
Setelah beberapa IT mencoba membobol brankas, Hendra terpaksa turun tangan.
"Tunggu, aku tau kode ini" gumam Hendra yang kemudian ia coba mengaksesnya dan
VOILA..
Kunci terbuka hanya dengan sekali coba.
"Sudah kuduga dia memakai metode ku. Apa dia menghafalnya waktu itu? dia bahkan bukan jurusan IT" gumamnya.
"Apa ini?" tanya Ralph kala mendapati isi brankas itu hanya kumpulan surat dan foto foto seorang wanita cantik.
"Dimana surat wasiatnya?" lanjutnya sambil lebih dalam merogoh brankas dibantu oleh notaris sebagai saksi pembongkaran brankas juga perwakilan dari anak almarhum paman karena dia tak bisa hadir dan sedang berada di luar negri.
"Tuan, tampaknya surat surat ini merupakan petunjuk dimana surat wasiat itu berada" tunjuk sang notaris memberikan helaian surat yang berhasil dia urutkan sesuai tanggal yang tertera pada surat.
"Sialan, aku benci teka teki" geram Ralph.
Selembar foto jatuh ke dekat kaki Hendra dalam keadaan telungkup.
Hendra yang tengah membereskan laptopnya melihat dan meraihnya.
"Leona?" lirihnya saat melihat foto yang ia ambil dan hendak dia kembalikan.
Ralph mengambilnya dari tangan Hendra.
"Apa kau mengenal tanteku?"
"Tantemu?"
"Hn.. dia ibu dari sepupuku. Dan Nirmala adalah sahabatnya yang menggantikan posisinya sebagai nyonya rumah setelah berhasil menendang tante Leona keluar dari rumah. Rubah licik itu bahkan memanipulasi rekaman cctv jika tanteku berselingkuh dan membuatnya diceraikan dan diusir paman Albert" jelasnya panjang lebar.
"Maksudmu.. tantemu masih.."
"Ya dia masih hidup. Baru kemarin dia menelponku dan menanyakan tentang kabar Haris, anaknya"
Hendra mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengetat.
'Apa apaan kamu Leona? permainan apa yang sedang kamu mainkan? bertahun tahun aku menangisi gundukan tanah yang mungkin tak ada isinya?' geramnya dalam hati.
"Berapa usia sepupumu?" tanya Hendra sambil menahan amarahnya.
"Tahun ini 22 tahun"
Brakk
Hendra tak kuasa menahan amarahnya. Dia menggebrak meja.
__ADS_1
"Astaga, bro. Kau membuatku jantungan"
"Dia bahkan beda 2 tahun dari Aretha. Itu berarti kamu langsung menikah lagi setelah kejadian itu" mata Hendra memerah memancarkan amarah, namun cairan berhasil lolos dari mata seramnya itu.
"Bro, apa kau baik baik saja?"
"Dimana dia sekarang?" Hendra masih berusaha tenang.
"Terakhir kemarin dia di Massachusetts. Kau benar benar mengenalnya? Apa aku perlu menelponnya?"
Hendra lantas menghidupkan kembali laptopnya, lalu menyambungkan kabel pada ponsel Ralph.
"Hubungi dia" titahnya. Ada aura mencekam dalam setiap katanya.
Ralph melakukan apa yang diminta Hendra.
"Halo, tante. Apa.. apa kau sudah mengetahui kabar tentang tante Nirmala?"
"........."
"I iya, dia ditahan karena penipuan itu. Selain itu dia juga berusaha melakukan apa yang dia lakukan pada keluarga tante. Ah iya, Haris memintaku membuka brankas paman Albert, karena ternyata surat wasiat yang sebelumnya diserahkan tante Nirmala saat paman baru saja meninggal dipalsukan olehnya, tapi kata Haris, paman menyimpan surat penting dalam brankas yang ternyata isinya hanya beberapa foto tante dan beberapa helai surat. Apa tante tau sesuatu?"
"........"
"Apa tante yakin?"
"........"
"Apa maksudnya dia mengumpatku?" gumamnya protes pada ponselnya.
"Got you, Leona" gumam Hendra.
"Maksudmu?"
"Dia tau sedang dilacak. Dan aku mendapatkannya. Dia berada di Singapura. Bersiaplah dengan teka teki lain" Hendra memberikan peringatan. Mengingat bagaimana dia dulu dengan Leona merintis usaha di bidang keamanan sistem teknologi informasi, pastilah dia menguasai sedikit ilmu yang Hendra geluti.
"Leona.. aku tak tau kamu punya sisi lain. Apa Nirmala adalah suruhanmu?" gumamnya dalam hati.
Semenjak Hendra menemukan surat terakhir darinya, perasaan Hendra padanya mulai terkikis. Ditambah mengetahui kenyataan baru jika dia telah ditipu olehnya selama puluhan tahun. Pantas saja Aretha tak tampak merindukannya, dia pikir karena Aretha saat ditinggalkan masih terlalu kecil.
"Apa maksudmu dia ada di Singapura? maksudmu dia bersekongkol dengan Nirmala?"
"Hn, begitulah. Dan brankas ini hanya pengalihan. Bahasa awamnya, terbukanya brankas ini merupakan terbukanya brankas lain di suatu tempat. Kita membukakan kunci untuk membuka pintu lain. Dan percayalah, mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan" jelas Hendra dengan suara rendah yang mengerikan.
"Sialan" Ralph geram dan memukul mukul tembok yang tak bersalah.
"10 persen saham keluarga kami menghilang" Ralph mengacak rambutnya depresi.
__ADS_1
Bagaimana tidak, 10 persen saham keluarganya bernilai trilyunan.
"Aku akan menangkapmu Leona. Dan kali ini aku tak akan bisa kamu tipu lagi" janjinya dalam hati.
Hendra menyerahkan lokasi terakhir pada Ralph. Terserah mereka mau memprosesnya seperti apa karena Hendra mempunyai rencana sendiri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Hendra kembali ke rumah dengan lunglai. Biasanya selelah apapun pekerjaannya, membayangkan rumah dan yang menunggunya pulang membuat semangatnya bangkit setelah lelah seharian di kantor. Namun kali ini pikirannya terus mencerna rencana dan sifat asli Leona, wanita yang pernah singgah dan sangat dicintainya hingga akhir hayatnya. Akhir hayat palsu yang kini membuka kotak pandora dan mewabah merambat kemana mana.
"Sayang, kamu sudah pulang?" sambut Keira yang baru turun dari kamar dan mendapati Hendra duduk lemas dan bersandar pada sandaran sofa.
"Hn, ya. Aku pulang" balas Hendra dengan lemas.
Keira menatap Hendra yang memejamkan matanya sambil menengadah disebelahnya.
Keira lantas membuka kaos kaki Hendra yang belum sempat dia buka. Lalu memijat kakinya hingga betis.
Tak ada pergerakan dari Hendra.
'Apa dia tertidur?' pikir Keira.
Dia lantas menaikan level pijatannya hingga ke paha.
Masih bergeming.
Keira gemas lalu ia naikan lagi levelnya ke paha bagian dalam.
"Flo..." desisnya diiringi nafas berat.
Keira tersenyum licik. Dia lantas lebih menaikan levelnya lagi dengan menyodok bijinya.
"Aaahhh..."
Kemudian meremat rudal yang baru bangkit.
"Dasar kelinci nakal"
Hendra langsung membanting Keira dan mengungkungnya disofa, melahap bibirnya habis habisan dengan tangan yang bekerja ekstra meremas apa yang bisa diremas dan mencabik cabik kain penutupnya.
"Helm nya mas, jangan lupa" goda Keira saat Hendra hendak meloloskan rudalnya dari tempatnya.
"Aaargh, virus sialan"
Keira lantas balik menyerang dan memandu nya agar segera ke kamar dan menuju kamar mandi. Dia tau Hendra mendamba kegiatan di kamar mandi.
Keira telah mempersiapkannya. Dia bahkan sudah menyalakan lilin aroma therapy di seluruh penjuru kamar mandi.
Tak lupa dengan helm yang bisa menyala dalam gelap itu.
__ADS_1
Keira tau, tak selamanya mood suami akan baik sepulang bekerja. Dia sebagai istri harus menjadi yang pertama menenangkan dan menghiburnya sebelum dilakukan orang lain. Tenangkan hati dan pikirannya dulu dengan sesuatu yang sangat disukai laki laki, barulah dia akan menceritakan apa yang menjadi beban pikirannya.
"I love you, Flo. Tolong jangan khianati aku" igau Hendra dalam tidurnya sambil mengeratkan pelukannya.