Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Ngelunjak


__ADS_3

Keira membuang ember hitam yang dipegang Hendra lalu menarik kaosnya ke toko. Jika saja tubuhnya lebih besar dan tinggi, sudah dipastikan Keira memperlakukan Hendra bak anak kucing.


"Ini pada kemana?" tanya Keira menyorot pada bunga bunga dagangannya yang sudah tak bersisa.


"Ooh, ya saya jual. Sesuai perintah bos"


Tangannya memberi isyarat seperti hormat menggunakan telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan.


"Jual berapa?" tanyanya lagi sambil berkacak pinggang.


"50 ribu sebatang" sambil nyengenges.


"Tambah 50 ribu kalo nyolek pipi" berkata dengan lirih sembari menunduk.


Sungguh, jika saja Beno saat ini ada disini bersamanya, sudah dipastikan dia akan menertawakan bos nya dengan puas.


Baru kali ini Hendra merasa terintimidasi.


Dia bahkan merasa mendadak jadi orang yang tolol.


Padahal ini adalah bisnis sederhana. Tak perlu ada istilah rapat dewan atau merger.


Tapi Hendra menikmatinya. Menganggap bahwa ini adalah bentuk liburan dimasa cuti nya.


"Bagus ya. Terus kalo minta cium?" Keira kesal dengan besan briliannya ini.


"Kamu mau?" Hendra balik bertanya dengan antusias.


Keira lagi lagi speechless dengan kelakuan absurd besan nya.

__ADS_1


Keira menarik nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya. Mencoba mempertahankan akal sehatnya.


Sudah lama dia tak mengolah vokalnya.


"Teruus, kalau besok besok pada beli bunga minta colek pipi situ terus, atau minta lebih, situ mau selamanya disini?" tanya Keira mempertahankan intonasi suaranya yang lembut.


Hendra menggeleng cepat, lalu kemudian mengangguk dengan cepat.


Hendra benar benar seperti anak kecil yang kedapatan mencuri sebuah permen.


"HAAHHH..." Keira menghela nafas keras sembari mendudukan dirinya dikursi dengan kasar.


"Nis, tutup tokonya" titah Keira pada karyawan satu satunya kini.


"Kok tutup bu? masih siang ini" sanggah Anis.


Memang dia tak mendapat kerugian. Namun jika para pembelinya jadi bergantung pada kehadiran Hendra sang besan, dia bisa apa kalau Hendra tak ada?


...****************...


Hendra mengajak Keira untuk makan siang di sebuah restoran lokal yang sederhana. Dia juga memberi tips untuk Anis yang telah membantunya dalam menenangkan sang bos bunga yang saat ini masih merajuk.


"Kamu mau makan apa? kikil? babat? atau tamusu? (usus sapi)" Hendra menawarkan beberapa menu makanan khas daerah.


"Samain aja" jawab singkat Keira.


Hendra menuliskan menu yang sama dengan seleranya. Dia meyakini jika seleranya sama dengan sang besan si bos bunga.


"Terus mau apa lagi? lalab kangkung pake sambel, mau gak?" tawarnya lagi.

__ADS_1


Keira hanya mengangguk.


"Minumnya mau apa? atau masih kurang?" Hendra terus berusaha membujuk. Lagi lagi Keira hanya menjawab dengan isyarat, yaitu menggeleng.


"Teh manis panas?"


"Teh tawar aja" kali ini bersuara.


"Kok tawar? kan aku suka nya yang manis" Hendra seketika melipat bibirnya klaa mendapati pelototan Keira yang menusuk jantung saat dia membantahnya.


"Iya. Yang tawar aja ya" Hendra mengalah. Kemudian dia bangkit untuk menyerahkan bon pesanannya pada kasir dan membayarnya.


"Tunggu" cegah Keira saat Hendra hendak mengeluarkan dompet.


"Nih uangnya. Kalo kurang bilang aja" tukas Keira dengan mode dingin.


"Gak papa. Pake-"


"Kamu kan kerja sama aku. Jadi tanggung jawab aku buat nanggung biaya makan. Lagian ini masih jam kerja" jelas Keira.


"O.. oke. Boleh nambah?" Hendra langsung bangkit dan melangkah cepat kala Keira kembali memelototinya dan mengangkat garpu.


"Ngelunjak" gerutu Keira sambil melihat punggung itu ikut mengantri di kasir.


Tapi kemudian dia tersenyum. Senyum yang dia tahan sedari tadi karena kelakuan absurd besannya.


Keira merasa punya hiburan baru.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2