Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Terlalu Banyak Tahu Bisa Membunuhmu


__ADS_3

"Hotel ini ada dalam kuasa tante Leona. Ini menandakan dia sudah merentangkan kekuatannya. Hotel berbintang saja bisa dengan mudah dia kuasai padahal dia tak tinggal disini" jelas Ralph yang memilih duduk menjauh dari Keira.


"Orang orangku sudah kusebar tepat setelah brankas itu terbuka. Dan ini yang kami temukan" Ralph lantas meng klik menu video pada laptopnya, memilih file dan mem play nya.


"Sialan, dia berhasil melacakku. Apa saja yang kau lakukan selama ini di perusahaannya?"


"Sudah kubilang dia terlalu hebat. Bahkan menantunya saja melebihi kemampuanku. Tapi setidaknya aku berhasil mengkloning software nya di laptopku, jadi apapun yang dia lakukan pada perangkatnya aku bisa memantaunya"


Tayangan itu menampilkan Leona dengan penampilan lain dengan Leona yang Hendra kenal dulu. Jika dulu Leona selalu terkesan lembut, keibuan, feminim, lain halnya dengan yang dia lihat sekarang. Terkesan kejam dan dominan. Bahkan rambut panjangnya kini dipotong sangat pendek dengan jari telunjuk dan tengahnya menjapit batangan putih yang mengepulkan asap dan sebelah tangan lain memegang gelas kristal berisi minuman berwarna keemasan.



Leona sekarang



Leona dahulu


Hendra menatap layar dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Lalu apa yang kau dapatkan?" tanya Leona yang bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati jendela yang terbuka sebelah dengan tirai beterbangan tertiup angin yang juga meniup jubah tidur berbahan sutra nya.


Laki laki muda itu mendekat lalu memeluk pinggangnya dari belakang dan sebelah tangan lain meremas gundukannya. Membuat Leona tampak terangsang.


Rekaman itu diambil teman Ralph yang tinggal di Singapur dan dia sengaja menyewa kamar apartemen di seberang apartemen Leona. Ternyata kenalan Ralph cukup bisa diandalkan.


Hendra menundukan kepala, tepatnya memalingkan wajah agar tak melihat adegan selanjutnya.


"Apa ada adegan penting lain?" kesal Keira yang mendapati sang suami tengah cemburu.


"Tidak ada" tukas Ralph.


"Apa kita akan terus menontonnya? atau kamu dan temanmu itu menikmatinya?" sergah Keira sinis dan datar.


"Kalau dia memanipulasi kematiannya, kenapa gak genti nama? kamu bahkan menyebutnya tante Leona" tanya Keira yang duduk memisahkan diri di sofa single.


"Dia mengganti nama belakangnya dan akte kelahirannya. Bahkan alamat tempat lahir pada aktenya juga palsu. Saat kami memeriksa alamat tempat lahirnya, itu merupakan lumbung kosong yang terbengkalai puluhan tahun"


"Lalu bagaimana pamanmu bisa bersamanya?" Keira terus mengeluarkan pertanyaan sambil menatap tajam pada Hendra yang entah melamunkan apa. Yang pasti pikirannya sedang tak disini.

__ADS_1


"Menurut cerita yang kudengar waktu kecil, tante Leona ditemukan paman tergeletak di pinggir jalan. Dia bilang tengah kabur dari sindikat penjualan manusia. Tapi setelah itu tak terdengar ada yang mencari, bahkan dia tak pernah terlihat ketakutan akan ditemukan sindikat itu" Ralph menganalisa ingatannya tentang Leona.


"Lalu pemuda tadi, apa kau mengenalnya? Dia menyebutkan tentang perusahaanmu, SAYANG" tanya Keira dengan menekan kata terakhir untuk mengembalikan Hendra pada kenyataan.


Hendra terkesiap. Dia lantas menelungkupkan kepalanya pada kedua tangan yang bertumpu pada lututnya.


"Dia karyawanku, seorang IT Analyst. Arga cukup dekat dengannya" jawabnya masih dengan posisi yang sama.


"Kamu gak kuatir perusahaan dibajak? apa perlu ngehubungin Arga?" tanya Keira.


Hendra menggelengkan kepala.


"Arga pasti mengamankan softwarenya. Dia juga pasti memasang jebakan pada perangkatnya. Mengelola perusahaan berbasis IT harus siap perang cyber dan membentuk pertahanan berlapis. Itu yang aku ajarkan"


Keira lantas bangkit. Dia tak bisa melihat ekspresi suaminya seperti ini.


"Kamu mau kemana, Key?" tanya Ralph saat Keira hendak membuka pintu.


"Pulang" jawab singkat Keira.

__ADS_1


"Ke kamarmu?"


"Ke negaraku. Tampaknya aku salah ikut kemari. Ternyata satu pepatah memanglah benar, terlalu banyak tau bisa membunuhmu"


__ADS_2