Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Cemburu


__ADS_3

Hendra berhasil menguasai jantungnya. Setelah habis habisan diolok olok sang putri tentunya.


Keira memasak untuk makan malam. Mereka tampak seperti keluarga sungguhan tanpa ada ikatan pernikahan diantara anak anak mereka.


Disela sela obrolan ringan mereka saat makan, Hendra mengutarakan rencananya.


"Kenapa harus kuda pa? Retha kan gak suka. Bau" rengek Aretha.


"Kamu dulu suka kuda poni kan?"


"Iya tapi karakter dalam gambar, bukan asli nya" Aretha terus menggerutu.


"Ya gak apa apa kalo kamu gak suka. Nanti papa bikinin rumah nya agak jauhan aja"


"Lagian kenapa sih keukeuh banget miara kuda? kek orang tua yang lain dong. Miara burung kek, atau ayam gitu?"


"Lah dipikir papa babeh bersarung apa mainannya burung? Lagian nih ya, berkuda itu salah satu olah raga. Ada cabang olah raganya kan? mana ada cabor berburung, atau berayam" tukas Hendra masih tak mau kalah dengan anak tidak gadisnya ini.


"Terserah papa deh. Tapi janji ya bikin istalnya jauhan dari rumah"


"Iya, bawel"


"Trus mami sama Retha aja. Biar nanti kalo ke kantor sekalian drop mami di toko"


"Udah, mami sama papa aja" celetuk Hendra membuat semua orang serempak menghentikan kegiatan makannya.


"Maksudnya papa yang anter" lanjut Hendra yang merasa keceplosan dengan ucapannya tadi.


"Lagian ngapain juga miara kuda. Orang yang bisa naik kuda kan cuma papa" lagi lagi Aretha menyuarakan keberatannya.


"Kan bisa papa ajarin" tukas sang papa sambil menggigit roti lapis isi daging asapnya.


"Males ah. Tetep aja bau. Mami aja tuh ajarin"


"Iya, nanti mami papa ajarin kuda kudaan"


uhuk


uhuk


uhuk


Keira terbatuk hebat, membuat Hendra reflek mendekat dan menepuk nepuk punggungnya lembut. Sebelah tangannya meraih gelas berisi air.


Aretha yang hampir menyemburkan makanannya karena hampir tersedak juga hanya bisa menutup mulutnya menahan tawa yang juga hampir menyembur.


Sedangkan Arga kebingungan.


Bingung harus bagaimana menanggapi situasi seperti ini. Biasanya dia yang selalu sigap membantu dan menolong mamanya. Tapi sekarang, melihat kedekatan sang mama dengan papa mertuanya, dia yakin tidak sesederhana itu.

__ADS_1


"Tanggung jawab loh pa" tukas Aretha dengan acuh sambil meraih tangan Arga.


"Ayo, sayang. Kita shoping. Baju bajuku udah sempit nih. Kek apartemen mami, ada yang bikin sempit" sarkas Aretha.


"Kan motor kita di kantor, sayang"


"Udah, pake mobil papa aja"


"Trus nanti papa pake mobil apa"


"Masih ada selosin tuh di kandang kuda. Udah yok, buruan. Retha panas lama lama ada disini"


Aretha sengaja ingin memberi waktu bagi mereka. Dia langsung menarik kuat tangan Arga.


"Kamu sadar gak sih mama sama papa punya hubungan lain selain besanan?" tanya Arga sambil memperhatikan jalanan yang cukup padat.


"Kenapa kamu nyimpulin gitu?" Aretha balik bertanya sembari mengunyah camilan yang disediakan sang papa di dalam mobil


"Ya, beda aja. Kek orang pacaran diem diem gitu. Aku risih liatnya" Arga menjawab sambil mendecak. Air mukanya menampakkan ketidak sukaan.


"Kamu.. cemburu?" tanya Aretha yang membaca mimik suaminya.


Arga seketika menoleh namun langsung dia arahkan kembali ke jalanan. Tak mau sampai terjadi kecelakaan dengan mereka.


"Ck. Kamu tuh kalo ngomong asal. Mana mungkin aku cemburu" sanggah Arga.


Aretha mengurungkan tangannya yang hendak memasukan keripik kentang dengan slogan 'Life is never flat' itu, dan menyipitkan matanya.


Arga bergeming.


Meski dia menginginkan mamanya bahagia dengan orang yang bisa tulus membahagiakannya, namun ada rasa aneh kala mengetahui jika ada laki laki yang berhasil singgah di hati sang mama.


Seketika dia merasa akan kehilangan sosok wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.


"Kamu jangan macem macem ya. Kamu udah jadi milik aku. Lagian aku gak kuatir kalo mereka berakhir di pelaminan. Jadi gak usah diem diem kan?"


"Tapi.." ucapan Arga menggantung. Lagi lagi menghentikan aksi kunyahan Aretha.


Arga merasa hampa kala membayangkan kenyataan yang akan dia hadapi kedepannya. Dia tak memikirkan ini sebelumnya.


Kemana keinginannya agar sang mama bahagia?


Aretha terus menilik sikap Arga yang aneh. Selama ini dia tak begitu terlalu protektif terhadap Keira. Dia bahkan menginginkan sang mami bahagia.


Tapi kenapa sekarang dia terlihat aneh? Apa yang dimaksud dengan cinta pertamanya itu benar benar dalam arti secara harfiah? Karena kalau diartikan secara kiasan tidak mungkin Arga bersikap seperti ini.


Pikir Aretha mencoba mendalami hati Arga.


Ya, selama ini Arga selalu menunjukan kasih sayangnya terhadap mami.

__ADS_1


Ya, selama ini Arga tak pernah mengecewakan mami dan selalu mengabdi padanya.


Tapi itu adalah kewajiban semua anak laki laki terhadap ibunya, dan sangat wajar.


Arga pun tak pernah berlebihan memperlakukan mami.


Hanya sekedar peluk dan cium pipi, itu bukanlah sesuatu yang berlebihan, pikirnya lagi.


Dia juga dengan Hendra, sang papa, seperti itu kala mengungkapkan rasa sayang antara anak dan ayah.


"Apa kamu merasa akan kehilangan mami?" tanya Aretha memberanikan diri.


"......."


Arga diam bergeming. Tak bisa menjelaskan isi hati dan pikirannya.


Dia bahkan tak meliriknya sedikitpun.


Tatapan yang mengarah ke depan itu terlihat kosong.


"Hah... kalo gitu aku akan membuat kencan buta buat mereka. Biar masing masing dapet pasangan" Aretha menghela nafas dengan kasar dan memberikan solusi lebih nyeleneh.


"Kencan buta apaan. Kamu tuh bukannya ngasih solusi yang bener"


Aretha tertegun.


Dia heran dengan jalan pikiran suaminya ini yang belum genap 1 bulan dia sandang.


"Jadi menurutmu.. solusi yang bener itu yang gimana? ngejodohin mami sama pengusaha duda yang udah aki aki trus sibuk ngeributin warisan turun temurun. Udah gitu ngejodohin papa sama janda kaya sosialita yang menornya ngalahin badut ulang tahun, gitu?" sarkasnya dengan nada nyinyir.


Arga mendelikkan matanya tak suka dengan yang terlontar dari mulut istrinya.


"Atau kamu mau simpan mamamu buat diri kamu sendiri?" Aretha melanjutkan argumennya dengan nada lirih namun menohoknya.


"Aku akan mundur kalau gitu. Aku gak bisa bersaing sama mami. Turunin aku didepan" tegasnya yang kemudian meraih handle pintu mobil.


Arga seketika diserang panik.


"Sayang, kamu apa apaan sih?"


Arga segera meraih tangan Aretha yang terlihat hendak nekat membuka pintu mobil.


"Udah kita obrolin nanti pas nyampe rumah ya"


Arga menenangkan istrinya yang tengah memancungkan bibirnya.


'Hadeeeh.. yang cemburu siapa coba'


batin Arga.

__ADS_1


YOK SEMANGATIN OTHOR YOK BIAR SEMANGAT UP LAGI


__ADS_2