
Alex adalah lawan Hendra di dunia cyber. Mereka beberapa kali mengikuti turnamen sistem keamanan jaringan bertaraf internasional yang diadakan setiap tahunnya. Tidak pernah bertemu, tapi pasti mengetahui nama setiap lawannya.
Dan Mr. Y yang dibaca Mistery ini ternyata karyawannya sendiri.
Mereka bersaing ketat dalam turnamen, namun Hendra tetap berada diperingkat teratas.
"Iya benar dia paman saya" Alex tetap menutup wajahnya namun tidak dengan matanya.
Video itu berasal dari rekaman cctv mikro yang Hendra pasang di beberapa titik yang tak terawasi. Dan pasangan laknat itu melakukannya di titik yang dianggapnya buta.
Lelaki yang dianggap sebagai paman Alex itu ternyata menyamar sebagai pegawai teknisi listrik. Dia juga yang tempo hari memasang chip pada server dumy perusahaan. Jadi dia mengetahui letak cctv yang terpasang.
Hendra sudah menduga dan akhirnya memasang cukup banyak cctv berukuran mikro itu.
"Hesti. Wanita ini yang sedang kita curigai sebagai kaki tanganmu"
"Apa kita akan terus menonton pilem bilu terus?" tukas Keira yang sudah tak nyaman dengan adegan menggugah seleranya.
"Ekhem" kedua laki laki itu berdehem serempak dan Hendra meraih ponselnya untuk mematikan tayangan itu.
"Sudah kau temukan?" suara dalam video itu kini berganti menjadi percakapan. Dimana aksi mereka telah usai.
Fuhh
Rasa lega terpancar dalam ekspresi kedua laki laki itu. Namun keringat tampak bermunculan didahi mereka.
"Heh, apa kau punya pelampiasan?" ledek Keira pada Alex yang dibalas delikan mata.
Mereka kembali fokus pada layar 5 setengah inchi tersebut.
"Salah satunya beraksi di tangga darurat. Mengenai lantai berapa aku belum memeriksa. Seharusnya kau kirim orang untuk memeriksanya. Tak mungkin aku menaiki tangga sebanyak 10 lantai"
"Lalu bagaimana dengan orang yang kucari, apa kau menemukan ciri ciri yang mirip dengannya?"
"Mmmm informasi seperti itu cukup mahal harganya. Aku takut mereka menangkap ku lebih dulu"
"ck. Sudah"
Hesti membuka ponsel saat terdengar bunyi notifikasi. Dia membelalakan mata kala melihat nominal yang tertera. Lalu dia merangkul manja laki laki tua itu dan menyandarkan tubuh bagian depannya dan bergerak seduktif naik turun.
"Dia menjabat sebagai Direktur Pemasaran disini. Namanya adalah Alex. Apa kau mau aku menjeratnya juga? hhh"
"Hehe.. tak perlu.. biar aku yang urus"
"ahh.." mereka kembali bergumul.
Keira lantas mematikan layar karena durasi pun tampak hampir habis.
__ADS_1
Keira menampilkan wajah datarnya.
"Awas kalo kamu gak tanggung jawab" gumam Keira pada Hendra.
"Sialan, aku ketahuan" geram Alex.
Pasangan itu pamit, terutama pada Ratih yang terlihat lebih segar setelah beristirahat.
Mereka mengucapkan do'a dan harapan atas kesembuhan wanita lanjut usia itu.
Mata keriput itu tak hentinya menyipit karena senyum yang tak pernah luntur diwajahnya. Beberapa kali menyeka sudut matanya karena haru.
Rencananya Alex dan Ratih akan Hendra pindahkan ke penthouse miliknya. Karena identitas Alex telah diketahui maka mereka perlu menyusun rencana.
Dan malam ini Alex juga Ratih bersiap siap untuk pindah diam diam dari rumah itu. Sementara menerka menginap di mansion Hendra sambil membahas rencana besar mereka bersama Arga.
Hendra bahkan memanggil perawat pribadi untuk merawat dan menemani Ratih selama kontrol ke rumah sakit.
Jika hanya sakit karena faktor usia, Keira pastilah sanggup merawatnya. Namun jika kanker, dia takut salah memberikan penanganan.
Keira dan Hendra bersiap menyambut Alex dan Ratih. Keira memasak makanan yang disarankan perawat untuk pasien penderita kanker. Juga pengolahannya yang tidak boleh digoreng ataupun dipanggang.
Arga dan Aretha tiba lebih dulu dari Alex. Meski merasa tidak enak tinggal sementara di rumah bos nya, dia tak punya pilihan. Mau mundur pun mereka sudah menjadi incaran pamannya.
Dia bertahan dan mempertahankan diri demi keselamatan sang ibu.
Mereka hanya membawa pakaian dan surat surat berharga.
Sisanya mereka tinggalkan.
Hendra, Arga, Keira dan perawat pribadi menyambut kedatangan mereka. Sedangkan Aretha tengah menata meja makan.
"Halo bu. Kita ketemu lagi"
"Maaf kami merepotkan kalian. Ibu sudah minta Alex untuk berangkat dari tadi. Tapi dia keukeuh kepingin malam malam" Keira dan perawat mendamping wanita bertubuh ringkih itu.
Mereka langsung diarahkan ke ruang makan sebelum memulai pembahasan.
Suasana hangat tercipta di ruang makan. Tak ada yang protes dengan masakan Keira dan Aretha. Semua menikmatinya dalam obrolan hangat dan candaan.
Tak seperti di rumah keluarga Alex yang selalu tegang karena perebutan posisi dan kekuasaan saat berkumpul.
"Alex, apakah aku masih harus memanggilmu Alex?" tanya Hendra. Mereka para lelaki berkumpul di ruang kerja Hendra. Sedang para wanita sudah berada dikamarnya masing masing karena waktu sudah sangat larut.
Karena besok adalah akhir pekan jadi mereka bisa leluasa membahas hingga pagi.
"Terserah pak Hendra saja. Jika sudah nyaman dengan nama itu saya tak keberatan" jawab Alex.
__ADS_1
"Mulai hari senin, kamu resmi harus mengundurkan diri. Dengan alasan saya yang keberatan dengan sikapmu yang tak menghargai istri saya tempo hari"
Alex menyeringai kaku. Dia merasa malu pernah berlaku kasar dan sarkas pada Keira.
"Kesaksian sebagian karyawan tentang kejadian itu bisa menjadi alibimu. Dan setelah itu kamu tidak perlu bekerja dimanapun. Kita bertindak seperti biasa. Sistem mu menyerang sistem ku tapi sebenarnya itu pengalihan.
Orang orangmu biarkan menggunakan perangkat yang sudah terlacak, tapi mereka tetap harus bersiaga jika sewaktu waktu mereka disergap karena tak bisa menemukanmu.
Kamu kerja di penthouse ku yang tak bisa dilacak siapapun menggunakan perangkat baru-"
"Tapi.." Alex hendak membantah namun dipotong Hendra.
"Coba kamu log in" titahnya menunjuk pada laptopnya.
"Mati?" Alex menemukan laptopnya tak bisa menyala.
"Apa mungkin-"
"Iyap. Flash disk itu sudah membakar software mu" potong Hendra.
Alex lantas spontan melirik lantai 2 dimana Keira baru keluar dari pintu kamarnya.
"Apa liat liat" ketus Keira lagi.
Hendra terkikik dengan kelakuan istrinya yang imut imut itu.
"Bukankah dia imut imut?" tanya Hendra disela kikikannya.
"Ya ampun papa, lagi gini sempet sempetnya bucin" keluh Arga.
"Abis mamamu lucu. Gemes papa jadinya" gelak Hendra.
"Tunggu. Jadi kalian benar benar besanan sebelumnya?" tanya Alex.
"Apa kau tak menghadiri pernikahan anakku?"
Alex menggeleng. Dia tak ada waktu untuk menghadiri pesta.
Keira turun ke lantai dasar dan mendekati Hendra. Lalu membisikan sesuatu kala Hendra tengah menjelaskan langkah selanjutnya.
"Ku tunggu tanggung jawabmu"
Bisikan Keira menggelitik hasrat Hendra yang seketika bangkit.
Hendra lantas memutar kepalanya dan melihat punggung itu menjauh.
"Flo, kamu paling bisa menyiksaku" keluhnya membatin.
__ADS_1