
Tiba di rumah, Hendra yang ngos ngosan memilih mengistirahatkan tubuhnya bersandar di sofa. Dia tak mau kualitas dan kuantitas menggempurnya terpengaruh.
Keira dengan cueknya melangkah ke dapur dan membuat minuman segar yang dicampurkan dalam teh pasak bumi.
Dia ingin membuat Hendra membayar hutang beberapa malam panas hingga lunas padanya.
Keira menyodorkan minuman itu sambil duduk di lengan sofa.
"Minumlah, aku akan menyiapkan makan siang dulu. Butuh tenaga ekstra buat bayar utang" bisiknya kemudian sambil membelai rahang berpeluh milik Hendra.
uhuk
uhuk
Hendra bahkan terbatuk sebelum menenggak minumannya.
Matanya menyorot tajam pada tubuh mungil yang berjalan berlenggak lenggok bak model.
Dia lantas menenggak minuman itu hingga tandas lalu bangkit dan melangkah ke lantai 2 kamar mereka berada.
Hendra menanggalkan seluruh kain pembungkusnya, agar keringatnya cepat mengering. Berjalan mondar mandir dan menatap pada sang jagoan yang sudah berdiri menantang.
"Awas kalo kamu sampe ngecewain aku" ancamnya pada sang jagoan.
Sungguh seharian ini bagian bawah nya terasa pegal karena terus berdiri.
Setelah keringat dirasa sudah surut, dia lantas membersihkan diri. Sedikit mengumandangkan lagu meski fales untuk menyingkirkan bayangan kegiatan mandi berdua. Sedikit berharap agar Keira tak segera menyusulnya mandi karena jika itu terjadi, sudah dipastikan dia akan langsung memangsanya.
Hendra segera menuntaskan ritual singkatnya. Dulu ritual itu ia jadikan moment yang sangat ia tunggu karena tak perlu memakai pengaman. Kapanpun bisa ia hajar. Tapi sekarang sudah lain ceritanya. Tapi dia tetap bersyukur karena luka nya sudah sembuh meski virusnya tetap bersemayam dalam tubuhnya dan suatu saat bisa kambuh.
Oleh karenanya dia tak mau mengambil resiko membahayakan istrinya yang sangat dicintai dan mencintainya. Cukup dia yang merasakan sakit dan tidak nyaman, jangan sampai istrinya merasakan penderitaan seperti yang ia rasakan.
Hendra duduk di tepian ranjang membelakangi pintu kamar mandi.
Keira memasuki kamar dan mendapati sang suami tengah mengeringkan rambut.
Punggung polos nan kekar itu membuat air liur Keira menetes. Membayangkan bagian depannya yang bidang dan terdapat dua tombol otomatis.
Otomatis membuat Hendra menggeram.
"Aku mandi" bewara Keira yang sebenarnya memberinya kode untuk bergabung.
"Hn, ya" jawab singkat Hendra masih setia mengeringkan rambut tanpa menoleh padanya.
Keira mencebik kesal, lalu masuk dan sedikit membanting pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Hadeeeeh.. punya istri gini gini amat.. nguji kesabaran terooos" keluh Hendra yang sebenarnya suka jika Keira selalu menggodanya.
Keira selesai dengan singkat.
Dia keluar hanya mengenakan handuk di kepala lantas mengeringkan rambutnya membelakangi Hendra sambil menatap cermin.
Keira terheran kala melihat pantulan cermin memperlihatkan Hendra yang tengah menundukan kepala disebrang sana.
"Sayang, kamu lagi apa?" tanya Keira yang penasaran dengan apa yang Hendra lakukan.
Apa luka nya muncul lagi? pikir Keira yang sudah menyiapkan rasa kecewa gagal perang.
"Kamu tau cara ngidupinnya gak?" Hendra bertanya balik tanpa mengalihkan pandangannya dari jagoannya.
Keira lantas berjalan mengitari ranjang dan berjongkok di depan Hendra membuat Hendra terkesiap dengan kondisi Keira yang sudah bersiap.
glekk
"Ngidupin apa?" tanya Keira yang ikut menyentuh dan mengutak atik rudal kesayangannya yang sudah terbungkus helm berwarna hot pink.
"Kata pegawai apotek tadi bilangnya bisa nyala, kok ini gak nyala. Gimana ngidupinnya? emang ada tempat batrenya?" tanya Hendra polos.
"Ya ampun bapack heker internasional kita bisa oon juga ya. Makanya baca dong pak, nih liat tulisannya aja udah jelas GLOW IN THE DARK artinya nyala di tempat gelap. Makanya masuk kolong pak kalo mau liat nyala ato enggak nya" sarkas Keira yang membuat Hendra menepuk keningnya sendiri merasa dibodohi karet pengaman.
"Lebih dari siap" jawab Keira yang akhirnya mendominasi pertempuran.
Beruntung Keira membeli pasak bumi dari aplikasi penjual online berwarna biru, milik Hendra benar benar gagah dan tahan lama. Keira bahkan sudah mencapai puncaknya 2 kali, namun milik Hendra masih kokoh.
Hendra merasa miliknya benar benar tak mengecewakannya. Dia bahkan belum sampai setengahnya, namun Keira terlihat sudah kelelahan.
tok
tok
Pintu kamar diketuk untuk yang kesekian kali selama 2 jam mereka bertempur.
"Sayang, buka dulu itu si mbok ada apa dari tadi ketok ketok mulu" pinta Keira yang menyembunyikan bendera putihnya.
"Lagi nanggung, sayang.. bentar lagih.. nyamp...ahhh..." akhirnya muntah juga sang jagoan. Karena Hendra menekannya sangat dalam ditambah denyutan hebat yang menyertai meledaknya rudal, Keira kembali mencapai puncaknya karena ledakan luar biasa Hendra yang tertahan selama seminggu lebih.
"Kamu luar biasa, sayang" ucap Keira yang melemas.
Hendra segera mencabut jagoannya takut pengamannya lepas di dalam sana. Lantas mengecup bibir Keira dari arah belakang.
"Kamu lebih luar biasa" seru Hendra berbisik.
__ADS_1
tok
tok
Kembali suara ketukan itu mengalihkan kemesraan mereka.
Hendra geram dengan sang art. Baru saja dia bisa kembali menikmati tubuh istrinya, sudah diganggu.
Hendra lantas menyelimuti sang istri yang kelelahan, lalu dia meraih bath robe untuk melihat apa yang membuat sang art kembali mengetuk pintunya dan mengganggu moment mereka.
"Ada apa mbok?" tanya Hendra dengan tatapan tajam.
"Eh.. anu pak.. itu ada tamu.. udah 2 jam nunggu. Si mbok mau pulang, gak enak ninggalin tamunya sendiri. Katanya mau nunggu bapak selesai sama ibu" ucap art yang tak enak mengganggu kegiatan majikannya.
Kebetulan hari ini adalah jadwal art datang untuk bersih bersih. Saat ada tamu yang sudah lolos pemeriksaan sekuriti, dia membuka pintunya dan tak menyangka rela menunggu selama apapun.
"Siapa, mbok?"
"Katanya namanya Ralph, tuan. Kalo begitu mbok permisi pulang ya tuan"
Hendra segera membersihkan diri. Padahal dia ada rencana kembali menggempur sang istri untuk membayar hutangnya.
Dia tak membangunkan Keira agar Keira bisa mengumpulkan tenaga untuk ronde selanjutnya.
"Hei, Ralph"
"Akhirnya kamu selesai juga, bro"
"Haha.. aku tak tahu kalo akan ada tamu. Gimana, apa ada sesuatu?"
"Ah tidak. Aku hanya sedang bosan dan aku teringat menagih janjimu untuk menjamu ku"
"Baiklah. Kebetulan kita belum makan malam" Hendra lantas melihat hidangan yang Keira masak belum sempat disentuh karena hasrat mereka yang tak bisa ditahan lagi.
Hendra akhirnya kembali menghangatkan masakan itu, sayang bukan jika dibuang.
"Apa kalian belum sempat memakannya?" tanya Ralph.
"Kamu pikir ada yang lebih penting dari yang satu itu?" tanya Hendra membuat wajah Ralph memerah karena mengerti arah pertanyaan Hendra.
Keira terbangun dan mendapati sang suami tak disampingnya. Perutnya terasa lapar karena gempuran Hendra menguras tenaganya.
"Sayang, kamu ninggalin aku" ucap serak Keira dari arah tangga dengan manja merebahkan kepalanya pada lengan yang bersandar pada railing tangga.
Rambut acak acakan dengan bath robe yang sedikit tersingkap membuat Ralph menelan ludahnya.
__ADS_1