
Pintu ruang IGD terbuka. Seorang laki laki berusia 40an dengan jas snelli berwarna putih dan berkacamata keluar dari pintu itu.
"Dengan kerabat Keira?" tanya dokter pria yang berperawakan tinggi berkulit putih dan cukup tampan itu .
"Ya, saya" Hendra segera berdiri dan mendekatinya.
"Maaf, anda siapanya ya?" tanya sang dokter yang membuat Hendra mengerutkan kening.
"Saya calon suaminya. Bagaimana keadaannya dok?"
"Ah, calon suami" gumamnya.
"Calon istri anda mengalami malnutrisi. Tampaknya dia tak mendapatkan asupan makanan beberapa hari ini. Anda yakin kalau anda calon suaminya?" tanya sang dokter kepo itu menyelidik.
Hendra melihat gurat tanda tak percaya dan sedikit mengejeknya dari dokter yang bernama Adam ini. Sesuai dengan nama yang tertera dalam name tag nya.
"Apa itu bahaya?" Hendra lanjut bertanya, memilih tak menggubris ejekan yang merendahkannya. Seolah Hendra tak bisa menyenangkan hati calon istrinya.
"Tentu saja berbahaya. Bahasa awamnya, Keira mengalami kelaparan. Apa anda tidak pernah memberinya makan?" lagi, ucapan sang dokter seolah mengulitinya.
"Apa dia bisa dirawat di rumah?" lagi lagi Hendra mengabaikan ejekan sang dokter.
"Jika dia diberi makanan yang bergizi tentu saja bisa dirawat di rumah. Tapi jika anda tak bisa memberinya makan, biarkan dia dirawat disini" sarkas sang dokter membuat Hendra kehilangan rasa sopan dan kesabarannya.
"Apa begini sikap dokter di rumah sakit ini? saya memang calon suaminya, tapi itu bukan urusan anda tentang bagaimana saya bisa atau tidaknya memberinya makan. Selain itu saya tidak harus membeberkan bagaimana kehidupan pribadi kami bukan?
Dan saya ingatkan DOKTER, tugas anda hanya mendiagnosanya dan memberinya obat, bukan mencari tahu bagaimana perjalanan hidup pasien dan pasangannya, bukan?" Hendra menekankan kata 'dokter' dalam kalimatnya. Dia masih memiliki etika dalam meluapkan emosi nya.
"Ah, ya. Maafkan saya. Saya hanya-"
"Saya akan memindahkannya ke rumah sakit lain yang lebih beradab" sarkas Hendra yang tak mau mendengar apapun lagi dari mulut busuk dokter ini.
"Tapi-"
Belum selesai berbicara, Hendra merangsek masuk mengabaikan ucapan dan peringatan yang akan terlontar dari mulut busuk dokter yang tak punya tata krama ini.
"Hendra.." Keira mengigau lemah menyebut namanya saat Hendra hendak membopong tubuhnya.
Hendra yang sudah siap membopongnya mengurungkan niat dan beralih menggenggam tangannya dan menjawab panggilan Keira untuknya.
__ADS_1
"Ya, sayang. Aku disini. Bertahanlah" Hendra mengecupi punggung tangan Keira dengan penuh cinta.
Sang dokter yang bernama Adam itu mengekor Hendra dan berdiri di belakangnya memperhatikan mereka dengan tatapan tidak suka.
"Hendra.. ini beneran kamu?" dengan mata yang setengah terpejam, Keira mengangkat satu tangan yang lain. Tangan yang tertancap jarum infus itu meraba kepala, pipi, lalu rahang Hendra yang mulai ditumbuhi bulu kasar.
Keira tersenyum kala tangan halus itu tergelitik oleh bulu kasar pada rahang Hendra.
"Kamu kembali?" setetes cairan mengalir dari sudut mata. Kini mata belo itu perlahan terbuka, mengerjap ngerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk pada iris abu itu.
"Iya sayang. Aku kembali. Maafkan aku"
Hendra lantas memeluk Keira yang sudah merentangkan kedua tangannya terlebih dahulu sembari menangis haru.
Keira lantas mengapit kepala Hendra dan menciumi seluruh permukaan wajahnya dengan lelehan air mata serta air liurnya.
Hendra tak peduli.
"Ekhem,kamu sudah sadar, Key?" tanya dokter Adam yang merasa dijadikan pajangan manequin karena harus menonton adegan haru yang membakar hatinya.
Keira mengerjap dan menghentikan aksinya.
Dia lantas sedikit memiringkan kepalanya karena terhalang tubuh kekar Hendra agar bisa melihat penampakan suara yang dia kenal.
Adam memutar bola matanya malas. Wanita ini selalu memanggilnya begitu sedari dulu.
"Main bola" ketus Adam dengan mata mendelik.
"Kamu serius jadi dokter?" Keira lanjut bertanya dengan antusias meski masih terdengar lemah.
Hendra mengerutkan kening.
"Kamu kenal dia?" tanya Hendra pada dokter bermulut busuk itu.
"Kenal banget. Dia salah satu temen bolos aku waktu sekolah" Keira menampilkan barisan giginya. Lagi, gigi ginsul itu selalu membuat Hendra merindukannya.
"Kamu apa kabar, Jon?" tanya Keira pada Adam. Tangannya masih menggenggam erat tangan Hendra, dia tak mau Hendra pergi lagi.
"Seperti yang kamu liat. Aku masih-"
__ADS_1
"Jomblo? hahahaha..." tebak Keira yang dilanjut dengan tawa ringan nya.
"Ck. Kamu kan tau aku nunggu kamu jadi janda" cebik Adam yang ketahuan jika dia masih single.
"Ye, sialan lu. Pantesan aku sengsara kemaren kemaren. Ternyata disumpahin kamu"
"Kamu kenapa bisa kek gini? calon mu gak bisa ngasih makan?" lagi, selorohan Adam membuat Hendra geram dan menyorotkan mata dengan tajam padanya.
"Iya nih. Gimana mo makan kalo gak ada dia?" suara Keira berubah lembut sembari melempar tatapan lembut pada Hendra.
"Apa perlu ku hajar?"
"Coba aja kamu hajar dia. Kamu yang bakal aku hajar, JONTOR" ancam Keira sambil menekan nama panggilan untuk Adam.
pppftt..
Hendra hampir menyemburkan tawa.
"Kamu mah dari dulu tega sama aku, Key. Udah ah. Aku mo periksa pasien lain. Kelamaan disini malah dijadiin badut. Dah pokoknya kalo ada apa apa sama Keira, kamu berhadapan sama saya" Adam menepuk pundak Hendra.
"Siap, dokter Jon" tanggap Hendra sembari mengangkat tangan dan menempelkan telunjuk dan jari tengahnya di pelipis, tanda memberi hormat. Namun dengan menahan tawa nya.
Adam memicingkan mata sembari berbalik dan melangkah pergi.
Setelah itu Hendra melepaskan tawanya yang ia tahan sedari tadi.
"Kupikir namanya Jhonny Adam hahaha.. ternyata Adam Jontor hahahhaa...." tawanya menggelegar di ruangan IGD, menarik perhatian petugas medis yang kini datang mendekatinya.
"Maaf, harap tenang ya pak" perawat itu memperingatkan Hendra yang tak bisa mengontrol diri.
Hendra seketika membekap mulutnya. Dan Keira mencubit tangannya dengan gemas.
"Kamu jadi CEO ga ada jaim jaim nya ih"
"Maaf, sayang. Abis lucu aja. Gak nyangka. Ilang deh dendamku sama dia" tukas Hendra masih menahan tawanya.
Keira menatapnya dalam. Betapa dia merindukan lelaki ini.
Dia pikir, hanya dia yang merindukannya. Ternyata
__ADS_1
"I miss you so much, Flo"
Ucap Hendra tiba tiba setelah dia berhasil menguasai dirinya sendiri.