
Keesokan hari, Hendra mengambil cuti selama seminggu. Seperti janjinya, dia akan menggantikan tugas kedua kurir selama mereka berbulan madu.
Hendra mendatangi florist milik Keira tanpa memberitahu. Dia pikir Keira pasti sudah menunggunya karena dia pernah berkata sebelumnya. Namun yang tidak dia ketahui adalah Keira menganggapnya hanya gurauan semata.
Hendra mengenakan stelan santai di hari kerja. Dengan kaos oblong pressed body dan celana jeans, tak lupa kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya membuat Hendra menjadi sorotan ditengah lalat lalat yang berkerubung.
Dari kejauhan Hendra melihat kondisi toko yang tengah sibuk dengan hiruk pikuk pemesan.
Hendra memarkirkan mobil mercedes nya di sebrang jalan. Tatapannya selalu mengarah pada toko bunga itu. Berharap sang besan keluar barang sebentar.
Entahlah, dia sedikit banyak merindukan sosok dan candaan besannya itu.
Namun tak terlihat sosok mungil itu menampakkan diri.
Hendra mengikis jarak dengan mantap mendekat ke toko bunga itu.
"Nis.. Anis.. "
"Ya bu"
"Pesenan dari perusahaan yang biasa belum masuk?"
"Belum bu. Dari tadi gak ada pesenan dari perusahaan langganan kita. Katanya seminggu ini libur pesen dulu"
Anis setengah berteriak karena sedang melayani konsumen di bagian depan, sedangkan Keira tengah berada di bagian dalam toko. Dia men- sinkronkan berapa pesanan yang masuk dan berapa pesanan yang sudah terkirim.
"aaaaaaaaa...." terdengar riuh teriakan para wanita di depan tokonya.
"Ada apaan tuh ribut ribut?" tanya Keira pada Anis saat Keira selesai dengan buky pesanannya dan hendak merangkai pesanan konsumen.
"Itu bu. Ada model kesini. Keliatannya kayak model Dolce Gamalama" tukas Anis sekenanya.
"Ngasal kamu tuh kalo nyebutin merek"
"Hehe.. takut kena penalti bu"
"Royalti, bukan penalti, ijaaah" Keira gemas dengan karyawan nyelenehnya yang hanya menanggapi kekesalan bos nya dengan kekehan.
"Floo... Floo..." Keira mendengar teriakan seseorang memanggil nama tokonya. Suara seorang pria.
__ADS_1
Keira mencari arah suara. Namun sejurus kemudian dia terkejut dengan situasi mengenaskan besannya yang tengah dikerubungi lalat sampah.
"Minggir minggir, dia tamu saya. Udah kalian bubar sana. Enak aja main sosor, urusin lakik masing masing sana" Keira membubarkan massa sembari mengomel dan menarik tangan kekar besannya ke dalam toko.
Keira menuntun Hendra duduk di kursi bagian dalam toko. Dia lantas membuatkan teh panas pada korban pelecehan pelanggan toko nya.
Bagai mana tidak terlihat mengenaskan. Rambut Hendra yang tadinya tersisir rapi kini tampak acak acakan, dengan beberapa noda lipstik di sebagian wajah dan lehernya.
Kacamata berharga fantastis itu pun sudah tak berada pada tempatnya.
Hendra terlihat sedikit shock.
"Minum nih. Biar tenang" Keira menyodorkan secangkir teh hijau yang langsung diseruput Hendra.
"Lagian kamu ngapain kesini? pake beginian pula? mo pesyen syow?" Keira mencebik. Merasa gemas dengan besannya ini yang kelewat ganteng di usia matangnya. Belum lagi ditambah penampilan pakaiannya yang terlalu modis untuk berjalan jalan di sekitar pertokoan ini.
"Bukan juga Walk of Fame bapak CEO yang terhormat, ngapain sok gaya gayaan.
"Kan aku udah janji mau gentiin pegawai kamu yang cuti bulan madu" jawabnya sekenanya setelah menyeruput habis teh hijau.
"Gak ada camilannya? masa dikasih air aja?" keluh Hendra merasa ingin mengunyah sesuatu.
"Banyak tuh. Ada kelopak mawar, melati, bunga terompet. Sekalian tuh air mawarnya"
"Bapack yakin? kalau ada apa apa saya gak bisa nolongin loh" tukas Keira mewanti wanti.
"Halah, cuma nganterin doang kan?" cibir Hendra meremahkan.
"Terus mo nganter pake apa, gaya necis gini? mo pake motor trail apa sepeda?" tantang Keira.
"Pake mobil lah. Biar bisa muat banyak. Sekali kirim langsung habis. Bisa nyantei lebih cepet" Hendra memberi solusi yang spektakuler menurutnya.
"Mana mobilnya?" Keira kembali menantang. Hendra langsung menarik tangan Keira ke depan toko.
"Kamu tenang aja, bisa muat banyak. Setidaknya muat 20 lah ya"
"Uwau, buket bunga dengan harga 100 rebu dianter merci yang harganya bisa sampe 1M? luar biyasa sekale pemikiran bapack CEO yang satu ini. Sungguh diluar nalar" Keira menyorot mata elang Hendra dengan tajam. Dia lalu menyerahkan kunci motor trail nya.
"Kalo mau gentiin 2 karyawan saya, pake cara saya. Kalo engga mending mundur. Anda menghalangi keindahan bunga bunga saya. Bisa ikutan meleleh bunga bunga saya liat situ" Keira terus mendumel sembari mendorong pergi besannya dan memberikan 2 pesanan untuk diantarkan.
Hendra mendecak namun menuruti perintah bos dadakannya.
__ADS_1
Gini amat jadi bawahan. Batinnya.
Meski terus menggerutu dalam hati, tapi jauh dilubuk hati terdalam dia menyukainya. Hidupnya mendadak berwarna dan melupakan monochrome yang selalu menjadi latar hidupnya.
Hendra mengantarkan pekerjaan perdananya pagi itu. Alamat yang tertera pada daftar pemesan berada di kawasan elite.
Dia tau kawasan ini karena pernah menjadi incarannya untuk membeli salah satu properti di kawasan ini. Namun dia urungkan, karena ternyata di kawasan ini dihuni oleh para wanita simpanan para pejabat. Dia tak mau menjadi salah satu yang mengisi daftar pemilik simpanan.
Mending simpanan di bank, bisa berbunga, lah kalau simpanan wanita bisa jadi mala petaka pikirnya.
"Hhh... alamat apes" Hendra menghela nafas kala merasakan firasat buruk. Namun dia harus menuntaskan tugasnya.
ting
tong
Hendra memencet bell dan berharap segera pergi setelah pesanan ini diterima yang bersangkutan.
ceklek
"Permi-"
"Siapa kamu?" tiba tiba seorang laki laki paruh baya yang membuka pintu langsung menghardiknya.
"Saya-"
"Kamu selingkuhan kekasih saya hah? kamu berani datang saat saya sedang tidak dirumah?" teriak lelaki itu dengan mata nyalang sambil menarik kerah kaos Hendra. Rahangnya mengetat.
Sungguh bukan lawan yang sepadan dengannya. Karena tubuh Hendra jelas lebih tinggi dan kekar dibanding dengan pria tua dengan perut buncit itu. Namun jika amarah sedang menguasai, akal sehat akan kalah dengan emosi.
"Sayang, sudah kubilang- Ya ampun..." kemunculan seorang wanita dengan kostum tidur berbahan satin yang ingin menyanggah sangkaan pria nya terpotong kala melihat sosok kekar dan menggoda nya Hendra.
"Halloo..."
Suara si wanita dibuat serak agar terdengar seksi. Ditambah dengan gesturnya yang bersandar manja pada pintu kokoh yang menjulang tinggi sembari menggigit bibir bawahnya. Tak lupa tangan nya memutar mutar tali jubah tidurnya.
"Maaf pak, bapak salah paham, saya hanya kurir bunga yang-"
"Pengecut kamu ya. Gak ada alasan lain hah?" geram si pria tua yang langsung melayangkan tinjunya kearah wajah tampan Hendra.
"aaaaaaaah...." si wanita menjerit sembari menutup mulut dengan kedua tangannya.
__ADS_1
AIOO GOYANGKAN JEMPOLMU BEIBZ😆👍🏻👍🏻