
"Mamiiii..... ada Retha disinii..." seruan Aretha menggema saat baru saja datang dengan membawa tas dan plastik belanjaan. Sepertinya mereka akan menginap mengingat masalah kantor yang serius dan akan suami dan anaknya bahas.
"Sini sayang, mami di dapur" jawab Keira sambil membolak balik daging diatas pemanggang.
"Waaah.. ada acara apa nih mi, masak steak segala"
"Tau tuh papa kamu. Katanya biar kuat"
"ck papa ya. Baru tau Retha kalo papa se omes itu. Mami hebat"
Keira menepuk lengan atas Aretha karena godaannya.
"Kamu gimana, udah ada tanda tanda mami punya cucu?"
"mmm belom tuh, keknya kita bakal bareng deh" Aretha tergelak membuat Keira kembali melayangkan cap lima jarinya pada lengan atasnya.
Masakan siap, namun para lelaki itu masih berkutat dengan laptop dan argumen mereka.
Keira berinisiatif membawa sepiring makanan untuk Hendra dan sepiring ia minta Aretha yang membawa untuk Arga.
"Aaaaaaa....." titah Keira pada Hendra menyodorkan potongan daging yang dia tusuk menggunakan garpu.
Sambil terus berbicara Hendra membuka mulutnya untuk menerima suapan dari istrinya.
Aretha geleng geleng kepala. Se-sweet itu ternyata papa sama mami nya. Dia biasanya membiarkan Arga menyelesaikan pekerjaannya dulu, barulah mereka makan bersama. Tapi melihat sikap sang mami yang tak mau membiarkan makanan itu dingin ya dia ikut beinisiatif menyuapi Arga.
Sesekali Keira menyeka saos yang belepotan di pinggir bibir Hendra dengan jempolnya lalu dia jilat.
Aretha melihat pancaran cinta di mata Keira untuk sang papa. Dia bahagia papa nya menemukan pasangan yang sangat tulus mencintai mereka berdua. Tak salah dia pernah menginginkannya menjadi ibu sambungnya.
"Kamu yakin ini punya Alex, Flo?" tanya Hendra setelah berhasil membongkar dan menanamkan virus pada flash disk itu.
"Iya lah, kalo bukan punya dia, punya siapa lagi?"
"Emang mami ketemu pak Alex dimana?" tanya Aretha.
"Tangga darurat"
"Ooh.. pasti punya pak Alex pa. Soalnya Retha sering kok liat pak Alex masuk tangga darurat bawa laptop. Mungkin biar gak keganggu. Soalnya jarang kan orang yang lewat situ"
"Lantai berapa ketemunya?" tanya Arga.
"Lantai 7 yaa perbatasan lantai 6 dan 7 sih tepatnya" Keira menjawab sambil mengunyah daging yang sudah ia lumuri saus.
"hmmp.." Keira menahan mulutnya agar tak memuntahkan isinya ditempat. Dia lantas berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
"hoek.. hoek.."
Suara memuntahkan isi perut terdengar nyaring karena pintunya tak ditutup.
Yang berada di ruang tengah saling bertukar pandang.
"Papa awas kalo ngeduluin Retha punya anak" Aretha merajuk karena menduga papanya gol duluan.
Hendra langsung menghampiri Keira dan membantunya meredakan rasa mual dengan memijat tengkuknya dan menyodorkan air hangat.
"Gimana, udah baikan?"
"Udah, dagingnya kurang mateng keknya" keluh Keira.
"Tapi aku tadi makan mateng kok. Mungkin masuk angin?"
"Kamu sih ngajak berendem terus"
Hendra tergelak lalu memeluk Keira dan menciuminya bertubi tubi.
"Ekhem, kerja kerja.. jan pacaran mulu, belom waktunya masuk kandang" sindir Aretha yang melihat kemesraan keduanya.
Perasaan Arga tak sebucin itu padanya.
"Muach" Hendra sengaja mengecup bibir Keira didepan anaknya yang usil. Lalu kembali bergabung dengan Arga.
"Gak pa pa. Mungkin masuk angin tadi kelamaan berenang. Yaudah kita nonton di kamar kamu aja yuk"
"Eh tar dulu, kata Arga masih mau nanya lagi" Aretha lantas menarik tangan Keira kembali ke ruang tengah, bergabung dengan dua kesayangannya.
"Ma, mama mau gak bantuin kita buat ngembaliin flash disk ini ke pak Alex. Tapi usahakan biar pak Alex gak sadar kalo flash disk ini udah kita utak atik"
"Kenapa gak Retha aja? mama males ketemu orang itu lagi"
"Tolong lah ma, ini demi masa depan cucu mama" mohon Arga pada sang mama.
"Yaudah deh iyaa. Nanti mama pikirin"
"Aseeek.. mama emang the best"
"E eh.. gak bileh cium cium istri orang sembarangan ya" sergah Hendra kala Arga hendak mengecup pipi Keira, sang mama.
"Yee ini kan mama Arga pa. Biasanya juga gak pa pa" gerutu Arga yang rindu mengecup ibunya itu.
"Sekarang kamu udah punya sendiri. Mama kamu juga udah sepenuhnya milik papa"
__ADS_1
"Dih, posesifnyaaa gak ketulungan" timpal Aretha.
"Yaa gemana yak, kalo udah kece dari lahir ya gini" Keira mengibaskan rambutnya lalu menyelipkannya kebelakang telinga.
"Aduh aduhh.. Retha dah gak kuat lagi dah, Retha gak sanggup nanggepin tingkah kalian yang absrut"
Keesokan hari seperti rencana, Keira datang kembali ke kantor untuk membawakan makan siang untuk orang orang tersayangnya.
Langkahnya dihadang Alex di depan lobby.
"Kamu. Balikin barangku"
Keira menghentikan langkahnya tiba tiba. Untung saja dia mengenakan sepatu flat. Jika dia memakai heels, sudah pasti akan terkilir.
"Astaga.. bisa pake prolog gak sih kalo nyapa orang, main sosor aja" Keira menyolot. Seperti biasa dia memasang mode perang kala berhadapan dengan mahluk jadi jadian seperti Alex.
"Ck.. gak perlu basa basi. Udah siniin barang ku"
"Barang kamu? emang gak nempel disitu?" mata Keira menyorot pada celana Alex membuatnya reflek menutupnya.
Tanpa mereka sadari, security bernama Solihin tengah memperhatikan mereka. Karena tahu sejarah mereka yang pernah gontok gontokan di tempat ini yang membuatnya mendapat hadiah tendangan di ************, mewaspadai jika kericuhan itu akan kembali terjadi.
Namun dia mengikuti gerakan reflek Alex yang menutup area intinya. Dia segera menghampiri sebelum terjadi perang badar.
"Maaf pak, bu. Mending lanjut di KUA aja langsung, biar-"
"Diem kamu. Najis ke KUA sama orang ini" Keira mengangkat tangannya seolah hendak memukul Solihin.
"Heh, cewek kek samson gini mana ada yang mau" sarkas Alex.
"Ati ati pak. Nanti jatuh cinta" bisik Solihin.
"Diem kamu"
"Ga da manfaatnya ya ngeladenin kalian" Keira segera melangkah lagi, namun tangannya dicekal Alex hingga kotak bekal yang Keira dekap terjatuh dan isinya berhamburan.
"Waduuh.. ada rendang sama sambel ijo ples lalap nya. Pak, mubazir kan pak. Gimana nih, bisa ngamuk si ibu" Solihin terlihat hampir meneteskan air liurnya kala melihat makanan yang berhamburan.
Keira melipat kedua tangannya di dada. Kakunya mengetuk ngetuk lantai. Sudah dia duga pertemuan dengan manusia jadi jadian ini selalu menimbulkan masalah.
"Ma.. maaf, biar sekertaris saya yang ganti. Tapu barang saya-"
"Situ yang jatohin, napa sekertaris situ yang ganti? dasar laki laki gak bertanggung jawab. Ganti sekarang"
"E eh.. kemarin juga kamu yang jatohin laptop saya, saya gak minta ganti. Kenapa masalah sepele gini saya harus ganti? ya impas dong-"
__ADS_1
"Impas? ok impas. Bye"