
Keira merasa jadi wanita penghibur yang dicampakkan setelah melayani pelanggan. Tapi dia tak melihat ada lembaran uang diatas nakas.
"Ck.. gini amat yang jadi pe es ka gratisan. Cuma dikasih enak, ga dikasih duit" gerutunya sambil meraih bath robe.
Keira kesal karena tak biasanya Hendra meninggalkannya setelah bertarung. Mereka pasti akan memastikan pasangan mereka yang pertama kali mereka lihat saat membuka mata. Meski salah satunya sudah terjaga, setidaknya menunggu atau membangunkan pasangannya untuk bekerja atau sarapan.
Tapi sekarang Keira merasa hampa kala ranjangnya terasa dingin.
Dia merindukan kehangatan sang suami .
Adeuh adeuuh baru aja main jungkat jungkit dah lebay ngerasa kehilangan🤦🏻♀️
Baru saja Keira membuka pintu kamar, aroma masakan yang tadi Keira masak menguar menggelitik hidung dan perutnya. Dia jadi ingat kalau mereka belum sempat memakan masakan yang Keira buat.
Suaminya pastilah sedang mengurusi makanan itu agar tak terbuang sia sia.
Keira memang mendengar percakapan 2 laki laki dari arah dapur. Dia pikir itu adalah suara anaknya, Arga.
"Sayang, kamu ninggalin aku" ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Karena masih lemas dia lantas merebahkan kepalanya pada lengan yang bersandar pada railing tangga.
Hendra dan Ralph yang mendengar suara Keira terkesiap dan sontak k berbalik dengan kompak menoleh pada asal suara.
Penampilan Keira yang hanya memakai bath robe dengan sedikit tersingkap juga rambutnya yang acak acakan menambah kadar keseksiannya. Membuat para jantan yang tengah menatapnya menelan saliva. Apalagi Ralph yang masih jomblo tak tahu harus melampiaskan pada siapa.
Hendra yang menyadari Ralph yang tak berkedip segera berlari mendekati Keira yang setia merebahkan kepala di railing tangga.
"Sayang, ada tamu. Kenapa gak pake baju dulu?" tanya Hendra lembut dengan dahi mengkerut karena tak suka orang lain melihat sisi seksi istrinya.
"Tamu? kupikir itu Arga. Gendong" manja Keira yang merentangkan kedua tangannya minta di gendong ke kamar untuk berganti pakaian.
__ADS_1
Hendra lantas meraih tubuh itu dan menggendongnya didepan tubuhnya seperti koala. Keira melingkarkan kakinya pada pinggang Hendra lalu mengecup bibirnya sekilas dan memeluknya erat.
Ralph masih menatap tak berkedip hingga mereka menghilang diujung tangga karena pintu kamar mereka yang berada di lantai 2 tak terlihat dari dapur.
glekk
"Toko bunga. Toko bunga yang mana aku bisa nemuin cewek kek gitu?" batin Ralph yang teringat dengan saran Hendra tempo hari.
Mereka kembali turun dengan Keira yang sudah berpakaian piyama panjang. Namun Keira masih digendong Hendra tapi kini posisinya di punggung Hendra.
Ralph menggelengkan kepala. Mereka sangat lengket. Mana ada celah untuk dirinya masuk diantara mereka.
"Apa kalian selalu seperti ini?" tanya Ralph disela seruputan kopi dan menguliti kacang.
"Hn, tentu saja. Agar tak ada celah sedikitpun bagi orang lain yang ingin mengusik rumah tangga kami" jawab Hendra yang menyindir dirinya.
"Ck, setidaknya kasih longgar dikit. Kan seru tuh kalo ada selingan.
Keira menancapkan pisau buah pada meja makan membuat kedua lelaki itu menoleh terkejut padanya. Terutama Ralph yang lupa jika Keira bukanlah wanita yang bisa diajak main main.
"Aku tak suka lalat pengganggu" ucap Keira dingin menatap pada sasaran mata pisaunya.
glekk
Ralph mengurungkan niatnya kala melihat lalat tak berdaya menjadi landasan mata pisau itu.
Hendra tersenyum miring. Dia tak khawatir istrinya tergoda atau sengaja digoda. Yang dia khawatirkan adalah masa depan si penggoda. Entah itu yang menggoda Keira atau yang menggoda dirinya.
"Jadi Ralph, apa kau sudah mendengar soal bibi mu itu?" tanya Hendra mengalihkan kengerian Ralph.
"Ah, iya. Justru aku berterima kasih pada kalian. Wanita ular itu benar benar mengacaukan perusahaan pamanku. Oh iya, sekalian aku ingin meminta tolong padamu untuk membuka kata sandi brankas pamanku itu. Kata sandinya dirubah oleh nenek sihir sehingga anak pamanku tak bisa membukanya. Dia meminta tolong padaku untuk memanggil seorang ahli"
__ADS_1
"Hey, men. Aku bukan tukang kunci. Kau datang pada alamat yang salah"
"Hhh.. ayolah, kau pasti mengerti maksudku" pinta Ralph dengan memelas.
"Key, bujuk suaminu untuk mau membantuku" rengek Ralph pada Keira yang tengah menguliti daging pada tulang iga.
Keira hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya, tanda bukan urusannya.
"Kamu carilah tukang kunci yang lain. Aku kapok berurusan dengan bibimu itu. Terakhir dia menularkan herpes padaku, entah jebakan apa yang ada dalam brankas itu, mungkin gas beracun"
"Serius dia melakukan itu?"
Hendra mengangguk sambil menerima suapan daging dari Keira.
"Berarti kalian pernah.."
"Shut up, Ralph" sergah Hendra yang tak mau membahas kejadian yang memilukan itu.
"Kamu tau aku tak mungkin meladeninya. Hanya saja dia selalu punya trik kotor untuk mendapatkan keinginannya"
"Itu benar. Hanya saja, notaris keluarga kami kesulitan dalam menyelesaikan masalah warisan pamanku. Karena sebagian surat wasiat paman terkunci dalam brankas bersama surat berharga lain yang tak bisa digadaikan siapapun. Hanya saja, siapapun jadi tak bisa mencairkan asset yang paman miliki tanpa sertifikat asli.
Dan yang jadi masalah adalah, kunci brankas itu menggunakan sandi yang terenkripsi. Dan hanya seorang ahli IT yang bisa membukanya"
Ralph menyampaikan apa yang menjadi permasalahan inti dari permohonannya.
"Maksudmu kau membutuhkan seorang hacker untuk membukanya? kenapa tak kau ledakan saja"
"Ya ampun, sayang. Namanya juga brankas ya pasti dari baja dong. Mana bisa ditembus" sela Keira yang menilai suaminya ini kurang fokus.
"Ah iya, kamu benar. Maklum aku masih butuh asupan gizi" kilah Hendra yang mengedipkan sebelah matanya genit pada Keira.
__ADS_1
"Maygat kalian, tolong jangan bertingkah konyol didepan bujangan"