo..-"
"Aku baik baik saja. Tolong tinggalkan aku" tanpa mengalihkan tatapannya ke gelapnya pemandangan malam di balkon apartemen itu, Keira kembali mencoba menekan perasaannya.l
Perasaan yang dulu pernah singgah namun harus dia kubur dalam dalam karena kenyataan jika sang suami tak bisa memberikan hatinya padanya.
Hendra tak berani mengatakan apapun. Dia lantas berbalik kedalam dan kembali membawa selimut lalu membungkus tubuh mereka berdua dengan memeluk Keira dari belakang.
"Anginnya dingin, aku gak mau kamu sakit"
"Tolong-" suara Keira bergetar, namun langsung dipotong Hendra.
"Aku akan diam. Anggap aku gak ada" bisiknya sambil menumpukan kepalanya di pundak Keira yang mulai bergetar.
GA DA YANG NIAT NGASIH KOPI GITU BIAR MIGRAIN OTHOR ILANGšµ
__ADS_1