
Hendra melangkah keluar tanpa mempedulikan Isabel yang jatuh tengkurap di depannya. Dia bahkan melangkahi tubuhnya tanpa merasa bersalah.
Wanita itu sengaja menjatuhkan diri kearahnya. Hendra sangat hafal dengan modus seperti itu.
Hendra melangkah mantap menuju ruangan, dilihatnya Sarah belum datang karena mejanya masih kosong.
Dia lantas masuk ke ruangannya dan menutupnya.
Hal pertama yang dia lakukan adalah membuka bungkusan nasi uduk yang tadi di belikan oleh Solihin. Untung saja didalamnya sudah disediakan sendok plastik jadi dia tak perlu bersusah payah mengambil dari pantry.
Tanpa menunggu Hendra langsung melahapnya.
"Lumayan" serunya tanpa menjeda dan langsung menghabiskannya.
Dia sangat kelaparan sedari semalam. Dia jadi teringat perjuangannya dalam bertahan hidup. Dia tak asing dengan kondisi darurat seperti ini.
"Ah seandainya makan bersama Flo pasti lebih menyenangkan" Hendra teringat lagi dengan kesederhanaan sang istri.
"Bu.. bu.. maaf.. ibu harus buat janji dulu-"
srett
"Hendra sayang, kamu bilang sama sekertaris rese mu ini kalau kita sudah ada janji sebelumnya" ucap Isabel masih dengan suara seraknya. Rambutnya yang acak acakan dia rapikan seadanya. Nafasnya dibuat terengah engah agar bongkahan yang setengah tertutup itu terlihat turun naik menggodanya.
"Pak, m..maaf, saya sudah bilang tadi di-"
"Ya sudah. Kamu bawa ini" tunjuk Hendra pada tumpukan berkas.
"Selesaikan sebelum jam makan siang" tambahnya.
"Baik, pak" Sarah melangkah maju untuk mengambil tumpukan berkas melewati Isabel yang tengah berkacak pinggang di depan meja bos nya.
Dia sedikit melirik pada Isabel menampakan wajah tak sukanya.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Hendra sambil membenahi mejanya. Membuang bungkusan nasi uduk pada tempat sampah lalu me-lap nya dengan kain lembab yang dia keluarkan dari wadah plastik berwarna kuning. (ya lord mo nyebut kanebo aja ribetπ€¦π»ββοΈ)
Setelah itu dia membuka lembar demi lembar berkas yang belum dia periksa tanpa menatap Isabel yang terus menatapnya.
"Aku sudah bilang bukan, aku ingin kita bermain sebelum jam kantor mulai" jawabnya sambil melangkahkan kaki dan duduk di meja Hendra yang sengaja dipenuhi berkas.
Wanita itu tak peduli jika dia menduduki kontrak bernilai milyaran rupiah, toh itu bukan perusahaannya. Yang dia pedulikan adalah hasratnya yang ingin dipuaskan.
Dia duduk mengangkang tepat didepan Hendra dengan tangan yang merayap di rahangnya.
Hendra langsung menepisnya kasar dan bangkit.
__ADS_1
"Apa kamu tak punya harga diri? kamu bahkan telah bersuami, dan saya juga sudah punya istri"
"Aku gak peduli. Aku cuma mau kamu-"
"Menjauh dariku. Kalau tak ada hal pekerjaan, silahkan pergi. Meskipun belum jam kantor, tapi kita berada di kantor. Dan saya sudah memulai pekerjaan. Kehadiranmu hanya mengganggu pekerjaanku saja" tegas Hendra dengan suara yang tenang.
"Pak Solihin-"
"Aku akan mengganggu istri kampunganmu jika kau menolakku" ancamnya membuat Hendra mengurungkan niatnya memanggil security untuk menyeretnya keluar.
Hendra lantas duduk di sofa panjang dengan menyilangkan sebelah kakinya.
"Coba saja kalau kau berani. Kamu terlalu meremehkan wanitaku" senyum miring ia tampilkan. Dia jadi teringat sikap pertahanan Keira saat di intimidasi.
Wanita itu lantas bergabung duduk di sofa memghadapnya dengan menduduki sebelah kakinya. Sebelah tangannya bertengger disandaran sofa dan jari cantiknya yang dicat kuku berwarna merah menyala menjuntai ke bahu kekar Hendra.
"Bagaimana jika kita buat kesepakatan" ucapnya setengah berbisik. Tangan nakalnya mengusap bahu Hendra yang langsung ditepisnya.
Hendra ingin tahu sejauh mana dia mempunyai kesempatan untuk menyingkirkan wanita ini.
"Aku akan menghentikan serangan cyber ku asal kamu mau bermain denganku sekarang juga. Hanya satu kali" tambahnya menawarkan diri.
sreett
"Sa-yang"
Ah.. Hendra merindukan masakan Keira dan segala sesuatu tentangnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Hendra datar.
"Aku.. aku bawa sarapan.. kita.."
"Aku sudah sarapan. Kamu kasih Sarah aja mungkin dia belum sarapan, tidak baik bukan membuang buang makanan" jawab acuh Hendra sambil melipat kedua tangannya di dada dengan posisi duduk masih sama.
Isabel yang duduk disebelahnya menampilkan senyuman licik.
"Aku mengerti" ucap Keira sambil melirik pada Isabel dengan senyum memuakkannya. Keira menahan getaran di bibir dan hatinya ia berbalik dan keluar dari ruangan membawa kedongkolan yang membuatnya ingin memakan seseorang hidup hidup.
"Tampaknya tawaranku berhasil membuatmu goyah. Good boy. I promise-"
"Siapa yang menerima tawaranmu?" potong Hendra membuat perkataan Isabel menggantung.
Hendra lantas bangkit dan memilih berdiri lalu berbalik menghadapnya sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Bukankah kamu baru saja mengusirnya?"
__ADS_1
"Aku mengusirnya karena aku masih berbelas kasihan padamu. Kamu gak kan tau apa yang istriku sanggup lakukan kala miliknya direbut orang lain"
"Aku bisa melenyapkannya"
"Dia bisa melenyapkanmu sebelum kamu melakukan itu"
Isabel tak bisa berkata apa apa lagi. Dia lantas menyeringai dan tertawa nyaring.
Tawa jahat yang menggema di ruangan itu tak mengubah apapun dalam diri Hendra.
"Gertakan yang bagus. Tapi-"
"Aku akan membatalkan kerja sama kita. Aku akan menarik seluruh perangkatku di perusahaan suamimu dan membayar penalty sesuai perjanjian" ancam Hendra yang memang akan dia lakukan mengingat permintaan Hari Tan tadi malam melalui e-mail yang dikirimkan pada Alex.
"Apa? tapi.. bagaimana dengan perusahaan-"
"Anda bisa mencari perusahaan lain dengan bidang keamanan sistem yang saya yakin merekapun tak kalah tangguhnya"
"Pak Solihin, datang ke ruanganku, sekarang. Dan bawa 1 orang rekanmu" Hendra melakukan panggilan melalui interkom pada security untuk menyeret wanita ini dan melemparnya keluar.
sreett
Hendra membuka pintu dan berdiri diambang pintu, memberinya kode untuk pergi secara baik baik sebelum security bertindak kasar.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu" desis Isabel sambil mengetatkan rahang. Dia lantas keluar dari ruangan sedikit sempoyongan, namun masih bisa dikendalikan.
Tak berapa lama 2 orang security datang dengan wajah terheran karena wanita yang mereka duga akan mereka seret keluar sudah lebih dulu pergi.
"Permisi bos. Bagaimana, apakah sudah aman?" tanya Solihin kala mendapati wanita itu sudah sukarela keluar dari ruangannya.
"Kalian sampaikan pada rekan yang lain agar menahan wanita itu agar tak masuk gedung ini lagi. Apapun alasannya. Dan ini" Hendra mengeluarkan beberapa salinan foto paman Alex yang menyamar sebagai petugas teknisi listrik.
"Jika menemukan dia disekitar perusahaan sebelum memasuki gedung, tangkap dan bawa ke kantor polisi. Saya sudah mengantongi bukti kejahatannya melakukan sabotase"
"Orang ini.. ini kan yang pernah dateng malem malem. Katanya ada kerusakan genset. Ya kan, bray?" tukas Solihin pada rekannya untuk memastikan dia tak salah mengenali orang.
"Iya, betul orang ini. Tapi.. bapak yakin dia yang sabotase? padahal baik loh orangnya. Jangan sampai salah nuduh loh pak, nanti kena pasal pencemaran nama baik" sanggah rekan Solihin yang merasa keberatan melaporkan terduga padahal orang itu sering berbuat baik padanya.
"Apa kamu mau ganti profesi jadi pengacara?" sindir Hendra karena dibantah.
UDAH KEJAWAB KAN KENAPA HENDRA MA ISABEL BEDUA-DUAAN DI KANTOR
HAYO MANA HADIAH BUAT OTHOR
TAK BONUSIN 1 BAB LAGI NANTI
__ADS_1
πππ