Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Perlu Diskusi


__ADS_3

"Ck, berkelas apanya? yang ada malah kelaperan. Udah sini makan lagi. Berantem butuh tenaga" Hendra menariknya untuk kembali duduk.


"Idih, siapa yang mau berantem? lagian maaf ya, wanita berkelas sepertiku gak level berantem sama ondel ondel model gitu" Keira menirukan gaya bicara yang angkuh wanita berkelas tadi. Membuat Hendra tak hentinya menyeburkan tawa.


"Iya iya, wanita berkelas. Sini duduk. Gak bisulan kan?"


"Sembarangan kalo ngomong" Keira menepuk bahu Hendra dan duduk. Dia puas mengejek wanita yang baru saja gagal mendapat perhatian besannya ini.


"Lagian bapak CEO ini gak perlu susah payah nyari cewek, kenapa gak ambil satu aja sih buat... yaaa lumayan kan" saran Keira.


"Buat apa?" pancing Hendra.


"Ya itu"


"Itu apa?"


"Ya itu, masa gak ngerti?"


"Enggak"


"Ish. Pelampiasan" Keira menunjuk junior Hendra dengan matanya"


Hendra bergeming. Menatap tak percaya dengan argumen Keira. Ada yang dia pikirkan, namun tak bisa dia ungkapkan.


"Kamu sendiri, kenapa gak nikah lagi? cewek juga butuh pelampiasan kan?"


Akhirnya Hendra memilih mengamankan diri.


"Yeee malah balik nanya si bapak. Cewek sama cowok beda bapak CEO yang terhormat. Cowok kalo lama gak dikeluarin bisa penyakitan"


"Males ah"

__ADS_1


"Lah, jangan jangan udah gak normal ya, udah gak bisa berdiri?" Keira bertanya dengan berbisik.


uhuk


uhuk


"Sembarangan. Mau bukti-"


Seketika suasana hening. Mereka memalingkan wajah masing masing.


"Gabung anak anak ah" Keira merasa kikuk lalu memilih bergabung dengan pasangan pengantin baru.


"Jangan. Biarkan mereka menikmati moment bahagia mereka" Hendra menahan tangan Keira yang sudah berdiri dan hendak melangkah mendekati meja pengantin.


"Sini duduk sini. Lindungi saya dari kawanan hyena" Keira meliriknya sekilas. Lalu melihat sekelilingnya. Benar saja, para wanita yang mengincar besannya ini tengah menatap kearah mereka, dan menunggu sang mangsa ditinggal sendiri.


"Gila ya cewek sekarang. Pada beringas"


"Benarkah? ada yang seperti itu?" tanya Keira polos.


Namun kemudian dia tampak berpikir.


"Dia bahkan melempar mobilku dengan tomat demi menangkap pencuri di pasar. Dan kamu tau apa yang dia lakukan?" Keira menggeleng masih belum menyadari jika dialah objek yang dibicarakan Hendra.


"Dia membersihkan noda tomat itu dengan roknya. Dan tentu saja.." Hendra melirik bagian bawah Keira.


plakk


"Kamu ngintip?" Keira menampar lengan Hendra membuatnya meringis.


"Enggak ngintip. Cuma liat" Hendra terkekeh kala menggoda besannya yang kini wajahnya semarah tomat.

__ADS_1


Keira yang merasa malu plus marah tak bisa bertingkah bar bar di pesta pernikahan anak mereka. Dia hanya bisa mengerucutkan bibirnya tanpa membalas Hendra.


Sedangkan Hendra, dia tetap setia dengan kekehannya.


"Ga, liat deh. Baru kali ini mami dibuat speechless. Papa ku hebat ya. Mereka lucu" binar bahagia terpancar di mata Aretha.


"Apa kamu bahagia?" tanya Arga yang juga memperhatikan interaksi orang tua mereka sedari tadi.


"he em. Aku bahagia melihat mereka bahagia. Aku berharap mereka bisa saling melengkapi. Seperti kita"


"Kita serahkan semuanya pada tangan Tuhan"


...****************...


Hari yang melelahkan. Resepsi selesai jam 10 malam.


Pasangan pengantin baru itu langsung bertolak ke paris untuk berbulan madu selama seminggu menggunakan jet pribadi. Hadiah dari sang papa.


Sedangkan Hendra dan Keira kembali ke rumah masing masing.


Ada rasa hampa dan kesepian. Terutama Hendra. Meski selama ini dia juga kerap meninggalkan sang putri sendirian di rumah, atau dia yang tinggal dirumah sendirian kala week end, namun terasa berbeda.


Sang anak kini mendapatkan pendamping hidup dan pasti akan mengikuti pasangannya kemanapun, dan juga Aretha pasti tinggal dimanapun suaminya tinggal. Terlebih ibu dari suaminya kini sendiri, tak ada yang melindungi. Pastilah Arga memilih tinggal bersama ibunya membawa Aretha.


Lalu bagaimana dengan nasibnya?


"Hhh.. coba bisa satu rumah. Tapi gak mungkin. Apa kata tetangga- Tetangga? mana ada tetangga disini" Hendra terkekeh sendiri dengan penuturannya kala mengingat pembicaraan dengan besannya tentang tetangga. Entah kenapa, dia merasa rindu dengan ocehan besannya itu.


Dia jadi teringat lahan di belakang rumahnya yang luasnya cukup untuk membuat istal dan landasan pacu.


"Perlu diskusi nih" Hendra memikirkan sebuah ide dan mengembangkannya dalam mimpi. Kita lihat esok hari.

__ADS_1


__ADS_2