Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Pengaruh Alkohol


__ADS_3

"Halo, pak Hendra. Maaf apa saya mengganggu?" tanya Alex melalui sambungan telfon tanpa kabel itu.


"Kenapa Lex?"


"Mmm.. bisakah bapak mampir sebentar ke sini? Ada hal penting yang ingin saya tunjukkan"


"Baiklah, mmm.. saya sampai 10 menit lagi. Kebetulan saya sedang di luar"


"Ah baiklah. Saya tunggu"


Hendra langsung membanting stir nya menuju penthouse yang kini didiami Alex untuk sementara. Setelah selama 30 menit dia berputar mengelilingi bunderan kota tanpa tahu tujuan, kini dia memiliki tujuan pasti.


"Ada masalah apa?" tanpa basa basi Hendra langsung ke tujuan.


Dia bahkan melangkah ke dapur untuk mencari apel sekedar mengganjal perutnya yang bertalu talu.


Wangi masakan Keira saat di rumah tak mampu mengalahkan ego nya.


"Apa anda belum makan?" tanya Alex yang melihat cara Hendra menggigit Apel itu.


"mm.. belum sempat. Gimana?" tanyanya lagi mengalihkan topik.


"Seseorang mengirimiku e-mail. Hanya saja aku tak mengenal nama e-mail nya"


Alex lantas memperlihatkan laptop yang sedang menampilkan isi e-mail nya.


"Kode morse?" tebak Hendra.


"Persis seperti dugaanku"


Alex lantas memperlihatkan terjemahan dari isi pesan yang ia duga kode morse tersebut.


"Tolong ayah, Lor. Ayah sudah tak kuat. Hancurkan perusahaan dan bawa ayah pergi"


"Lord?"


"Hhh... itu yang membuatku yakin kalau ini adalah benar pesan dari ayah" Alex menghela nafasnya.


"Lor.. kependekan dari 'kolor'"

__ADS_1


"pppfftt..."


Alex memicingkan matanya pada Hendra yang tengah menertawakannya.


"Saya juga sudah cek IP pengguna, dan itu berasal dari rumah besar keluarga Tan. Yang jadi masalah adalah bagaimana cara kita mengeluarkan ayah?"


"Apa kau tak keberatan dengan hancurnya perusahaan? maksudku, itu adalah warisan turun temurun"


Alex menggeleng.


"Tak ada yang lebih penting dari keluargaku. Aku bisa memulai usaha baru bersama ayah. Uang hanya tumpukan kertas dan angka. Tapi itu tak menjamin kebahagiaan. Aku iri dengan keluarga anda yang hangat. Istrimu bahkan terlihat tak memperdulikan harta. Dia hanya beruntung memiliki anda"


"Kamu salah" sanggah Hendra membuat dahi Alex berkerut.


"Aku yang beruntung memilikinya" pandangan Hendra menerawang. Dia tiba tiba merindukan istrinya.


"Bisa kulihat dimatamu" balas Alex yang melihat cinta di matanya.


"Baiklah, begini rencananya. Pertama tama kita singkirkan Isabel, lalu..." pembahasan rencana mereka buat hingga lewat tengah malam. Hendra menginap di penthouse itu dengan alasan tak mau mengganggu istrinya.


Hendra pergi ke perusahaan sepagi mungkin. Setidaknya pekerjaan akan membuatnya melupakan sejenak permasalahannya dengan sang istri.


Dia merindukan mendekap tubuh mungil itu semalaman.


"Ck" Hendra mendecak lalu memukul stir. Dia merasa terlalu keras pada sang istri.


Tiba di kantor, perutnya mendadak meronta. Dia ingat kalau dia belum sarapan.


"Pak, apa ada tukang nasi uduk daerah sini?" tanya nya pada Solihin si security.


"Ada pak. Apa mau saya belikan?" Solihin menawarkan bantuan.


"Baiklah, tolong belikan 2 bungkus ya. Saya tunggu disini" Hendra berdiri di depan pintu lobby menggantikan Solihin berjaga. Waktu menunjukan pukul 6 pagi dan jalanan juga kantor masih sepi.


Tak seberapa lama Solihin kembali dengan membawa bungkusan plastik berisi 2 bungkus nasi uduk.


"Ini buat sarapan bapak" Hendra menyerahkan 1 bungkus untuk Solihin.


"Alhamdulillah. Terimakasih pak bos. Ini kembaliannya pak"

__ADS_1


Hendra mendorong kembali tangan yang sudah terulur untuk menyerahkan kembalian yang masih lumayan banyak karena Hendra memberikan selembar uang berwarna merah.


"Buat bapa aja. Terimakasih sudah dibelikan"


"Waduh, kebanyakan ini pak-"


"Hendra"


Seru seorang wanita yang baru keluar dari mobil yang berhenti di area drop off.


"Isabel" desis Hendra yang merasa jijik dengan penampilan nya.


Dia tampaknya baru pulang dari club.


Terlihat dari cara berpakaian yang sangat mini juga bau alkohol yang menyengat bahkan dari jarak yang terbilang cukup jauh.


Solihin sampai menjapit hidungnya.


Cara berjalan nya sedikit sempoyongan, dan dia langsung mendekati Hendra tanpa menghiraukan sekitar.


Hendra malas menyambutnya, dia langsung berbalik masuk ke dalam gedung.


Tanpa disangka wanita itu mengejarnya dan berhasil masuk kedalam lift yang Hendra tumpangi.


"Mau apa kamu? Saya tak merasa ada urusan denganmu. Lagi pula ini masih diluar jam kantor.


"Engh itu bagus. Kita bisa bermain dulu sebelum jam kantor mulai bukan, jadi kita tak melanggar peraturan" tukasnya dengan suara serak. Tubuhnya terus meliuk liuk meski menempel pada dinding lift. Dia bahkan tak bisa berdiri tegak karena alkohol melemahkan sebagian syarafnya.


Hendra tetap berdiri tegak dengan sebelah tangan ia masukan kedalam saku celana. Dia tak peduli dengan tatapan liar yang diarahkan wanita ini padanya.


Untung saja dia meminta Sarah sang sekertaris untuk datang lebih awal dan berjanji membayar uang lembur dimuka.


Dalam pengaruh alkohol Isabel merasakan gairah kala memandangi tubuh tegap Hendra yang berdiri kokoh. Dia yakin yang dibawah sana juga berdiri dengan gagahnya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan sensual dia lantas mencoba mendekat untuk sekedar menyentuhnya meski setitik.


Langkah gontainya bertepatan dengan bunyi mendenting lift yang menandakan jika mereka telah sampai di lantai tujuan Hendra.


Gerakan lift saat berhenti membuat Isabel limbung dan terhuyung kearah Hendra.


brukk

__ADS_1


__ADS_2