Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
MisterY


__ADS_3

Hasil sudah keluar, dan menunjukan jika Keira belum hamil dan Keira hanya masuk angin saja.


Pasangan itu tak berkecil hati. Toh usia mereka pun sudah tak muda lagi. Biarlah mereka berharap anak anak mereka yang menghasilkan bocah bocah lucu dan menggemaskan untuk menemani hari hari tua mereka.


"Apa kamu kecewa, sayang?" tanya Keira pada Hendra.


"Kenapa harus kecewa? justru aku sebenarnya khawatir. Usia kita, terutama kamu yang akan mengandung sudah cukup beresiko. Aku gak mau kehilangan lagi cinta yang baru aku rasakan kembali. Hidup menua bersamamu hanya berdua saja sudah lebih dari cukup bagiku. Lagipula kita bisa bebas pacaran, bukan?" Hendra memberi penghiburan pada sang istri.


Keira tersenyum lega mendengarnya. Dia pikir Hendra menginginkan anak darinya.


"Tapi jika Tuhan berkehendak kita punya anak, aku akan mencurahkan seluruh waktu dan perhatianku untuk kalian" tambah Hendra sambil mengecup tangan Keira.


Hendra merangkul bahu Keira dan mengajaknya pulang.


"Bu, ibu masih disini? mana anak ibu?" langkah Keira terhenti kala melihat sosok wanita tadi masih duduk di kursi tunggu.


"Ah iya. Anakku sedang ada keperluan. Katanya cuma sebentar" jawab wanita yang bernama Ratih.


"Apa pemeriksaan ibu sudah selesai?" lanjut Keira.


"Sudah. Baru saja selesai"


Keira tak tega jika meninggalkan wanita tua ini sendirian. Meski disini banyak orang, tapi mereka semua asing.


"Sayang, apa tak masalah kalau kita temani ibu ini dulu sampai anaknya kembali?" tanya Keira meminta izin suaminya.


"Apa kamu tak masalah?" Hendra balik bertanya.


"Sudah, sudah. Tak apa apa. Kalian pulanglah. Mungkin sebentar lagi Alex datang. Tak usah menghawatirkan ibu"


Hendra prihatin melihatnya menunggu sendirian. Meski Alex terlihat sangat perhatian pada ibunya, tetap saja jika wanita tua seorang diri tak bisa ditinggalkan sendirian di tempat umum.


"Kamu tunggu disini ya. Aku keluar dulu sebentar" titahnya pada Keira.


Hendra lantas pergi ke mini market di bagian depan klinik untuk membeli beberapa camilan dan minum. Sekedar tak membiarkan perut mereka kosong.


Hendra kembali lagi dengan kantong belanjaan. Terlihat Keira tengah tersenyum lembut menanggapi obrolan wanita yang bernama Ratih itu.


Hati Hendra menghangat. Seandainya dia memiliki ibu disisinya saat ini, pastilah akan terlihat seperti ini. Mertua dan menantu yang saling menyayangi.

__ADS_1


"Sayang, isi perutmu dulu" Hendra menyerahkan kantung belanjaan pada Keira dan disambut antusias.


Keira membaginya pada Ratih yang terus mengembangkan senyum ramahnya.


"Kalian pasangan yang sangat baik. Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Ratih.


Hendra dan Keira saling bertukar pandang.


"Belum ada sebulan, bu" jawab Keira malu malu.


"Ah, ya. Saya mengerti. Tidak apa apa. Kita tidak tahu apa yang digariskan yang Kuasa. Kuharap kalian langgeng dan bahagia hingga akhir hayat kalian. Kulihat kalian saling mencintai. Ingatlah untuk tidak mudah goyah akan hal apapun. Seharusnya kegagalan dalam hidup kita cukup memberikan pelajaran untuk memperbaiki diri kedepannya" nasihat Ratih bagai air sejuk yang menyirami tanah gersang.


Hendra dan Keira saling melempar senyum. Wejangan yang langka mereka dapatkan dari seorang senior.


"Seandainya Alex saat itu bertemu wanita tulus sepertimu, mungkin kehidupannya kini tak sesepi sekarang. Anak itu, berusaha menutupi rasa sakitnya dengan menjadi seorang pendiam dan pemarah" tatapan Ratih menerawang, menyesali sesuatu. Terasa ada harapan yang dikecewakan.


"Ah maaf. Aku sudah menahan kalian dengan ceritaku"


"Tidak apa apa, bu. Kami sedang senggang. Kami akan temani ibu sampai ibu dijemput" Ratih meraih tangan Keira dan menepuknya.


"Terimakasih. Kalian begitu baik. Seandainya aku punya menantu sepertimu, aku pasti akan tenang meninggalkannya" setitik cairan tampak mendesak keluar dari sudut matanya.


"Ahhh..." tubuh Ratih terhempas ke sandaran kursi. Terlihat lelah.


Hendra menghitung waktu. Ternyata hampir 1 jam mereka menunggu, namun Alex tak kunjung datang.


"Bu, kami antarkan saja ibu kerumah ibu, ya. Biar saya hubungi Alex dan memberitahunya jika ibu kami antar pulang" Hendra berinisiatif menawarkan bantuan.


"Apa kau mengenal anakku?" tanya Ratih kemudian.


"Iya. Dia karyawanku di kantor"


"Ah, ternyata dunia sempit ya. Baiklah, ibu juga sudah lelah. Terimakasih sebelumnya, nak" Keira membantu Ratih untuk bangkit berdiri. Hendra segera mengambil mobil dari parkiran untuk mendekat ke area drop off.


Hendra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia mengikuti arahan Ratih dan akhirnya masuk ke sebuah perumahan ekonomi menengah kebawah. Mereka berhenti didepan sebuah rumah sederhana yang memang cocok untuk ditinggali berdua saja.


Keira menuntun Ratih kedalam rumah. Membantunya membuka kunci dan memapahnya ke kamar.


Ratih memang terlihat sangat kelelahan.

__ADS_1


"Bu, izinkan saya menggunakan dapur ibu ya. Saya akan siapkan makan siang." sopan Keira meminta izinnya.


Ratih hanya mengangguk. Dia sudah tak punya tenaga untuk menjawab. Dan seketika dia pun terlelap.


"Sayang, bisakah kamu membeli beberapa bahan makanan?" pinta Keira karena dilihatnya kulkas hanya menyimpan telur.


Hendra mengangguk. Dia tahu apa yang harus dibeli sesuai arahan Keira.


Tak mungkin Hendra belanja di supermarket yang letaknya cukup jauh. Dia melihat ada warung yang menjual sayuran di belokan depan. Dia lantas mengayunkan kakinya kesana.


Dia membeli bahan bahan yang dipesan Keira yang untungnya masih tersedia meski tanpa daging ayam. Karena di jam segini kualitas dagingnya sudah tidak baik.


"Apa kamu saudaranya pak Alex?" tanya pemilik warung saat Hendra melakukan pembayaran.


"Oh bukan. Saya hanya temannya" jawab Hendra ramah.


"Saya pikir kakaknya. Abis agak agak mirip gitu. Ini masak untuk siapa?"


"Untuk ibunya Alex, tadi kelelahan menunggu di klinik"


"ya ampun. Kasian bu Ratih. Dia menderita kanker serviks. Beruntung anaknya mengurusnya dengan baik"


Hendra pun pamit setelah dirasa cukup mendengarkan sekilas info dari sumber yang tak sengaja dia dengar langsung.


Hendra memberikan belanjaan tadi dan langsung dieksekusi oleh Keira.


Sementara Hendra melihat lihat sekeliling rumahnya, dia cukup penasaran dengan identitas asli Alex.


Hendra menyusuri rak buku dan cukup terkejut.


Untuk seorang direktur pemasaran, Alex cukup rajin mempelajari berbagai bahasa pemrograman, mulai dari tahun 90 an hingga yang paling terkini. Itu dijelaskan oleh koleksi buku pemrograman yang berjejer rapi di rak.


Namun matanya berhenti pada pigura yang berisikan sertifikat penghargaan lomba.


Dia memilikinya juga pada lomba yang sama dan tahun yang sama dengan yang tertera pada sertifikat ini. Namun netranya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Mr. Y"


LANJUT BESYOOOK😆

__ADS_1


__ADS_2